Aku sering mendengar beberapa pendeta yang berkotbah mengenai ayat atau tema yang sama namun pesan yang disampaikan berbeda. Salah satu misalnya adalah tentang keselamatan. Biasanya pak/bu pendeta bilang begini: Siapa di tempat ini yang percaya bahwa saudara pasti selamat masuk surga tolong angkat tangan...Biasanya sih, hampir semua jemaat termasuk saya angkat tangan. Kalau ada yang tidak angkat tangan komentar pendetanya: "Yang tidak angkat tangan berarti anda tidak yakin bahwa Tuhan Yesus menyelamatkan saudara. Percayalah. kita sudah ditebus dengan darah Yesus dan kita milik Tuhan..dst...dst.....Nah, kalau dengar kotbah begini rasanya hati jadi suka cita karena pak pendeta bilang kita sudah diselamatkan. Aman.
Lalu di waktu yang lain pendeta yang lain atau bahkan pendeta yang sama tadi mengangkat tema yang sama tapi pesan yang disampaikan berbeda. Kali ini pak pendeta mengajak kita merenung sudah layakkah kita diselamatkan? Apakah kita sudah hidup kudus dan menyenangkan hati Tuhan? Lalu jemaat diingatkan untuk introspeksi diri dan bertobat agar kelak tidak ditolak oleh Tuhan saat merasa diri kita sudah diselamatkan ternyata kecele ! Oh oh....jadi belum aman dong.
Tidak yakin sudah selamat salah tapi percaya sudah diselamatkan juga nggak benar, trus sikap yang betul bgm sih?
Kadang aku juga risih kalau para pengkotbah suka bikin becandaan soal jodoh. Salah satu humor tidak lucu yaitu " waktu usia 17 siapa gue, nanti kalau sudah 20an siapa lu, dan kalau sudah 30an siapa aja deh..." biasanya sih jemaat pada ketawa tapi dalam hati aku prihatin lebih2 habis itu kalau pak pendeta suruh angkat tangan " siapa di sini yang belum punya pasangan hidup? ayo jangan malu2 angkat tangan saudara...." Saya perhatikan kalau yang masih muda2 dengan enteng mereka angkat tangan dengan ringan tanpa beban, tapi kadang saya lihat yang usianya(maaf) sudah tidak muda lagi terasa ada beban dan agak ragu2 untuk angkat tangan. Saya cuma mikir kenapa ya mereka harus dibuat malu di depan jemaat. Meskipun saya sudah berkeluarga tapi sebagai wanita saya merasa masalah jodoh adalah masalah yg sensitif bagi sebagian orang. Jadi kalau masih jomblo sementara usia sudah tidak muda terasa ada beban. Saya juga punya teman kuliah wanita yang sampai sekarang belum menikah dan dia bilang curhat ke saya ttg kesedihan hatinya ini.
Masih soal jodoh, biasanya yang masih muda2 dikotbahin untuk cari jodoh yang seiman, hati2 dalam bergaul dsb. Nah kalau ini bagus dan bermanfaat. Tapi anehnya di lain waktu kadang kotbhanya menyindir dan mempermalukan para kaum muda yang datang ke gereja buat cari pacar, cari jodoh dll. Ke gereja sambil melirik2 cari nona cantik, atau cowok cakep? Tujuan ke gereja cuma buat pelarian,mau cari hiburan dll dll Lho???
Kalau bagiku sih malah bagus anak2 muda di jemaat ke gereja sekalian cari pacar daripada dapat jodoh yang tidak seiman di luar sana. Biarin aja mereka sesekali melirik pujaannya di gereja toh mereka masih muda, belum nikah dan suatu saat akan menikah. Kalau yg udah menikah yang lirik sana sini nah...baru deh pak pendeta boleh sindir setajam silet. Terus tentang pergi ke gereja buat cari hiburan, pelarian apapun itu bagiku pribadi, daripada pelariannya ke diskotik, narkoba dll tetap lebih aman dan lebih baik di gereja. Aku yakin mungkin tadinya datang ke gereja dengan alasan2 keliru tsb tapi saat kebaktian Roh Kudus akan sentuh hati dan mengubahkan hati. Tiada yang mustahil bagi Tuhan!
Tapi ada satu tema yang semua pendeta sangat kompak dan pesan yang disampaikan tidak pernah berubah yaitu tentang perpuluhan. Biasanya ayat andalannya adalah Maleakhi 3:10