Submitted by
Purnomo
on
Kata “cukup” bersifat relatif dan kwalitatif. Tetapi “cukup” bisa dikwantitatifkan dengan memberinya parameter bilangan yang absolut. Misalnya, kita akan berkecukupan apabila memiliki penghasilan Rp.10 juta sebulan. Sayangnya, penentuan bilangan itu dipengaruhi oleh sebuah faktor yang tidak bisa dikwantitatifkan sehingga kata “cukup” kembali menjadi absurd. Bingung? Begini.
- o -
“Motivasi saya melamar pekerjaan ini adalah mencari uang untuk keperluan hidup saya,” kata seorang pelamar kerja dalam wawancara final. Dia fresh graduate. Tetapi selama belum mendapat pekerjaan, ia tidak malu jadi salesman freelance, door-to-door. Ia telah lulus wawancara awal, test kepribadian & kecerdasan dan seluruh nilai kumulatifnya menempatkan dirinya sebagai finalis pertama. Wawancara terakhir ini untuk menetapkan apakah ia berhak mengisi lowongan yang ada, atau ia harus digeser oleh finalis kedua. Dalam wawancara ini juga kembali diulang satu dua pertanyaan yang pernah diajukan dalam wawancara awal untuk melihat apakah ia berbohong pada wawancara awal.
“Berapa banyak yang Anda harapkan?” tanya seorang pewawancara.
“Perusahaan pasti sudah menetapkan jumlah gaji untuk karyawan baru. Dan saya yakin itu cukup untuk saya,” ia mencoba berkelit.
“Karena cukup itu tidak sama untuk setiap orang, katakan dalam angka, berapa rupiah yang Anda katakan cukup tadi. Wawancara ini akan dihentikan bila Anda tidak bisa menjawab pertanyaan ini,” ia dipojokkan.
Ia terkejut keningnya berkerut karena otaknya mulai berhitung. Pertanyaan “berapa gaji yang Anda inginkan” memang sulit dijawab. Anda meminta lebih banyak daripada “tarip” yang telah ditentukan perusahaan, Anda tidak diterima. Permintaan Anda di bawah, langsung disetujui, Anda rugi.
“Satu juta empat ratus ribu rupiah,” akhirnya ia menjawab dengan ragu.
“Pasti angka itu tidak datang dari langit, karena Anda lulus dengan IP bagus.” Selembar kertas dan kalkulator saya sodorkan, “Tulislah rinciannya di sini.”
Ia mulai menulis. Kos 300 ribu, makan 31 hari x 3 x 5 ribu, transpot, pakaian, sabun, sikat dan pasta gigi, rekreasi, tabungan dan seterusnya. Saya melihat tidak ada mark up. Ia teliti, lengkap dan jujur dalam menguraikan kebutuhan hidupnya. Itulah yang ingin kami lihat, prosesnya bukan hasil akhirnya. Setelah selesai ia menyerahkan perhitungannya kepada saya. “Maaf pak, yang benar Rp.1.550.000.”
“Oke, wawancara ini selesai. Di sini selama masa percobaan 3 bulan, pegawai baru mendapat honor Rp.1.400.000,- per bulan. Itu besarnya 75% gaji Anda sebagai karyawan tetap pemula.”
“Jadi saya tidak diterima, Pak?”
“Ya, jika kamu tidak muncul di kantor ini Senin depan untuk menandatangani surat perjanjian masa percobaan.”
—o—
Kapan Anda merasa cukup? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab karena cukup itu relatip. Bukan saja karena berbeda antara seorang dengan yang lain, tetapi bagi 1 orang yang sama juga berbeda untuk kurun waktu yang berlainan. Ketika masih lajang gaji 1.5 juta rupiah itu cukup bagi saya. Ketika beristri, jumlah itu pas-pasan. Ketika memiliki 2 anak, jelas 1.5 juta rupiah tidak cukup. Jadi, arti cukup tidak statis tetapi masih bisa dihitung dan diberi parameter bilangan.
Tetapi teori di atas sulit dilakukan dalam hidup keseharian karena sangat tergantung kepada sikap mental individu dalam menyusun skala prioritas. Setiap orang pasti menempatkan biaya makan sebagai prioritas ke-1. Dengan penghasilan 1.5 juta rupiah sebulan Anda membeli beras yang harganya Rp.5.500 sekilo. Sementara saya merasa harus mengonsumsi yang Rp.7.000,- agar tidak malu bila suatu ketika menawari tamu makan di rumah. Dari kebutuhan primer ini jelas sikap mental setiap orang menentukan variasi bilangan anggaran belanjanya.
Hape saat ini boleh saja dimasukkan sebagai kebutuhan primer bila kita adalah wiraswasta. Di sini hape berfungsi sebagai tool of trade, alat bantu bisnis. Anda dan saya sama-sama punya hape dan tentunya biaya pulsa setiap bulan tidak berbeda jauh. Anda membeli hape seken karena bagi Anda bisa telepon bisa SMS sudah cukup. Tetapi saya membeli hape baru berkamera walau harganya hanya Rp.600.000 lebih mahal dari milik Anda agar saya tidak malu mengeluarkan hape ketika berada di antara teman-teman. Walau perbedaan harga beli tidak signifikan, tetapi sikap mental ketika melakukan pembelian jelas akan membuat perbedaan biaya pengeluaran upgrading yang makin lama makin melebar.
Baru-baru ini saya kenal seorang yang bekerja sebagai sopir dengan berpenghasilan Rp.1.200.000,- sebulan. Ia punya 2 orang anak dan istrinya tidak bekerja. Anak pertamanya kelas 6 di SD papan atas dengan SPP Rp.275.000,- karena pengurus sekolah tahu ia kurang mampu. Sebetulnya ia hanya membayar Rp.125.000 karena gereja memberinya santunan kepada anak ini Rp.150.000 setiap bulan. Saya menyarankan kepadanya waktu anaknya nanti naik ke SMP agar ia memindahkan ke SMP papan bawah yang uang sekolahnya juga Rp.275.000,- Ia bertanya bagaimanakah pemindahan itu bisa mengurangi biaya hidupnya.
Sering kita tidak menyadari bahwa lingkungan di mana kita hidup punya andil besar dalam belanja rumah tangga. Bila kita miskin tentu kita senang bila anak kita dengan beasiswa bisa masuk ke SD papan atas. Tetapi mari sejenak kita merenung. Apakah anak kita mau membawa botol minum dan bekal singkong rebus ke sekolah sementara teman-temannya punya uang saku Rp.5.000,- setiap hari? SD papan atas sering mengajak murid-muridnya wisata kota atau memraktekkan ketrampilan berhitung di mol. Sepuluh ribu rupiah tidak berarti bagi orangtuanya. Tetapi bagaimana dengan kita? Diberi, itu berarti biaya belanja tak terduga. Tidak diberi, bagaimanakah perasaan anak kita bila ada orangtua yang berbelas kasihan sehingga mengulurkan selembar sepuluh ribu rupiah kepadanya?
Bila ia sudah beranjak ke SMP atau SMA, kita bisa lebih megap-megap. Mereka akrab dengan internet. Selesai sekolah mereka ramai-ramai ke warnet dekat sekolah untuk main game on-line. Saya pernah ke warnet ketika mereka ada di situ. Bukan main gaduhnya. Tetapi yang menarik perhatian adalah seorang dari antara mereka yang sibuk seperti office boy. Ia disuruh teman-temannya untuk membeli permen, rokok atau nasi goreng. Ia baru menghadapi monitor ketika seorang temannya sudah bosan bertanding dan memberinya kesempatan menghabiskan pulsanya. Sudah dapat ditebak siapa pelajar yang inferior ini. Mungkin kita sebagai orangtuanya karena tidak sanggup membelikannya pulsa game menghibur diri dengan mengatakan, “Tuhan memberinya kesempatan untuk mulai belajar melayani sesama.” Betulkah demikian?
Tahun lalu saya memuji seorang mantan pelajar SMA karena baru tahun itu SMA-nya lulus 100%. Ini berarti angkatan kamu jauh lebih pandai daripada tahun-tahun sebelumnya, kata saya. “Sama saja, Oom,” katanya. “Kami tahu mata ujian yang sering menjatuhkan adalah Bahasa Inggris. Di kelas kami ada satu anak yang pandai dalam pelajaran ini. Tetapi ia miskin sekali sehingga ia satu-satunya murid yang tidak ikut mendaftar piknik bersama ke Bali. Lalu kami melobinya. Kami minta ia memberi contekan waktu ujian dan kami akan patungan supaya ia bisa ikut ke Bali. Setelah lama didesak akhirnya ia setuju.” Astaga, betapa mahal “biaya” yang harus dibayar oleh pelajar itu agar tetap bisa bersama komunitasnya.
Setelah 2 tahun tinggal di Palembang saya harus mencari rumah kontrak baru. Seorang pengusaha berbaik hati menawarkan rumahnya di sebuah real estate untuk saya sewa dengan anggaran yang saya miliki. Itu berarti saya hanya membayar 25% dari real price. Daripada kosong dan tidak ada yang merawatnya, begitu alasannya memberi big discount. Murah dan tidak ada tambahan anggaran, bukan? Melihat rumah itu kami sekeluarga senang sekali. Ruang tamunya luas, 3 kamar tidur lengkap dengan AC, ada taman di depan rumah. Ketika saya mengukur panjang jendela kaca ruang tamu untuk mengetahui apakah korden lama kami cukup ukurannya, istri saya bertanya, “Apa pantas korden yang dulu kainnya kita beli di Pasar Tanah Abang dan aku jahit asal-asalan dipasang di rumah ini?” Saya terperangah. Juga apa pantas meja kursi tamu kayu milik kami dipajang di atas ubin keramik yang mahal ini? Lalu berapa biaya listrik yang harus kami bayar dengan adanya AC itu? Lantas apa arisan ibu-ibu di perumahan ini sekedar arisan panci atau rice cooker? “Pasti arisan mobil,” jawab istri saya. Jadi? Kami sepakat walau harus mengecewakan anak-anak untuk tidak menyewa rumah itu.
—o—
Jelaslah walau ukuran “cukup” bisa dikwantitatifkan, dihitung dengan bilangan rupiah, tetapi sikap mental kita bisa menjadi faktor kuat yang membuat ukuran kwantitatif ini diabaikan sehingga kata “cukup” kembali menjadi absurd.
Dalam dunia bisnis faktor ini sering muncul. Ketika target penjualan bulan ini hampir tercapai pada minggu ke-3, mendadak saja turun SK revisi target, 20% lebih tinggi dari target semula. Keserakahan (yang tidak bisa dikwantitatifkan) ini mendatangkan penderita kepada salesman yang sudah terlanjur membayangkan kebahagiaan anaknya pada akhir bulan karena telah dijanjikan dibelikan sepeda roda tiga. Apa alasan perubahan ini? Perusahaan kuatir pada minggu ke-4 salesman bermalas-malasan karena tidak perlu menjual lebih banyak lagi. Mengapa tidak dibuat insentif extra bagi mereka yang bisa menjual 10% di atas target yang telah ditentukan? Tambah biaya. Perusahaan tahu ukuran “cukup”nya, tetapi tidak suka berbagi rejeki dengan karyawannya. Perusahaan serakah, karena mencuri insentif salesman yang bukan haknya.
Apakah ini berarti saya menyalahkan Anda bila hari ini harus menutup toko Anda 3 jam lebih lambat karena mendadak saja kedatangan banyak pembeli? Tentu saja tidak. Tetapi apa yang akan Anda lakukan apabila kejadian ini terus berulang setiap hari gara-gara di dekat toko Anda muncul “terminal tiban”? Tuhan menawarkan rejeki tambahan, masa ditolak? Sebagai kekasih Allah saya yakin Anda akan membagikan rejeki ini kepada karyawan Anda. Memberi mereka bonus harian karena pulang lebih lambat daripada biasanya. Bahkan, memberi mereka makanan kecil pada pukul 6 sore, yang biayanya tidak Anda ambil dari gaji bulanan mereka. But be careful, faktor lain yang saya sebut di atas akan muncul pada hari Minggu.
Bisakah Anda berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, cukuplah rejeki yang Engkau berikan kepada saya dari hari Senin sampai Sabtu. Hari ini ijinkanlah saya tidak bekerja. Saya mau berbakti di gereja dan melakukan kegiatan pelayanan untuk Engkau”? Atau Anda akan berdoa begini, “Tuhan, sayang bila keuntungan 100 ribu lewat begitu saja. Ijinkanlah saya buka toko hari Minggu. Biarlah isteri saya saja yang ke gereja. Saya tidak lupa kok titip uang persembahan 50 ribu. Fifti-fifti gitu lho. Ini kan juga kerja pelayanan, untuk membantu renovasi gedung gereja milik Tuhan.”
Jika doa terakhir yang Anda naikkan, tenanglah. Pendeta tidak akan mengatakan Anda serakah. Mungkin beliau lebih aman mengatakan Anda kurang iman daripada mengatakan Anda berdosa agar Anda tidak marah. Kurang iman, karena Anda belum bisa memercayakan hidup Anda 1 tahun mendatang kepada Tuhan Yesus. Sudah lumrah kok, we can trust Him for eternity, but we can't trust Him for the next one year. But I’m sorry, man. I have to say that you are a sinner karena Anda serakah mengambil hari Sabat yang bukan milik Anda.
—o—
Mohon maaf juga bila kisah di awal tulisan saya menyakiti perasaan Anda yang masih berpenghasilan di bawah UMK (Upah Minimum Kota). Anda pasti berpikir betapa bahagianya mereka yang bekerja bersama saya itu. Pasti mereka bekerja keras karena menerima gaji di atas UMK. Tidak akan terpikir oleh mereka untuk slow down atau demo, because they don’t have any problem of life. Begitu juga perkiraan saya, dulu. Kenyataannya?
Suatu hari seorang karyawan administrasi menyampaikan keluhannya.
“Kalau saya hitung-hitung, gaji saya setiap hari hanya 50 ribu, Pak,” kata gadis ini. “Ini jauh di bawah sales promotion girl yang satu hari kerja menerima 90 ribu rupiah. Apa bisa gaji saya dinaikkan? Misalnya, ditambah 25% gitu.”
“Dinaikkan sedikit pun tidak bisa. Tetapi disamakan dengan promotion girl, bisa. Asal kamu mau bertukar tempat dengannya. Dia menempati jabatanmu, kamu jadi promotion girl.”
“Sebagai pegawai tetap?”
“Mana ada espege berstatus pegawai tetap? Ada promosi baru ada promotion girl. Itu pun tidak harus orang yang sama, bisa diganti-ganti. Mau?”
Tentu saja dia menolak. Sebelum dia keluar dari ruang kerja saya, sempat saya beritahu hampir setiap SPG ingin menjadi pegawai tetap karena lebih pasti penghasilannya. Tetapi saya tahu ia tidak lagi merasa cukup dengan rejekinya karena iri hati terhadap rejeki orang lain. Iri hati yang muncul dari keserakahan, yaitu keinginan memiliki sesuatu yang bukan haknya. Jika ia ingin mendapat hasil lebih, ada jabatan di atasnya yang tidak tertutup bagi karyawan wanita. Sekretaris, programer komputer, staf research, staf pelatihan, staf promosi. Tetapi untuk itu ia harus menambah pengetahuannya. Sayang ia tidak mau menambah ilmunya untuk mendapat hasil yang lebih tinggi. Keinginannya, kerja sedikit hasil banyak. Kelak saya harus berurusan dengannya lagi dan nyaris mengajaknya menghadap Depnaker.
—o—
Ingat tokoh Jack yang pernah saya kisahkan dalam artikel “Pintar Plus”? Wong Palembang ini pernah merepotkan saya karena punya SIM A tetapi tidak bisa mengemudikan mobil. Saya disalahkannya karena di iklan lowongan kerja saya tidak menulis “punya SIM A dan bisa mengemudikan mobil”. Sore itu saya memanggilnya karena ada yang mengadu ia tidak makan siang waktu bekerja di lapangan. Padahal saat itu bukan bulan Puasa. Jangan-jangan ia berpuasa sendiri karena punya masalah berat meniru saya.
“Apa uang makanmu kurang sampai tidak makan siang?” tanya saya.
“Cukup, Pak. Aku tidak ada masalah dengan uang makan atau gaji. Gaji di sini 3 kali lipat dari gaji aku di tempat kerja lama,” jawabnya ber-aku seperti lazimnya orang Palembang.
“Lalu mengapa kamu tidak makan siang?”
“Karena uangnya buat beli susu anak saya.” Ia memang jujur dan bicara apa adanya. Lalu ia bercerita tentang istrinya yang girang banget karena penghasilannya jadi gede sejak pindah kerja di perusahaan baru ini. Bayinya yang biasa mengonsumsi susu bubuk berbungkus kantong plastik tanpa merek dan dimasak campur air tajin sekarang ditingkatkan mutunya. Dia beli susu kaleng merek beken. Celakanya, krismon sedang melanda sehingga hampir setiap minggu susu beken itu naik harga. Terlebih lagi, bayinya makin doyan minum susu sehingga menghabiskan 2 kaleng setiap minggu. Bagaimana tidak pusing, susu untuk bayi gedongan dikonsumsi bayi yang hidup di lorong. Di rumah kontrakan lagi.
“Pasti istrimu beli susu itu di toko dekat rumah,” kata saya. Ia mengangguk. “Susu kaleng itu dibawa pulang ditenteng dalam tas plastik transparan,” tebak saya. Ia nyengir. “Kamu harus minta istrimu bertahap mengganti susu itu dengan yang tidak mahal. Jika tidak, kamu bisa sakit gara-gara tidak makan siang. Dan ini merugikan perusahaan. Apalagi bila kamu mengantuk sehingga mobilmu kecelakaan, kamu bisa dipecat.” Dia melotot. Lalu,
“Setuju, Pak. Berapa hari ini aku sudah berpikir untuk memarahi istri aku. Kebetulan Bapak berpikir sama. Sore ini Bapak ke rumah aku. Bapak aku beri ijin memarahi istri aku. Kalau aku yang marah, pasti dia minta cerai. Kalau nanti aku stres lalu tabrakan, apa Bapak mau tanggung jawab?” katanya.
Sore itu saya terlambat pulang 2 jam. Bukan karena ke rumahnya, tetapi untuk berbincang dengan orang lugu ini. Saya katakan, kesombongan istrinya telah menjadikan gajinya tidak cukup. Ia tidak sendirian. Tetapi, ada orang yang lebih parah. Begitu mendapat penghasilan bulanan yang besar, istrinya langsung mengambil kredit rumah, kredit kendaraan, mengganti perabot rumah tangga dan dapur, berlangganan 4 majalah wanita sekaligus, memiliki 2 kartu kredit dan makan sekeluarga di resto setiap minggu. Tidak lama karyawan ini terpaksa dipecat karena memalsu nota kredit pelanggan. Masih untung tidak dibawa ke polisi karena ia berhasil membereskan hutangnya setelah menjual semua harta miliknya. Lama ia menganggur karena berita aibnya tersebar di seluruh kota.
“Boleh orang menambah belanjanya, Jack. Tetapi pelan-pelanlah. Ibarat orang makan, jangan mendadak ditambah banyak. Bisa pingsan dia. Apa istrimu tidak ingin punya rumah sendiri? Menabunglah untuk uang muka kredit rumah sederhana. Punya rumah sendiri ‘kan lebih bisa dibanggakan daripada menenteng susu kaleng merek beken? Omong-omong Jack, sebetulnya apa sih cita-cita hidupmu?”
“Punya kompo yang bisa karaoke, Pak,” jawabnya langsung dengan mantap.
Saya melongo. Gimana seh, kok enggak nyambung? Orang ngomongin 1 kilometer jauh di depan, dia masih ngeliatin 1 meter di depannya. Suka-suka dialah, cukup enggak cukup itu ‘kan urusan pribadinya. Empat tahun kemudian ketika saya sudah tinggal di Medan dan ditugaskan beberapa hari ke Palembang, saya diajak Jack ke Perumnas Kenten. Dia pamer rumah KPR-nya, 2 rumah tipe sederhana yang disatukan. Tetapi dia lebih membanggakan peralatan audio-videonya yang bisa karaoke, benda yang paling didambakan sejak lulus SMA. Saya disuruh duduk melihat ia berkaraoke di ruang tamunya yang sempit, agar tahu kehebatan peralatan elektroniknya itu. Saya berseru “Wooow”. Bukan untuk suaranya, atau gaya Shah Rukh Khan-nya. Tetapi untuk keberhasilannya mengelola rejekinya. Dia memang orang bodoh, begitu ia sering mengakuinya. Tetapi, ia selalu mau belajar dari orang lain. Juga dalam memroklamirkan “cukup” atas “makanan pada hari ini”-nya yang tentunya melalui perjuangan panjang.
Seperti kata Firman, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Filipi 4:11).
(selesai)