Sadar kontroversi yang akan ditimbulkan oleh tulisan ini, aku banyak berdoa dan mengkaji ulang. Yah kalo masih kurang, tinggal berdoa dan mengkaji ulang lagi, hehe.
Bermula dari 'keterkejutan yang terduga'ku saat membaca "Eternity in Their Hearts"-nya Bung Don Richadson, lalu "Anak Pendamaian" dan "Penguasa-penguasa Bumi", lalu ketemu dengan diskusi gado-gado bermutu tinggi di SS ini, aku kembali mengubek-ubek ide yang udah bertahun ada dibenak (halah bahasanya…): "Samakah Tuhan yang kita sembah dengan yang juga disembah (beberapa) agama/kepercayaan lain?". Atau setidaknya pertanyaan tadi bisa dibuat lebih spekulatif: "Apakah Pribadi yang dituju oleh niat penyembahan kita dan teman-teman kita itu sama?"
Yang jelas saat menyangkut Tuhan, bung Don menyajikan dengan sangat menarik banyak kisah di berbagai belahan bumi, orang-orang yang tidak kenal kekristenan mengenal (dalam kesamaran, sedikit jelas, bahkan agak jelas) Satu Sosok Yang Agung, Pencipta dan Penguasa Segenap Alam. Lalu samakah Tuhan kita dengan Tuhan mereka? Atau perhaluslah menjadi samakah Pribadi yang dituju oleh niat penyembahan kita?
Mengutip Sulaiman yang berkata "Ia menaruh kekekalan dalam hati mereka (Pkh 3:11)" dan argumen Rasul Paulus menyatakan bahwa Sang Pencipta bukannya diam, namun melakukan banyak hal, supaya "….semua manusia mencari Dia, dan mudah-mudahan dapat menjamah dan menemukan Dia…(Kis 17:27)", Don-bersama aku- percaya bahwa diluar agama kristen pun, banyak orang yang mengarahkan penyembahannya pada Sang Ilah Yang Benar itu. Mengapa? Janji pertama Tuhan akan keselamatan manusia, bukanlah kepada Abraham, atau Daud, melainkan pada manusia pertama (sekalian juga sama ular, hehe):"bahwa keturunannya akan meremukkan kepala ular" (Kej 3:15). Kukira semua orang percaya sepakat ayat ini adalah nubuatan pertama di PL tentang Kristus. Ehmm.. jadi berpikir kenapa Kristus lebih suka menyebut diri-Nya "Anak Manusia" ketimbang "Anak Abraham", atau "Anak Daud", walau kedua nama belakangan juga benar buat Dia…ya Kristus tidak hanya mau mengidentikkan diri dengan janji bagi keturunan Daud, tapi janji bagi semua umat manusia…
Janji ini tidaklah lekang (karena Tuhan yang berjanji), sekalipun setelah peristiwa menara Babel, manusia terserak ke banyak tempat dan masing-masing mengusung budaya baru, aku percaya kekekalan itu masih tertanam di hati tiap mereka, walau sudah tercemari dosa. Kekekalan inilah yang dijumpai Abram dalam diri Melkisedek, yang dijumpai Sulaiman saat mengutip perkataan Agur Bin Yake dan Lemuel (dua orang Masa, keturunan Ismail) di kitab Amsalnya. Yang dijumpai Paulus saat ia memakai cerita Epinemides tentang agnosto theo (Tuhan yang tidak dikenal) sebagai dasar pekabaran injil di Athena. Dan kalau mau membocorkan Don lagi, inilah yang dijumpai Skersfurd saat ia memakai konsep Takkur Jiu legenda suku Santal, dijumpai Don sendiri saat memakai konsep "Anak Pendamaian" suku Sawi untuk mengenalkan mereka pada Sang Anak Pendamaian Sejati. Semuanya bahkan bisa ditambahkan lagi…
Memang tidak menutup mata akan banyaknya penyembahan kearah yang salah dalam banyak kebudayaan. Taylor sang bapak antropolog sekuler, bahkan mengatakan konsep monoteisme bukanlah konsep primitif tentang Tuhan (sayangnya dia selalu menafikan banyaknya fakta yang menyangkalnya). Tapi kita selayaknya merasakan hati Bapa, saat Ia membukakan mata kita. Bahwa Dia bukanlah hak monopolistis orang beragama Kristen, banyak agama dan kepercayaan lain, yang menujukan penyembahannya pada Pribadi yang juga kita sembah…….lalu?
Samakah Tuhan yang kita sembah? Atau perhaluslah… apakah Pribadi yang dituju oleh niat penyembahan kita sama dengan yang dituju teman-teman kita itu?