Membaca Blog nya pa Purnama, saya jadi ingin mencoba untuk menulis pengalaman saya.Memang susah untuk memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan, tetapi tidak ada salahnya mencoba seperti kata pa Pur. Ini blog saya yang pertama
Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sejak umur 21 tahun,karena dulu orang tua tidak bisa membiaya saya untuk kuliah jadi saya harus berjuang sendiri mencari uang untuk bisa meneruskan kuliah meskipun akhirnya saya hanya sampai program diploma karena keterbatasan biaya.Saya ber pindah2 pekerjaan dan suatu ketika pada tahun 1994 saya diterima bekerja di salah satu perusahan dari sebuah group perusahaan yang cukup besar dan mengawali dari seorang karyawan biasa tetapi saya menekuninya selama 9 tahun sehingga pada akhirnya saya menjadi salah satu orang kepercayaan direksi untuk mengelola keuangan perusahaan.
Bisa dikatakan posisi saya pada saat itu sangat nyaman dan cukup memuaskan.Tetapi dalam hidup tidak selamanya kita dalam situasi yang nyaman,pada tahun 2003 suami saya yang bekerja di bank terkena PHK karena bank nya "merger" dengan bank lain.
Sementara saat itu kedua anak saya yang 1 lulus SMA dan melanjutkan kuliah dan yang ke 2 lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMA.
Kami berpikir kalau kami tetap bertahan tinggal di Jakarta dengan biaya hidup yang begitu tinggi, ada kemungkinan kami tidak akan bisa menyimpan uang untuk cadangan anak2 kami yang harus terus sekolah. Maka suami memutuskan pindah ke daerah dimana kami sudah memiliki rumah disana
Lalu saya harus memutuskan berhenti dari pekerjaan yang sudah cukup mapan itu,karena saya harus tunduk pada keputusan suami.
Dan atas kebaikan direksi saya di Jakarta, saya ditempatkan di salah satu resort ( milik group perusahaan juga ) yang lokasi nya tidak jauh dari daerah kami tinggal Puji Tuhan, betapa Tuhan itu baik, Dia menyediakan segala yang kuperlu.
Di hotel tersebut pimpinan tentunya tidak sama dengan direktur saya yang di Jakarta,berjalannya waktu terjadi kekacauan di maanagement yang membawahi pengelolaan resort tempat saya bekerja karena resort kami ( ada beberaoa resort yang di kelola oleh management ) yang berada di kepulauan seribu mengalami kebangkrutan sehingga dampaknya tempat saya bekerja ikut ter imbas.
lalu si "owner" menurunkan "orang kepercayaan" nya untuk melakukan perbaikan management dia adalah "seorang nenek" saya katakan seorang nenek karena umurnya memang sudah 65 thn tapi "ya ampun"...meskipun dia seorang nenek tapi bukannya bertobat karena waktu menghadap Tuhan semakin dekat tetapi justru dia semakin jahat.
Kami para pengurus resort diperlakukan sewenang-wenang tanpa dilihat lagi apakah kita bersalah atau tidak, semua dipukul rata, bahkan ada 1 teman saya sampai menjadi "gila". kami menyebut kelakuan dia sebagai "pembunuhan karakter",karena begitu keras dan jahatnya dia kepada kami sehingga kami tidak bisa dan tidak berani melakukan apapun dalam bekerja, semua harus sesuai kehendaknya dia layaknya seorang "mafia perempuan".
Karena saya tidak sejahtera dengan situasi itu, saya nekad "melarikan diri" saya benar2 melarikan diri tanpa harus pamit kepadanya.
Lalu saya mendapatkan pekerjaan baru dimana segala sesuatu yang saya dapatkan jauh melebihi yang saya terima di tempat itu, lalu saya mencoba merenung bahwa ketika saya melewati pergumulan yang sangat berat, ternyata Tuhan sedang mempersiapkan jalan saya untuk mendapatkan yang lebih baik.
Selalu saya katakan kepada suami dan anak2 saya bahwa melalui penderitaan kita didik oleh Tuhan untuk menjadi orang yang lebih kuat menghadapi pencobaan seberat apapun, dan ketika kita menghadapi rintangan yang lain hati kita sudah semakin kuat.
Saya belajar untuk memaafkan "si nenek" atas segala perbuatan yang sudah dia lakukan,karena lewat penderitaan yang dia berikan kepada saya, justru saya mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik yang diberikan oleh Tuhan dan pribadi saya jadi semakin kuat.dan saya katakan dalam hati, saya memaafkan dia.
Seminggu yang lalu, ada teman saya memberi kabar, bahwa ada salah satu mantan pemegang saham tempat saya bekerja di Jakarta dulu meninggal dunia, dia seorang ibu yang baik, meskipun jabatannya yang sudah tinggi tetapi dia selalu berlaku baik kepada semua karyawannya.
Lalu ketika saya menerima kabar tersebut, terpikir dalam otak saya, kenapa si ibu yang baik itu yang meninggal dunia bukan si "nenek" yang jahat itu.
Ketika pikiran itu datang, saya tersadar bahwa, ternyata saya belum bisa menjadi seperti yang Tuhan mau, dan yang seperti Tuhan lakukan bahwa MENGAMPUNI BERARTI MELUPAKAN SEGALA KESALAHAN.
Ketika Tuhan mengampuni dosa kita, dia segera melupakan dosa2 kita.
Tetapi apa yang saya lakukan?...saya mengatakan saya mengampuni seorang tetapi ternyata saya tidak pernah melupakan kesalahan orang tersebut.
Inilah pembelajaran saya, semoga saya semakin bisa belajar dan menjadi seperti yang Tuhan mau.