Submitted by PlainBread on

"Bilang aja kamu gak mau nikahin aku!"

"Kata siapa?" Kataku tanpa tedeng aling-aling

"Gak perlu bersilat lidah sama aku. Kalo kamu mau, pasti kamu bakal nikahin aku dari dulu!"

"Bisa jadi" Kataku pelan

"Tuh kan bener! Kamu tuh emang sukanya tebar-tebar pesona. Gak pernah serius sama siapa pun untuk urusan masa depan"

"Oh ya?" Kataku tersenyum

"Pake nanya lagi. Orang kaya kamu tuh, gak pernah tau artinya cinta, artinya sayang, artinya keseriusan, artinya melayani. Lihat aja, dari tulisan-tulisan kamu, sukanya mengkritik pelayanan, mengkritik hamba Tuhan, tapi nikahin aku aja gak pernah mau."

Seperti biasa, kekasihku memanaskan lawan bicaranya. Dia belajar banyak dari diriku.

Aku tersenyum.

"Kenapa senyum?"

"Kalo mau provokasi yah jangan keliatan jelas gitu dong. Sesama bus gak boleh saling mendahului" Dengan jahil aku mencolek pipinya

"Emang bener kan!" Katanya sambil mendelik dan melempar bantal yang dari tadi dia remas-remas ke arahku. Dia melangkah cepat masuk ke kamarnya.

Intonasinya sudah agak tinggi di kalimat dia yang terakhir, pikirku.

Aku mengetuk pintu kamarnya.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuknya lagi.

"Iya, ada apa?" Tanyanya dengan mata yang melotot.

"Itu gak bener." Aku menarik nafas.

"Terserah!" Hembusan angin yang kuat menerpa wajahku. Pintu dibantingnya dengan kuat . Mimpi apa aku semalam sampe kena bantingan pintu, kataku dalam hati.

 

 

Seminggu berlalu.

Tidak ada obrolan, tidak ada sms.

Belum pernah dia marah selama ini. Biasanya cuma 1-2 hari. Tapi biarlah, kalau pun nanti aku telepon takutnya malah tambah runyam. Seperti biasa, dia akan mau berbicara denganku kalau dia merasa saatnya sudah tepat. Baru saja aku memikirkan dia, handphoneku berbunyi.

"Lagi di mana?" 

Gaya bertanyanya selalu seperti itu. Tidak pernah bertanya apa kabar, karena dia pikir pertanyaan apa kabar adalah basa basi. Dan basa basi itu tidak sopan, katanya suatu hari. Kalau tidak menanyakan lokasiku saat itu, biasanya dia akan menanyakan apa yang aku sedang kerjakan.

"Lagi sama Jenny." Telepon genggamku harus aku kepit di antara pundak dan leherku.

"Jenny siapa?"

Dengan terpaksa aku mesti jelaskan lagi, bahwa Jenny yang aku maksud adalah suster setengah baya yang pernah memberikan aku training beberapa tahun lalu, di saat aku masih kuliah di tingkat satu. Aku yakin aku pernah bercerita mengenai tante Jenny ini, terutama setiap aku bercerita mengenai kegiatanku menjadi volunteer di beberapa tempat. Sepertinya dia lupa atau memang selective hearing, alias mendengarkan apa yang hanya dia mau dengar.

"Aku ke sana" Katanya tiba-tiba.

"Ke sini? Mau ngapain?"

"Liat kamu jadi volunteer. Pengen ngecek bener atau gak. Atau kamu jangan-jangan pacaran sama tante-tante tua."

"Hush! Ngomong kok suka sembarangan"

"Kalo kamu komplen, itu artinya bener!"

Aku menyerah.

 

"Bred, ini ada yang cari kamu" Kata suster kepala tepat di belakangku

Aku menoleh.

Dirinya berdiri tersenyum. Kikuk. Ini kali pertama dia ada di rumah sakit ini. Apalagi bersamaku. Belum pernah kami berada berduaan di sebuah rumah sakit.

 

"Lagi ngapain, lu?"

Tanyanya dengan berbisik dalam bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Mungkin takut orang-orang sekeliling akan penasaran apa yang kita berdua bicarakan.

Kadang aku berpikir, dia sangat sering membuka percakapan denganku hanya dengan dua pertanyaan itu: Lagi di mana. Lagi ngapain. Setahun pertama aku mengenalnya, aku pikir dia memang orangnya seperti itu. Ceplas-ceplos. Tapi lambat laun aku belajar. Sebenarnya dia orang yang pemalu, dan tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk membuka dan mengarahkan sebuah percakapan, sehingga hanya dua kalimat itu yang dia selalu gunakan.

Dan karena terlalu seringnya dia memberikan kedua pertanyaan tersebut, aku jadi belajar bagaimana mesti menjawab keduanya dengan tepat. Kalau ditanya mengenai keberadaanku, aku harus memberikan lokasi yang tepat, tidak boleh salah sedikit pun karena bisa memicu perang dunia ke empat (Kata kekasihku, perang dunia ketiga sudah terjadi antara papa mamanya).

Sedangkan kalau ditanya mengenai apa yang aku sedang kerjakan, aku bisa menjawab apa saja. Jawabanku bisa mulai dari lagi bersiap mau meloncat dari atas gedung pencakar langit, sampai bilang lagi berenang di tengah lautan pasifik, dia tidak akan peduli dengan jawabanku.

"Ini, lagi mau ganti popok si kakek itu." 

Aku menunjuk orang tua yang aku maksud dengan ibu jariku biar tidak agak terlihat bahwa aku sedang membicarakannya.

"Hah, serius?"

Seperti biasa, matanya yang mendelik itu selalu menyapaku setiap aku berbicara dengannya. Sering kali aku menyangka bahwa ada jendela bening tepat di tengah kedua mata tersebut. Terlihat cantik sekali.

"Iya, serius. Tumben kamu serius. Biasanya tiap kali aku jawab pertanyaan kamu 'lagi ngapain', kamu gak pernah peduli sama jawabanku. Memangnya kenapa?"

"Kok mau sih?"

Kakinya melangkah agak menjauhi diriku. Mungkin karena sangsi bahwa aku adalah benar kekasihnya. Atau karena bau rumah sakit yang khas sudah hinggap di pakaianku.

Aku tidak menjawabnya. Tapi berjalan menjauhinya, yang mau tidak mau membuat dia mengikutiku. Tidak ada yang dia kenal di tempat ini kecuali diriku.

 

Sambil menggunakan bahasa ibu si kakek, aku perkenalkan dia dengan beliau. Si kakek yang sudah lumpuh setengah badan selama lima tahun terakhir ini. Dan mesti keluar masuk rumah sakit karena tubuhnya yang semakin melemah. Aku juga menceritakan betapa dia merasa menderita karena rumah jompo tempat dia tinggal tidak memberikan pelayanan yang memadai untuknya. Itu sebabnya masuknya dia ke rumah sakit kali ini adalah akibat hal tersebut. Tidak ada yang menolongnya ketika dia terjatuh di kamarnya di rumah jompo itu. Dia mencoba berdiri sendiri selama beberapa jam, tetapi usahanya malah membuat penderitaannya bertambah parah. Mengantarkan dia masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya.

Setelah memperkenalkan dirinya ke si kakek, aku mulai membuka celana si kakek, kemudian diaper beliau. Baik celana dan diaper yang dia pakai ternyata sudah basah kuyup. Baunya sangat menusuk hidung karena air kencing dan tahinya yang ada di dalamnya bercampur menjadi satu, membuat dia yang tadi berdiri di sampingku tiba-tiba melangkah mundur.

Aku tidak tahu bahwa dia sudah ada di belakangku, tidak sengaja menabrak badannya, dan membuat diaper tersebut jatuh di lantai.

Sudah bisa diduga. Karena aku bukan pegawai tetap di rumah sakit tersebut, aku tidak seperti suster yang bisa membungkus diaper bekas dengan baik sehingga tidak menimbulkan bau ke mana-mana. Sebaliknya, diaper beserta isinya berserakan di atas lantai.

"Sorry ..." Katanya memandangku seakan memohon. Keliatan sekali dia lemas melihat kejadian seperti itu.

Aku tersenyum.

Dengan tetap memakai sarung tangan, aku membersihkan tahi si kakek yang ada di lantai.  Lumayan banyak. Setidaknya ada 2-3 genggaman tanganku yang mesti aku kumpulkan.

 

Timbul niat jahilku.

Aku pegang semua yang bisa aku kumpulkan. Tahi itu tepat berada di tanganku. Menumpuk bagaikan es krim coklat yang sangat padat. Dan dengan perlahan aku melangkah mendekati dirinya yang memilih untuk duduk di kursi di pojok tembok.

"Eh kamu mau ngapain?" Katanya setengah berteriak.

Aku tersenyum. Bukan. Bukan tersenyum. Aku pasti kelihatan seperti orang yang sedang menyeringai.

Kalau ada orang melihat situasi seperti ini, dia pasti menyangka bahwa aku akan memperkosa kekasihku. Karena dia menarik badannya semakin dekat ke arah tembok sambil aku mendekatinya terlihat seperti orang yang mau berbuat kejahatan.

 

"Kamu tahu ..." Kataku membuka percakapan sambil lenganku terulur ke depan dan telapak tanganku tetap menjaga agar tahi si kakek tetap bisa menumpuk stabil di atasnya.

"... minggu lalu kamu ngomong pernikahan. Ngomong soal cinta. Ngomong soal melayani. Ngomong soal keseriusan. Kamu mau tahu yang namanya cinta? Yang namanya melayani? Yang namanya keseriusan? Itu semua ada di tanganku sekarang. Tahi ini adalah lambang cinta. Lambang pelayanan. Simbol Keseriusan."

"Kamu bayangkan, nanti kita akan punya anak. Kita akan sangat sering berurusan dengan yang namanya tahi. Begitu juga kalau orang tua kamu atau orang tua aku sudah jompo seperti kakek ini. Kita juga mesti berurusan dengan tahi. Kamu mau menceritakan soal pelayanan kamu bertahun-tahun jadi guru sekolah minggu? Salut buat kamu. Tapi kalau saya mau membayar seorang guru untuk mengajar anak saya nanti, saya gak perlu menikahi siapa pun. Saya mau menikahi orang yang siap dibawa terbang ke awan-awan, dan siap untuk terjun ke neraka yang paling bawah. Penuhilah keingintahuan saya, apakah kamu orangnya. Sentuhlah tahi ini."

Lenganku makin mendekat ke arahnya, seiring dengan kakiku yang tetap melangkah mendekatinya dengan perlahan. Mukanya terlihat agak pucat. Mungkin dia kaget ternyata bahwa semua yang dia bicarakan minggu lalu, aku bawa semuanya itu ke tingkat yang lebih jauh dan lebih dalam.

Mukanya semakin pucat. Dan tampak dia semakin kuat menggigit bibirnya. Matanya yang mendelik tidak lagi tampak cantik di depanku.

Tiba-tiba badannya terjatuh seperti bantal yang tidak berkapas. 

Dia pingsan.

 

"Sialan!" Makiku dalam hati.

Ternyata kekasihku tidak siap menikah.