Segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Inilah kalimat yang pernah dijadikan judul buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. All Truth is God's Truth. Kalimat ini menyiratkan bahwa kebenaran adalah SATU. Kalimat ini juga menyiratkan bahwa kebenaran adalah BANYAK. Jadi, apakah kebenaran itu SATU atau BANYAK? Ataukah esensi kebenaran itu SATU namun pemahaman kita terhadap kebenaran itu yang BANYAK? Kalau seandainya pemahaman kita tentang BANYAKnya kebenaran itu benar, bukankah itu seharusnya kembali kepada SATUnya kebenaran?
Manusia bukan kebenaran, karena itu manusia senantiasa ingin mengerti apa itu kebenaran. Kebenaran yang dimengerti harus didasari oleh penyataan kebenaran. Tanpa penyataan, tidak mungkin kebenaran itu dipahami oleh yang BUKAN kebenaran. Wahyu tentang kebenaran adalah syarat mutlak manusia mengenal kebenaran itu sendiri. Apakah Allah mewahyukan kebenaranNya secara keseluruhan atau bertahap telah menjadi polemik dalam dunia teologi. Kita semua tentu akan setuju terhadap pernyataan bahwa ada sisi dari Kebenaran yang tidak diwahyukan kepada manusia. Ada hal yang tersembunyi bagi manusia. Tetapi segala yang diwahyukan, telah JELAS bagi manusia untuk dipahami. Dengan demikian, manusia selalu berusaha memahami, menafsirkan dan menjelaskan penyataan tentang kebenaran. Manusia berespon terhadap kebenaran. Hasilnya adalah suatu respon dalam bentuk ajaran maupun pengertian baik tertulis maupun lisan. Ada yang menyebutkan dalam bentuk agama dan kebudayaan.
Masalah yang paling besar adalah respon bagaimanakah yang paling mendekati kebenaran? Apakah respon terhadap wahyu umum dan wahyu khusus BERBEDA atau SAMA? Bukankah semua manusia telah mempunyai respon menindas kebenaran, sehingga tidak ada satupun yang berhak untuk mengenal kebenaran? Bukankah semua wahyu tentang kebenaran adalah wahyu yang akan menjadi hakim bagi manusia, bahwa tidak ada seorangpun yang mencari kebenaran itu sendiri? Sungguh ironis, mencari kebenaran sekaligus menindasnya. Itulah yang terjadi dengan ciptaan yang telah jatuh dalam dosa. Lalu bagaimana dengan pemahaman manusia itu sendiri dalam hubungannya dengan kebenaran? Bukankah wahyu itu telah nyata bagi manusia? Apakah manusia dapat memahaminya? Seandainya manusia tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin manusia akan dihukum berdasarkan ketidaktahuannya? Manusia dapat mengetahui penyataan Allah di dalam alam. Ini jelas tertulis dalam Kitab Roma.
Roma
1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
Pengetahuan tentang Allah akan menimbulkan berbagai interpretasi yang akhirnya memuncak kepada bentuk AGAMA dan ajaran kepercayaan. Lalu pertanyaan yang penting adalah, apakah ajaran agama memang menyiratkan adanya kebenaran pengetahuan tentang Allah? Apakah Allah Kekristenan juga dikenal SAMA dengan pengetahuan Allah agama lain? Apakah Allah menyatakan diriNYa juga kepada penganut agama lain? Bukankah Allah Tritunggal HANYA menyatakan diriNya dalam agama kristen? Untuk melacak hal ini, maka dibutuhkan studi tentang ajaran agama lain secara serius. Bukankah Alkitab telah CUKUP dalam menyatakan wahyu Allah kepada manusia? Bukankah Alkitab adalah standar tertinggi dalam pengujian segala pengetahuan tentang Allah? Benar sekali. Tetapi juga bukankah Allah telah menyatakan diriNya melalui alam? Apakah wahyu umum tersebut TIDAK mempunyai standar dalam pengenalan akan Allah? Apakah wahyu tersebut terlalu umum? Kitab Roma 1 jelas menyatakan sebaliknya. Allah dapat dikenal melalui ciptaanNya. Pertanyaannya adalah apakah Allah yang dikenal melalui wahyu umum adalah Allah Tritunggal? Allah yang sejati? Untuk menyelidiki hal tersebut, kita harus mencari dua hal yang paling penting :
Apakah Allah pernah menyatakan diriNya kepada bangsa-bangsa dalam sejarah PL dan PB? Apakah ajaran agama lain menyiratkan adanya konsep Allah Tritunggal dalam kitab sucinya dan tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab? ( Sdr Hai-hai pernah menyatakan hal ini sebelumnya)
Di dalam sejarah bangsa Israel, Allah telah memperkenalkan diriNya sebagai Allah mereka. Allah bangsa Israel. Apakah itu berarti bahwa Allah TIDAK PERNAH dikenal oleh bangsa lain? Apakah itu berarti Allah TIDAK PEDULI terhadap bangsa lain? Apakah itu berarti YHWH milik eksklusif bangsa Israel? Allah telah memilih menyatakan diriNya melalui sejarah bangsa Israel secara bertahap. Karena itu kita dapat mempelajari tentang sifat Allah yang sejati dalam Kitab PL dan PB. Apakah dengan demikian, maka Allah tidak pernah menyatakan diriNya kepada bangsa lain? Bagaimana posisi wahyu umum Allah dalam wilayah ini? Apakah wahyu khusus dalam hal ini mempunyai derajat yang lebih TINGGI dalam pengenalan akan Allah? Wahyu Allah itu SATU. Tetapi wahyu Allah itu juga BANYAK. Apakah yang BANYAK bertentangan dengan yang SATU? Tentu saja tidak. Wahyu Allah baik umum maupun khusus adalah SATU. Tidak ada perbedaan derajat. Semua wahyu mempunyai otoritas yang sama. Tetapi pengetahuan wahyu Allah HARUS diuji oleh standar pewahyuan Allah yang paling tinggi, dalam hal ini adalah Alkitab.
SEGALA KEBENARAN adalah KEBENARAN ALLAH
Kebenaran itu SATU. Kebenaran itu BANYAK. Dan pada akhirnya akan kembali kepada SATU. Itulah konsistensi kebenaran. Itulah mengapa semua pemahaman dan sistem teologi harus diuji oleh konsistensi kebenaran. Mengganggap suatu sistem teologi apalagi ajaran satu orang sebagai suatu kebenaran yang tak terbantahkan merupakan suatu sikap kesombongan. Sistem teologi mesti menguji diri dalam kerangka konsistensi kebenaran. Menganggap sistem teologi tertentu sebagai hasil iluminasi dari Allah adalah bertentangan dengan konsistensi kebenaran itu sendiri. Dua hamba Tuhan bisa sama-sama mengklaim menyatakan kebenaran, padahal keduanya saling bertentangan. Karena itu, dua-duanya harus melewati uji konsistensi.
Mari kita bandingkan ketika ada dua pengkhotbah yang sedang menjelaskan Firman Tuhan. Bukankah keduanya akan menyatakan bahwa mereka sedang memberitakan Firman Tuhan? Firman Tuhan yang bagaimana? Apakah kata-kata mereka yang berbeda dengan ayat Firman BUKAN firman Tuhan? Apakah kata-kata mereka yang ketika mengutip ayat Firman baru bisa disebut Firman Tuhan? Kita tentu akan menyatakan bahwa yang penting adalah pernyataan mereka tidak bertentangan dengan keseluruhan Alkitab. Kalau keduanya menyatakan satu perikop ayat dari dua sisi yang berbeda, kita akan menyatakan mereka sedang memberitakan Firman Allah. Kebenaran itu BANYAK, tetapi diuji oleh SATU dan akan kembali kepada yang SATU. Tetapi bagaimana bila dua pengkhotbah menyatakan hal yang sebaliknya? Satu memberitakan A, yang lain memberitakan B, bagaimana kita bisa mengujinya? Kembali kepada SATU-BANYAK tadi. Yang mana standarnya? Tentu SATU Alkitab.
Pertanyaan yang lebih mendalam adalah bagaimana kalau ada pernyataan kitab suci lain yang SAMA ( struktur maupun arti) dengan pernyataan Alkitab? Apakah kita bisa menyatakan bahwa kitab suci lain juga memuat Firman Tuhan? Apakah itu bisa berarti bahwa ada BANYAK kebenaran DILUAR kebenaran SATU Alkitab? Apakah itu bisa berarti BANYAK kebenaran itu akhirnya mempunyai esensi yang sama dengan SATU kebenaran? Bukankah remah-remah roti mempunyai esensi yang sama dengan roti aslinya? Bukankah remah-remah roti tersebut adalah BANYAK kebenaran yang pada akhirnya adalah bagian dari SATU kebenaran sejati?
Matius
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Bukankah keselamatan itu adalah melalui iman? Dan iman itu adalah anugerah? Bukankah dari cerita di atas menyiratkan adanya iman dalam remah-remah roti kebenaran? Segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Kalimat ini sering diaplikasikan dalam kesimpulan teori sains maupun teori logika, namun seringkali tidak berlaku bagi ajaran DI LUAR kekristenan. Apakah masih ada kebenaran remah-remah yang tersisa dalam sejarah bangsa-bangsa selain bangsa Israel? Seandainya masih ada remah-remah, apakah mempunyai kesetaraan yang sama dengan roti aslinya? Seandainya Allah memberikan remah-remah bagi bangsa lain, apakah itu berarti anugerah keselamatan berlaku bagi bangsa lain tanpa perlu mengenal roti aslinya?
NB : Blog ini ditulis sebagai bahan perbandingan untuk tulisan Sdr Hai-hai, MISTERI DUA JALAN KESELAMATAN.