Ini adalah lanjutan kisahku sebelumya. Seperti janjiku, aku ingin
menceritakan sebuah pengalaman dan beberapa pandanganku mengenai keyakinan
Kristen.
Aku memiliki sebuah impian, suatu impian yang sangat besar untuk berkunjung
ke Barat dimana keyakinan Kristen berasal. Para misionaris Kristen sering
menceritakan tentang Negeri mereka dan aku pun sering membaca tentang Negeri
Kristen terutama Amerika Serikat melalui majalah yang mereka bawa ke Jepang.
Aku sangat ingin sekali bertemu dengan orang-orang Kristen disana. Ingin
belajar lebih jauh tentang keyakinan Kristen dan berbagi pengalaman kami di
Jepang bersama mereka. Aku juga sangat kagum dengan Eropa dan Amerika. Mereka
memiliki keyakinan Kristen yang terbukti sangat ampuh mengantarkan Negeri
mereka kedalam kemakmuran dan kedamaian.
Akhirnya, impianku pergi ke Amerika Serikat terwujud juga. Saat sampai di
pelabuhan, betapa terkejutnya diriku. Kemudian ketika aku tinggal beberapa hari
disana betapa sedih dan kecewa sekali diriku. Ternyata selama ini aku merasa
ditipu oleh misionaris yang datang ke Negeriku. Mereka telah membuat
perbandingan yang tidak jujur! Betapa tidak, para misionaris, dalam
majalah-majalah mereka, suka membandingkan yang paling buruk di Negeriku dengan
apa yang paling baik di Negeri mereka!
Sebelummnya aku suka menggambarkan Amerika Serikat sebagai Negeri yang
sangat Kristen. Setidaknya, demikianlah yang diceritakan oleh
misionaris-misionaris Barat kepada kami. Tetapi yang aku temukan sangat berbeda
dari apa yang mereka ceritakan! Di pelabuhan aku sering mendengar para buruh
mengucapkan kata-kata yang tidak patut. Ditiap sudut kota Amerika aku juga
menemukan kenyataan yang amat memilukan! Disana sini merajalela kejahatan,
rasisme, kerakusan akan uang, materialisme, dan bahkan beberapa orang disana
tidak menyukai orang Jepang!
Pengalaman ini membuka mataku akan kenyataan bahwa Jepang tidaklah lebih
buruk dari pada negara Barat dan negara Barat tidaklah lebih baik dari Jepang
hanya karena keyakinan Kristen tidak berasal dari Jepang. Bangsa Jepang juga
adalah milik Tuhan.
Menurutku, cita-cita agama Kong Hu Cu dan Buddha tidaklah kurang mulia jika
dibandingkan dengan cita-cita agama Kristen. Orang-orang Kristen yang paling
tulus sekalipun akan menyadari bahwa ajaran Kong Hu Cu dan Buddha juga
menyimpan esensi yang sangat mulia. Dengan demikian aku mulai memahami bahwa
Allah yang Maha Kuasa juga selalu hadir dan berkarya dalam sejarah Jepang
sebagaimana Dia juga hadir dalam sejarah bangsa-bangsa yang lain. Allah tidak
pernah sedikitpun melepaskan Jepang! Dia tidak pernah membiarkan Diri-Nya tanpa
kesaksian ditengah-tengah orang Jepang sebagaimana Dia juga tidak membiarkan
Diri-Nya tanpa kesaksian ditengah orang Kristen dan Yahudi. Gagasan bahwa
Bangsa Jepang yang kafir seakan-akan kurang dipedulikan Allah jika dibandingkan
dengan Bangsa Inggris atau Amerika yang Kristen adalah gagasan palsu sama
sekali! Allah yang Maha Kuasa, adalah juga Allahnya orang Jepang sama seperti
Ia adalah Allahnya orang Inggris dan Amerika.
Gagasan bahwa seolah-olah orang Inggris, Amerika, Eropa adalah guru dalam
hal Allah dan roh dan bahwa orang Jepang adalah murid-murid, adalah gagasan
yang keliru dan salah secara asasi. Adalah hasil pemeliharaan Allah pula jika
bangsa Jepang menghasilkan orang-orang bijaksana dan beriman seperti Genshin,
Honen dan Shinran (Tokoh-tokoh agama Buddha di Jepang) sebagaimana bangsa
Inggris juga melahirkan tokoh-tokoh seperti Wycliff, Bunyan dan Wesley.
Oleh karena itu, aku mendorong orang Kristen dimanapun engkau berada,
Janganlah kiranya meniru orang Kristen Barat. Apabila seorang Jepang
sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan secara mandiri percaya kepada
Kristus, maka ia adalah seorang Kristen Jepang, dan keyakinan Kristennya adalah
Kristen Jepang. Gagasan ini sangatlah sederhana! Seorang Kristen Jepang
tidaklah menganggap bahwa seluruh agama Kristen adalah miliknya sendiri atau
tidak pula menciptakan suatu agama Kristen yang baru apabila ia memilih untuk
menjadi seorang Kristen. Ia sekaligus adalah seorang Jepang dan juga seorang
Kristen. Dengan demikian ia aku sebut sebagai orang Kristen Jepang.
Kalau seorang Jepang memilih menjadi Kristen, ia tetaplah seorang Jepang.
Sebaliknya, sifat luhurnya sebagai orang Jepang akan lebih menonjol kalau ia
menjadi Kristen. Seorang Jepang yang menganggap dirinya orang Barat tidaklah
merupakan orang Jepang yang sungguh-sungguh dan tidak pula seorang Kristen yang
sungguh-sungguh. Apakah agama Kristen merugi seandainya semangat Samurai ikut
mewarnai keyakinan Kristen?
Tidak! Karena sesungguhnya gagasan mengenai bangsa-bangsa Kristen dan
bangsa-bangsa bukan Kristen adalah sebuah kekeliruan. Yang ada hanyalah
bangsa-bangsa dimana orang Kristen ada didalamnya dan bangsa-bangsa dimana
tidak ada orang-orang Kristen. Kalau demikian, apakah keistimewaan
“Negeri-negeri Kristen” ini? Keistimewaan mereka hanyalah bahwa agama Kristen
disana membuat bayang-bayang menjadi lebih gelap dan yang terang menjadi lebih
terang. Artinya, disana sekaligus terdapat orang-orang yang sungguh-sungguh
baik dan orang-orang yang paling jahat. Sebagaimana Matahari sekaligus dapat
melelehkan zat lilin dan mengeraskan tanah liat, demikian pula kehadiran agama
Kristen sebagai Terang. Maka tidaklah mengherankan bahwa kenyataan itu
menyebabkan kejahatan berkembang sama mujurnya seperti kebaikan. Oleh karena
itu dengan sewajarnyalah kita juga berharap menantikan kejahatan yang paling
buruk dalam keyakinan Kristen.
Lagi-lagi aku harus berhenti sampai disini. Tapi tetaplah semangat. Aku
akan melanjutkan kisahku. Aku tidaklah kecewa dengan Tuhan maupun agama Kristen
melainkan aku menjadi semakin banyak belajar untuk memisahkan kebenaran dari
kekeliruan. Semoga semua tulisanku ini boleh bermanfaat bagi pembaca semua.
Sumber: ”Sejarah
Gereja Asia” oleh Dr. Th. Van den End, Diterbitkan oleh Universitas Kristen Duta
Wacana Yogyakarta, 1980. Ditulis ulang oleh Bern Anthony untuk komunitas
sabdaspace.org. 2008