Dulu aku adalah seorang yang kasar dan setiap perkataan yang keluar dari mulutku adalah perkataan yang kotor. Kalau orang bilang "ngomongnya tidak pake perangko", asal keluar aja seperti orang muntah.
Setiap orang yang mendengarnya butuh kasih karunia untuk bisa tetap bertahan, karena telinganya akan panas dan wajahnya pasti akan menjadi merah, karena menahan emosi yang meluap di hatinya.
Orang2 bilang aku ini sebaiknya mati saja, karena kalau hidup hanya menyusahkan saja. Apalagi mamaku adalah seorang janda yang harus menghidupi kebutuhan 4 orang anaknya, sehingga dia harus kerja dari pagi sampai malam untuk itu semua, tentunya punya anak seperti aku merupakan kutukan baginya.
Tetapi aku sama sekali tidak peduli, sebab yang kutau adalah apa yang kumau (kek iklan aza ya..)
Tetapi semua itu berubah 180 derajat ketika kelahiran anakku yang pertama. Katika kulihat betapa sulitnya proses persalinan itu, antara hidup dengan mati.
Barulah kusadar, bahwa ternyata untuk melahirkan aku, mamaku harus berjuang sampai hampir mati. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan lagi menyakiti mamaku sampai kapanpun.
Tanpa kusadari aku berubah menjadi seorang yang berkata2 jauh lebih lembut dari yang sebelumnya, dan sangat jarang kata2 kasar keluar dari mulutku.
Ternyata setelah aku sadari, aku sudah semakin dewasa, apalagi aku sudah mempunyai anak yang kepadanya aku harus menjadi teladan.
Setelah aku berkeluarga, barulah aku tau makna kehidupan yang sesungguhnya, dan bahwa aku bukanlah aku yang dulu, yang kasar dan suka menyakiti orang lain, tetapi aku yang sekarang adalah seorang pria dewasa, suami dari istriku yang tersayang, juga bapak dari anak2 kami.
Baru aku sadari bahwa sebagai seorang yang dewasa, baik secara usia, tanggung jawab maupun secara moril, aku harus berubah, tidak lagi seperti dulu. Sebagai orang dewasa aku harus belajar menahan emosiku ketika berkomunikasi dengan orang lain, sekalipun orang itu menyakiti perasaanku. Sebagai orang dewasa aku harus tau memposisikan diriku bahwa aku harus lebih bijaksana dalam segala hal, apalagi apabila aku berhadapan dengan orang2 yang usianya lebih muda dariku.
Sebagai orang dewasa, aku harus belajar untuk menata setiap perkataan yang keluar dari mulutku, karena aku sudah tau bahwa hanya dibutuhkan 1 - 2 menit saja untuk merusak suatu hubungan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya.
Sebagai orang dewasa, aku harus tahu bahwa aku dinilai oleh orang lain, dan aku tidak bisa memaksakan keinginanku kepada orang lain.
Sebagai orang dewasa, sampai hari inipun aku masih terus belajar agar aku jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Aku akan terus belajar untuk terus bertambah dewasa dalam segala hal.