Submitted by KEN on
Kisah ini berawal dari ketika aku masih kanak-kanak, aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, boleh dibilang aku adalah anak yang paling berbakat di antara kedua saudaraku. Pada suatu malam, ketika itu tepatnya pada tahun 1987, aku masih berusia kira-kira 6 tahun, ketika itu, aku sudah aktif kebaktian sekolah minggu di salah satu gereja di kotaku sebut saja kota SP, karna ibuku adalah dari keluarga kristen. Aku diajak oleh kedua orang tuaku untuk jalan-jalan dan sekalian makan malam di luar, kakakku yang paling tua dibawa oleh kakekku ke kotanya sebut saja kota SK, karna kakakku (laki-laki) adalah cucu tersayang bagi kakekku, jadi hanya akulah yang paling banyak memiliki kesempatan bersama kedua orang tuaku, sedangkan adikku yang paling bungsu (perempuan) ketika itu masih belum dilahirkan dan masih berada dalam kandungan ibuku untuk beberapa bulan. Kebetulan, pada waktu acara jalan-jalan itu, diadakanlah pentas band di kotaku dan ayahku mengajak kami untuk menontonnya sejenak dan aku pun tidak diam, aku merengek ke ayahku untuk menontonnya juga, kebetulan ayahku juga seorang yang berbakat dalam bidang musik dan otomatis dia juga suka untuk acara pentas-pentas band semacam itu. Pada waktu kami semua tiba di tempat pentas band itu dan menontonnya, aku tertarik dengan pemain drumnya dan mataku terfokus dan tertuju pada pemain drum dan drumnya itu, semakin aku memperhatikan semakin aku tertarik dan menyukai dari suaranya, pukulannya, hingga bertanya-tanya dalam hati, "bagaimana ya caranya aku memainkan alat musik seperti itu?". Dan dalam diriku, aku juga tidak tahu dari mana asal-usulnya, secara teori, aku bisa mengikuti pergerakan dan tabuhan drum itu lewat pikiran dan mulut yang aku kiaskan sebagai suara drum dan sama sekali tidak terbesit dalam benakku untuk minta les/kursus atau sebagainya dari ayahku. Setelah itu, setelah kami menontonnya sejenak dan malam semakin larut dan kami pun pulang karna acara makan malam pun sudah kami lakukan.


Keesokan harinya, seperti biasanya aku berangkat sekolah dan diantar jemput oleh ibuku, siangnya aku pulang ke rumah terus makan dan mandi. Biasanya aku disuruh tidur siang oleh ibuku, tapi pada saat itu aku tidak mau tidur siang dan teringat akan pentas band itu malam sebelumnya. Dengan sigapnya dan inisiatif yang muncul dengan sendirinya dalam diriku dengan bergairahnya aku ambil sepasang sumpit di dapur tanpa sepengetahuan ibuku, lagipula saat itu ibuku lebih cenderung di kamar untuk beristirahat karena mengandung adik bungsuku. Setelah sumpit di dapur itu aku ambil, aku tertegun sejenak dan berkata dalam hati. "apa yang bisa aku jadikan bahan pukul-memukul layaknya drum?", pikirku, karena aku takut mengganggu ibuku yang sedang beristirahat dan mengandung adik bungsuku. Akhirnya, aku ingat bahwa di depan ada ruang tamu yang tempat duduknya berupa sofa yang belum lama dibeli oleh ayahku, dengan girangnya aku langsung melompat ke sofa itu dan duduk ke arah yang berlawanan di tempat duduknya yang melengkung antara sisi yang sana dan sisi yang sini, dengan kepercayaan diri seorang kanak-kanak, maka mulailah aku memukul-mukuli senderan sofa bagian atas itu dengan ritme dan ketukan drum seadanya, aku sendiri pun tidak tahu apakah pukulan yang seolah-olah sofa itu yang aku anggap adalah drum itu sudah benar, teratur atau tidak. Sampai beberapa lamanya kemudian dan tanpa sadar waktu, aku pun sudah begitu lama berada di sofa itu dan memukul-mukulinya dan akhirnya aku pun mulai kelelahan dan berhenti beraksi, tapi aku tidak patah semangat, keesokan harinya aku tetap melakukan hal yang sama untuk beberapa hari lamanya ke depan juga tanpa bermain di luar bersama teman-temanku waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, aku diajak ibuku ke kota SK untuk tinggal di kota itu bersama kakek nenekku, aku pun tidak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu hanya karena belakangan itu ayahku dan ibuku sering bertengkar. Singkat cerita, waktu itu usiaku sudah 9 tahun, seperti biasanya aku tetap aktif bergereja sesuai saran dari ibuku, di gereja terkadang aku memberanikan diri untuk ikut kebaktian remaja yang sudah duduk di bangku SMP dan aku masih kelas 4 SD waktu itu. Karna di kebaktian remaja ada tabuhan drum dan alunan musik untuk mengiring lagu puji-pujian, itulah yang membuat aku memberanikan diri dan bersemangat pada waktu itu. Setelah beberapa lama, bisa dibilang setahunan, aku sudah lama mengenal dan mengetahui ada seorang evangelis di gereja itu, aku sering bertanya jawab dengannya tentang Alkitab, dia seorang pengkotbah sekaligus pelayan musik, suatu hari aku menonton mereka sedang latihan musik untuk kebaktian hari Minggu, suatu ketika tiba-tiba dia memanggil aku dan menanyakan bisa tidak bermain musik, aku gelagapan menjawabnya, antara yakin dan tidak yakin bisa tidaknya, tapi beliau memberi semangat, penawaran dan kesempatan untuk supaya aku coba memainkan musik, aku bilang aku mau coba main drum dan beliau pun mengiyakan tanda setuju untuk memberikan kesempatan.


Untuk pertama kali merasakan benar-benar diperhadapkan dengan drum asli aku merasa canggung dan gemetaran sekaligus juga malu-malu karna dilihat oleh banyak kakak-kakak senior yang latihan waktu itu, tapi aku coba menenangkan diri dan mencoba bermain, dan ternyata hasilnya, sang evangelis menawarkan aku untuk ikut latihan di hari berikutnya, begitu seterusnya sampai waktu yang telah ditentukan olehnya, akhirnya aku diperkenankan untuk melayani Tuhan di bidang musik. Hasil latihan cukup menggembirakan dengan kesabaran, kerendah hatian untuk belajar dari kakak-kakak senior dan dari kaset juga dan dari buku-buku, untuk beberapa tahun aku sudah bisa menjadi pemain utama dan namaku dimasukkan dalam daftar group band kakak-kakak seniorku waktu itu sampai beberapa tahun kemudian mereka semua berpisah keluar kota dan sampai aku mendapatkan group band baru dari teman-teman sebaya dalam melayani Tuhan di bidang musik. Riwayatku dalam bidang musik drum cukup mengagumkan, walaupun hanya sebatas di kotaku saja, aku pernah mendapat gelar pemain drum terbaik di kotaku dan mendapat penghargaan dan hadiah sepasang stick drum pengganti sepasang sumpit di masa lalu, dan bila ada acara KKR besar dan acara-acara lain seperti natal dan paskah, aku sangat dipercayakan dan dipanggil untuk melayani musik pada acara-acara tersebut. Aku pernah ke Jepang dengan status kuli pekerja sperpart dalam pabrik mobil, aku juga aktif pelayanan dalam bidang musik dan pengalamanku di situ pun cukup mengagumkan dan menjadi pemain musik terpercaya untuk dipanggil memainkan musik dalam acara-acara khusus pada saat itu.


Saudara-saudara, di dalam hati kecilku berkata dengan perantaraan Tuhan, aku bercita-cita menjadi pemain drum untuk tingkat nasional maupun tingkat internasional dalam aktifitas gereja tentunya, dan doaku semua pelayananku di bidang musik drum bisa menjadi berkat buat orang-orang untuk supaya melihat kemuliaan Tuhan dalam diriku yang diberi talenta sebegitu indahnya yang walaupun di mata-Nya tidak ada apa-apanya sama sekali. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan berkat bagi saudara-saudara. Sola Gracia.