Satu hal yang banyak kupelajari dari ajaran-ajaran beberapa pengkhotbah, baik yang secara langsung aku dengar maupun yang aku dengar melalui media ataupun yang aku baca, bahwa ada semacam hukum kutuk yang secara tidak langsung terkoneksi dengan hukum tabur-tuai. Yaitu bahwa apapun yang diperbuat oleh orang tua, baik itu positif ataupun negatif, akan berimbas secara langsung terhadap keturunannnya. Bahkan ada satu kisah kesaksian dari salah seorang pengkhotbah yang aku dengar bahwa ada seorang anak yang terkena gangguan mental karena bapaknya banyak memiliki dan mempraktekkan penyembahan berhala, selain juga keluarga anak tersebut banyak mengalami ketidakdamaian karena hal negatif tersebut.
Pada mulanya aku mengamini ajaran ini. Sehingga dengan semangat 45 aku terus mengingatkan saudara kandungku dan para sepupuku (terutama sepupu dari pihak bapak) untuk tetap ”terjaga”. Perlu diketahui, dari garis bapak ada semacam ”pola kehidupan”, umumnya bapakku dan hampir separuh lebih saudara-saudaranya (yang berarti pakde, bude, paklik dan bu likku dari pihak bapak) baru bisa memiliki keluarga yang ”establish” setelah melakukan perceraian, artinya rumah tangga mereka bisa tertata dengan baik ketika menikah dengan pasangan kedua, dan bukan dengan pasangan yang pertama. Perkecualian untuk kedua pak likku yang paling bontot, mereka bisa membangun rumah tangga yang tertata dengan pasangan mereka yang pertama, meskipun untuk salah satunya masih ada acara cerai (talak-karena seluruh keluargaku dari pihak bapak masih menganut Agama saudara sepupu hehehehe...), tetapi syukur alhamdullillah pak likku ini masih mau rujuk dengan istrinya, dan sekarang rumah tangga mereka lumayan mantap.
Dulu ketika sangat mengamini ajaran kutuk keturunan ini, aku memahami bahwa yang terjadi di dalam keluargaku ini adalah suatu kutuk, artinya bahwa ”pola kehidupan” yang terjadi pada bapakku dan mayoritas saudaranya adalah akibat dari suatu sebab yang bersifat spiritual. Sehingga dengan tak jemu-jemunya (ciehhhh.....) aku mengingatkan saudara kandungku dan para sepupuku dari pihak bapak untuk tetap menjaga mahligai rumah tangganya dengan pasangan pertamanya meskipun mereka tidak kucekoki dengan ajaran bahwa ”cerai itu haram” karena apa yang mereka anut masih memperbolehkan adanya perceraian. Tapi dengan mengajukan ”evidence based”, aku menggiring pola pikir mereka untuk menyadari bahwa ”pola hidup” yang telah terjadi dalam keluarga kami merupakan hal yang tak wajar dan pasti disebabkan oleh hal yang tak wajar pula.
Tetapi setelah mulai rutin baca alkitab (thanks to Pdt Jusuf BS untuk Alpetnya) aku menemukan bahwa ajaran kutuk keturunan itu kok ga ada dalil nya yang shohih dalam alkitab. Apalagi setelah aku baca Yehezkiel 18, aku semakin yakin bahwa apa yang menyebabkan ”pola kehidupan” itu adalah bukan hal-hal yang bersifat spiritual, tetapi karena adanya persamaan karakter pada bapak dan saudara-saudaranya yaitu stubborn dan ndak mau kalah and ndak mau ngalah, sehingga dapat dipahami bahwa tiap mereka hidup dengan orang baru (pasangan pertama mereka) akan terjadi perang brotoyudho dan perang itu baru akan reda setelah bapak dan saudara-saudaranya mengalami rasa sakit akibat perceraian dan walhasil yang menikmatinya adalah pasangan kedua mereka.
Memang dalam pentateukh ada dijelaskan bahwa Allah akan membalas kejahatan sampai ke keturunan yang nomor 4 (atau berapa tepatnya aku lupa), tetapi aku memahami hal ini sebagai suatu kondisi yang tercipta dari hasil perbuatan itu, yang menyebabkan keturunannya tidak memiliki akses ke problem solvingnya. Dapat dianalogikan, dengan kondisi pendidikan sekarang ini, anak orang miskin akan sangat sulit untuk dapat berprofesi sebagai dokter, karena mereka tidak memiliki akses menuju ke arah situ.
Satu hal yang aku dapat ambil sebagai pelajaran adalah ketika kita tetap menggunakan paham kutuk keturunan, maka apa yang kita lakukan adalah cenderung tidak logis. Boro-boro untuk memperbaiki sifat stubborn yang aku akui menetes ke aku hehehehe... tiap malam malah aku dengan semangat berdoa dengan model mengikat, mematahkan dan mengusir dalam Nama Yesus segala kuasa jahat yang menyebabkan ”pola kehidupan” tersebut. Dan sekarang kupikir-pikir kok ya lucu hehehehe..