Submitted by anakpatirsa on

"Sponsor" -- tidak ada dalam kamus teologia, tetapi menjadi istilah standard di sana. Pernah melihat papan pengumuman sekolah teologia penuh tempelan kertas mengandung kata ini. Ada pengumuman tentang keharusan mengirim ucapan terima kasih buat sponsor. Ada daftar mahasiswa penerima sponsor. Serta tidak ketinggalan, segala kewajiban yang berhubungan dengan istilah sponsor ini.

Banyak istilah berhubungan dengan kata ini, seperti "pencari sponsor", "penerima sponsor", atau "sponsor" itu sendiri. Orang yang rindu memenuhi panggilan Tuhan, namun tidak ada biaya serta terpaksa mencari bantuan dari luar disebut "pencari sponsor". Ia lalu akan menjadi "penerima sponsor" bila sudah mendapat seorang "sponsor", istilah untuk orang yang rindu melayani Tuhan tetapi waktu tidak mengijinkannya. (Aku harus berkata banyak orang yang memberikan waktu sepenuhnya untuk Tuhan dan masih juga memberikan uangnya -- hanya satu kata untuk mereka ini, 'ancungan jempol').

Tidak ada yang salah, semuanya saling menguntungkan. Tidak ada yang dirugikan. Pencari dan penerima sponsor bisa kuliah karena sebagai hamba Tuhan ia layak menerimanya. Pemberi sponsor juga bisa merasa tenang, apalagi kalau sudah merasa telah memberi dengan suka rela.

Aku melihatnya di depan kampusku.

Selama ini, dalam pikiran orang kampung yang baru datang dari kampung terpencil seperti aku ini, orang yang mau sekolah teologia tidak terlalu peduli dengan masalah penampilan maupun keuangan. Ternyata salah, banyak dari antara mereka sangat peduli penampilan. Kami yang menurut mereka sedang mempelajari ilmu sekuler punya ejeken untuk ini, "Lipatan celana kalian terlalu licin dan tajam, sehingga bisa mengiris daging." Lalu, untuk masalah yang cukup peka -- uang, mereka kembali membuktikan bahwa Tuhan itu miskin. Sedangkan untuk urusan teknologi, status sosial sponsor bisa dilihat dari seri handphone yang digenggam seorang mahasiswa penerima sponsor.

Aku hanyalah orang tidak tahu diri yang tidak punya cermin di kamar, sehingga kadang-kadang hanya bisa melihat kesenjangan teologia di depan kampus. Kadang-kadang hanya mendengar gosip tentang orang yang datang dari kampung dalam segala kepolosannya, kepolosan terhadap istilah melayani Tuhan. Bagaimana ia belajar bahwa melayani Tuhan kadang-kadang berarti harus minum air putih ketika teman lain hanya kehabisan pulsa.

Kadang-kadang bertanya mengapa ada kesenjangan ini. Mungkinkah ini cara Tuhan menunjukkan mana yang benar-benar datang untuk mengasihi-Nya serta mana yang datang karena tidak ada lagi tempat yang lebih baik, atau karena melihat bahwa sekolah teologia itu murah serta ada sponsornya? Dari atas mungkin Tuhan bisa melihat bedanya dengan mudah, karena pada akhir bulan, satu orang kehabisan pulsa dan satunya hanya minum air putih.

Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya jengkel dengan kata "sekuler" yang diucapkan oleh orang yang mengagungkan kata teologia. Namun, aku mengancungkan jempol buat orang yang telah memberikan dan menyerahkan segalanya untuk Dia. -- Aku tidak akan pernah bisa seperti mereka.