Submitted by smile on

 Pagi itu aku hampir saja terlambat..nyaris benar. “ wah, kataku..kok wekerku gak berbunyi?” aku bergegas mandi dan setelah itu langsung pergi kegereja.

Untungnya jarak antara tempat tinggalku dengan gereja tidak terlalu jauh…dan setelah sampainya disana, mereka mempersilahkan aku masuk, dan bertanya, “Anda baru pertama kali kesisi, yah?”
“Oh, ya,..” kataku.Silahkan ke lantai dua, untuk mengikuti ibadah,..dan nanti setelah ibadah ada hidangan snake….ucap salah seorang gembala yang menyambutku. “Terimakasih pa”, kataku sembari bergegas ke lantai dua.
 

Setibanya dilantai dua, aku melihat kalau acara sudah dimulai…ada rasa kecewa, karena 

Aku terlambat,..aku bergegas masuk dan langsung membaur dengan jemaat lainnya.
Aku selalu menyukai pray and worship, dan bagian ini yang paling aku suka bila aku ke gereja.
Setelah selesai Pray and worship ( pujian dan penyembahan ), aku mulai mendengarkan kotbah dari seorang pendeta muda,..dia memperkenalkan dirinya sebagai Pendeta Muda.

Aku sangat rindu gereja, dan sampai disana aku benar benar bisa merasakan kedamaian hati, sayangnya semua itu nyaris hilang sewaktu aku mendengarkan kotbah dari PDM tersebut.
Pembacaan ayat nya seperti kereta api ekspress…dan selalu mengatakn “bagi yang mengerti katakan Amin”.

Aku terdiam dan tidak mengatakannya. Karena aku tidak mengerti. Dan dalam hari ini berkecamuk banyak pertanyaan, diantaranya, kenapa PDM ini seperti guru bayaran? Berkotbah seperti sedang mengajar disekolah, mau mengerti atau tidak itu urusan masing masing, yang jelas tugasnya berkotbah selesai.

Kemudian aku juga bertanya dalam hati, bagaimana bila orang tidak mengerti dengan apa yang dikotbahkannya? Kenapa dia hanya berkata “ BAGI YANG MENGERTI KATAKAN AMIN “

Mungkin sudah seharusnya pendeta itu tidak mengatakan kalimat tersebut, jika tetap bersikeras mengatakan kalimat tersebut, kenapa tidak juga ditambahkan, BAGI YANG BELUM MENGERTI, SILAHKAN bla bla bla atau bla.
Namanya juga mengajar,…berkotbah, bukannya sedang kejar setoran untuk menyelesaikan khotbahnya.

Mungkin ini masalah sepele, tapi bila kta renungkan kembali, seharusnya sebagai pendeta harus bisa menjadi teladan bagi jemaatnya. Dan apa yang dipelajarinya disekolah teologia tidak hanya untuk bisa dimengerti oleh dirinya sendiri, tapi agar bisa dimengerti oleh jemaat yang mendengarkan khotbahnya.Sehingga bisa memberkati jemaat dengan firman Tuhan yang disampaikannya.

Semoga ada pendeta yang membaca blog ini, dan bisa memperbaiki citra pendeta lainnya..sehingga apa yang menjadi kegelisan jemaat bisa didengarkan dan bisa dicari jalan keluarnya.
Dan setelah kegelisahan itu sedikit mereda, akhirnya aku tetap beribadah dengan sukacita,dan mendoakan mereka agar bisa diperbaiki dan diberi hikmat oleh Tuhan.
Manusia tak luput dari kesalahan, tapi jangan lah masuk kedalam lubang yang sama, dan berhentilah mengali bisa sudah masuk kedalam lubang…
Sekian…dan semoga bermanfaat…sembari pulang, aku mencoba dulu hidangan yang sudah disediakan, lumayan, belum sarapan karena buru buru.

 

By Smile August 2009