My Honey sedang duduk di ranjang sambil menonton sinetron yang disukainya. Dengan perlahan saya hampiri dan berbisik, ”Honey, sorry aku telah berzinah.” Dia terpaku. Keningnya berkerut. Butir-butir air mata muncul di sudut matanya, perlahan merayap turun membasahi pipinya. Dengan lirih dia bertanya, “Sejak kapan? Dengan siapa?” Saya tatap matanya yang sembab. Setelah menghela nafas dalam-dalam saya menjawabnya, “Setelah aku merenungkan Matius 5 ayat 28; dan dengan KAMU!”
Tiba-tiba tubuh saya dihujani pukulan bantal yang bertubi-tubi, sampai saya berteriak, “Ampun Honey! Ampuuun!!”
Setelah dia tenang, saya memintanya untuk membaca Matius 5:28, “ Coba kamu perhatikan kata woman dan lust. Bukankah kamu sebagai istri, juga sebagai seorang wanita. Bila aku menginginimu dengan hawa nafsu atau dengan nafsu birahi (lust), bukankah aku sudah berzinah?”
Sahutnya, “Jika demikian, maka semua yang menikah berzinah dong. Mana bisa berhubungan tanpa hasrat. Garing layaooo, garing!"
Saya katakan padanya, "Kita menikah sudah 12 tahun, coba kita bandingkan hubungan kita pada tahun-tahun awal penikahan kita dengan sekarang. Dulu aku menghampirimu dengan perasaan mengasihi, dengan keinginan untuk memberi. Seluruh fokusku hanya untuk menyenangkanmu. Tidak ada keinginanku untuk mencari kenikmatan diri sendiri ataupun untuk memuaskan nafsuku."
Saya tatap mata My Honey lebih dalam, lalu melanjutkan,"Aku tidak pernah menuntut apa-apa darimu. Namun sekarang, aku melakukannya sebagai kebutuhan biologis semata dan tidak jarang hanya untuk relaksasi; pemuas imajinasiku! Tidakkah kamu merasakan bahwa hubungan kita telah menjadi suam? Tidakkah aku telah kehilangan kasih yang mula-mula, kasih pada waktu muda ku?”
Saya meraih tangannya dan menggenggamnya erat,“Honey, aku mau senantiasa mengingat kembali kasih kita yang mula-mula, kasih pada waktu muda kita; maafkanlah aku yang telah berzinah ini.”
Semuanya menjadi hening. Di tengah malam yang semakin larut, dia memeluk erat lengan saya sampai ia tertidur. Saya pandang wajahnya, masih terlihat sedikit air bening di kelopak matanya, sedikit senyum tersungging di ujung bibirnya. Saya kecup rambutnya dan berbisik, “ You are the harbour of my soul.”
Submitted by
M23
on