Tulisan ini isinya kebingungan. Moga2 ada yang berbaik hati menjelaskan
Dulu pas aku masih SMA, tiap hari Jum'at setelah jam belajar selesai, akan ada semacam persekutuan. Dipimpin guru seni rangkap guru agama pengganti rangkap pendeta.
Pernah dia bertanya, alkitab itu apa? Jawabannya: Alkitab itu ya Firman Tuhan. Bukan "berisi Firman", "sebagian Firman". Waktu itu, aku ga terlalu mikirin, walaupun ada juga keganjalan.
Keganjalanku itu di antara lain, bukankah alkitab itu ditulis oleh manusia? Dan alkitab tuh banyak kan, isinya silsilah keluarga atau kejadian-kejadian naas. Terus, kenapa sih harus ditegaskan kalau alkitab adalah Firman Tuhan?
Dan yang baru-baru ini lahir, adalah kok isinya kaku. Aturan-aturan yang ada di alkitab, begitu dihadapkan pada kondisi manusia, kok rasanya begitu kaku ya?
Ini adalah satu cerita yang judulnya Rumusan dari buku "burung berkicau" - Anthony de Mello SJ, halaman 42:
[spoiler]
Seorang mistik pulang dari padang gurun.
'Katakanlah, seperti apakah Tuhan itu!' tanya orang-orang mendesak.
Tetapi bagaimana mungkin mengungkapkan dalam kata-kata apa yang dialaminya dalam lubuk hatinya yang paling dalam? Mungkinkah mengungkapkan Yang Mahabesar dalam kata-kata manusiawi?
Akhirnya ia memberi mereka sebuah rumusan - begitu kurang tepat dan serampangan! - dengan harapan bahwa beberapa dari antara mereka mungkin akan tertarik untuk mencari sendiri apa yang dialaminya.
Mereka berpegang kuat pada rumusan itu. Mereka mengangkatnya menjadi naskah suci. Mereka memaksakannya kepada setiap orang sebagai kepercayaan suci. Mereka bersusah-payah menyebarkannya di negeri-negeri asing. Bahkan ada yang mengorbankan nyawanya demi rumusan itu.
Orang mistik itupun menjadi sedih. Mungkin lebih baik, seandainya dulu dia tidak pernah berbicara.
[/spoiler]
[spoiler]
Pada suatu hari waktu Tuhan masuk ke dalam surga, Ia heran bahwa semua orang sudah berada di sana. Tak seorang pun dimasukkan ke dalam neraka. Ini merisaukan-Nya, karena bukankah Tuhan harus adil? Dan untuk apa neraka diciptakan, jika tidak dipakai?
Maka Ia berkata kepada Malaikat Gabriel:
'Panggil semua orang ke hadapan tahtaKu dan bacakan Sepuluh PerintahKu!'
Semua orang dipanggil. Malaikat Gabriel membaca perintah yang pertama. Lalu Tuhan bersabda:
'Semua yang pernah berdosa melawan perintah ini, harus segera turun ke neraka!'
Sejumlah orang mengundurkan diri dan dengan sedih pergi ke neraka.
Hal yang sama terjadi pula sesudah perintah yang kedua dibaca ... begitu pula dengan yang ketiga .. keempat ... kelima ... Pada waktu itu penghuni surga sudah jauh berkurang. Sesudah perintah keenam dibaca, semua orang telah pergi ke neraka kecuali seorang pertapa yang gemuk, tua, dan botak.
Tuhan melihatnya dan berkata kepada Malaikat Gabriel:
'Inikah satu-satunya yang masih tinggal di surga?'
'Ya,' sembah Malaikat Gabriel.
'Wah,' kata Tuhan, 'suasana di sini menjadi agak sepi, bukan? Suruhlah mereka semua kembali ke surga!'
Ketika pertapa yang gemuk, tua, dan botak itu mendengar bahwa semua orang akan mendapat pengampunan, ia naik pitam. Dan ia menggugat Tuhan:
'Ini tidak adil! Mengapa dulu hal ini tidak Tuhan katakan kepadaku?'
Nah, ketahuan masih ada seorang Farisi lain lagi yang tersembunyi. 'Anak sulung' yang lain. Orang yang percaya akan ganjaran dan hukuman serta berpegangan teguh pada keadilan mutlak.
[/spoiler]
Salah satu cerita di buku itu, yang berjudul "Ubahlah kitab suci", ada pernyataan:
"Kitab Suci seperti hari Sabat, adalah untuk manusia. Bukan manusia untuk kitab suci."
(aku kasih kutipan yang kurasa penting aja karena kalo kebanyakan ngetik nanti kena masalah copyright lagi hehehe)
Pertanyaanku, apa alkitab itu cukup? Begitu banyak problem yang sepertinya jalan buntu kalo sesuai dengan alkitab.
Apakah standar manusia yang turun? Apakah sebenarnya manusia (termasuk aku) hanya ingin mencari pemahaman yang membuatku merasa nyaman? Yang mempermudah? Yang membenarkan?
Bagaimana seharusnya perasaan kita terhadap Tuhan? Kalau kita sayang pada-Nya bukannya sudah sewajarnya kita ingin menjadi yang terbaik? Tapi sampai batasan mana sebenarnya hukum itu berlaku dan bisa ditegakkan?
Atau cerita-cerita itu menyesatkan? Kalau tidak, bagaimana cara mengambil nilai yang seharusnya? Bagaimana seharusnya hidup dari orang yang mengasihi Tuhan?
Dibilang jangan kaku. Jangan seperti anak sulung. Manusia lebih penting daripada hukum. Patokan hanya pada Firman Tuhan. Alkitab adalah Firman Tuhan.
Tapi masalah-masalah jaman sekarang apa cukup dengan kata "itu ga boleh, itu salah, itu dosa"? Contoh anak sekolah terlanjur hamil. Kalo dia ga aborsi, maka kemungkinan bayi dan ibunya meninggal. Kalo lahir pun belum tentu bisa dirawat dengan baik. Masa depan si ibu gimana? Kalo uda begini, walaupun membunuh itu dosa, bukankah aborsi itu jalan terbaik?
Beberapa orang bilang:
"Semua agama sama saja"
"Tidak penting rutinitas ibadah. Yang penting kita hidup benar"
Apa agama itu? Alkitab? Bagaimana sebenarnya hidup yang berkenan di mata Tuhan? Bagaimana seharusnya kita hidup di dunia? Bagaimana menerapkan kasih dan keadilan?