AKU PERCAYA MUJIZAT
Peristiwa ini terjadi pada hari Minggu tanggal 17 Pebruari 2008 yang lalu. Waktu itu kami pulang dari kebaktian di daerah Seturan, dan sepasang suami istri mau ikut menumpang mobil kami sampai di jalan Sudirman. Di dalam mobil, sang suami yaitu pak Tukijo duduk di depan, istrinya bu Tukijo duduk di belakang di samping saya. Biasanya mereka pulang bersama Ibu Zain, tapi karena tadi mereka diwawancara (menceritakan mujizat yang dialami bu Tukijo) di kantor gereja, mereka jadi ketinggalan Ibu Zain. Kami lalu tanya, tadi Ibu Tukijo bersaksi apa. Nah, ibu yang sederhana, dan sudah mulai sepuh (gigi depannya sudah ompong) itu mengisahkan pengalamannya :
Bulan Nopember 2007 yang lalu gereja mengadakan acara Family Weekend di Kaliurang. Bapak dan Ibu Tukijo mendaftarkan diri untuk ikut. Sebelum berangkat ibu Tukijo ke warung untuk membeli sesuatu, namun mendadak pandangannya berputar-putar dan tubuhnya lemas. Ibu Tukijo digotong pulang oleh tetangganya dan terpaksa batal ikut ke Kaliurang. Ibu Tukijo dibawa ke Puskesmas, dan dokter mengatakan bahwa tekanan darahnya tinggi. Kadar gula darahnya juga tinggi. Setelah beberapa hari minum obat, penyakitnya tak kunjung sembuh. Ibu Tukijo dibawa ke rumah sakit yang lebih besar, namun tetap saja obatnya tidak berpengaruh. Ibu Tukijo sempat berpikir, “apakah mungkin Tuhan sudah mau membawaku pulang?”.
Suatu malam ibu Tukijo bermimpi. Dalam mimpinya tersebut ia melihat pak Pudjo pemimpin komunitas sel (PKS)-nya datang, dan mengatakan ”penyakit ibu ini bukan penyakit biasa. Sepertinya ada yang tidak suka pada ibu. Entah karena ibu seorang Kristen, atau karena warung ibu laris.” Ibu Tukijo kaget dan terbangun. Dia melihat jam menunjukkan jam satu malam. Ternyata pagi harinya pak Pudjo benar-benar datang mengunjunginya di rumah. Ibu Tukijo menceritakan mimpinya kepada pak Pudjo. Mendengar ceritanya, pak Pudjo segera mengajak ibu Tukijo dan suaminya berdoa. Ketika sedang berdoa sambil terbaring di tempat tidurnya, ibu Tukijo seperti melihat ada seseorang yang tak dikenalnya ikut masuk dan berdiri di samping pak Pudjo. Orang asing ini ikut berdoa. Dia seorang pria yang gagah, tinggi, besar, berbaju rapi, mengenakan hem lengan panjang dan celana panjang, dan sepatunya mengkilat sekali seperti habis disemir. Orang ini ikut berdoa dalam bahasa roh kemudian menyanyikan sebuah lagu yang merdu sekali dengan suara yang sangat bagus. Ibu Tukijo sempat kagum dan heran, orang ini siapa karena di gereja tidak pernah ada yang menyanyi sebagus itu. Karena pria ini menyanyi dengan suara keras, ibu Tukijo juga sempat kuatir kalau-kalau tetangga-tetangganya terganggu karena hari masih pagi. Lalu ibu Tukijo membuka mata untuk memperhatikan si tamu tersebut. Lho, koq tamu itu tidak ada! Ibu Tukijo memejamkan matanya lagi. Eh, pria itu tampak lagi dan nyanyiannya yang keras juga terdengar lagi.
Selesai berdoa ibu Tukijo menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya itu kepada pak Pudjo. Lalu pak Pudjo bertanya ”kira-kira orang beneran atau bukan, bu?” Ibu Tukijo menjawab, ”kelihatannya koq bukan orang beneran ya, pak”. “Wah, bu, ini pertanda baik. Doa kita pasti dikabulkan Tuhan”, sahut pak Pudjo.
Beberapa hari kemudian pak Pudjo datang lagi dan memberi roti dan anggur perjamuan kudus dengan pesan supaya bapak dan ibu Tukijo melakukan perjamuan kudus setiap hari. Sesuai pesan PKS-nya bapak dan ibu Tukijo melakukan perjamuan kudus setiap hari dirumah. Sementara itu ibu Tukijo masih menderita sakit. Tubuhnya terasa berat dan sakit semua. Kepalanya juga pusing. Apalagi kalau membuka mata, dunia seperti berputar-putar. Suatu malam ibu Tukijo ngelindur (berbicara sendiri dalam tidurnya), pak Tukijo lalu mendoakan istrinya. Tiba-tiba pak Tukijo melihat ada seorang laki-laki memakai baju koko keluar dari tubuh istrinya. Pak Tukijo terus berdoa sampai orang itu pergi menghilang. Paginya ibu Tukijo merasa ngeri waktu suaminya menceritakan penglihatannya, bahwa ada seseorang keluar dari tubuhnya. Namun sejak saat itu ibu Tukijo merasa tubuhnya tidak sakit lagi dan terasa sangat enteng. Hanya pandangannya masih sering berputar.
Suatu hari ketika roti dan anggur untuk perjamuan kudus tinggal untuk 3 hari, saat sedang berdoa pak Tukijo mendengar suara yang menyuruh mengoleskan “pilis” di dahi ibu Tukijo (pilis adalah semacam adonan dari jamu yang biasa ditempel di dahi seseorang). Pak Tukijo sempat bingung, mau cari pilis di mana. Namun Ibu Tukijo merasa yakin bahwa yang harus dioleskan sebagai pilis itu adalah air anggur perjamuan kudus. Jadi pada perjamuan kudus selanjutnya, bu Tukijo minum anggur perjamuan kudus, kemudian disisakan sedikit dan dioleskan ke dahinya.
Sejak itu pandangannya menjadi terang dan normal lagi. Tidak berputar-putar. Sampai hari ini ibu Tukijo sudah benar-benar sehat. Badannya sudah terasa ringan dan nyaman. Sudah sebulan ini dia tidak minum obat apapun, namun tekanan darah dan gula darahnya tetap normal.
Saya takjub mendengar kisah bu Tukijo. Gimana ga percaya? Saya mendengar dan mewawancara mereka sendiri. Apa lagi waktu bu Tukijo melihat tamu yang ikut berdoa dan bernyanyi itu. Saya tanya terus dengan rasa ingin tahu : ”Orangnya seperti apa, bu? Pakai baju apa?” Mereka orang-orang sederhana yang ga mungkin mengada-ada atau ngarang cerita. Sayang saya kelupaan mau nanya warna bajunya.
Itu tadi kisah yang dialami ibu Tukijo.
Mau ngalami mujizat sendiri?
Tapi harus sakit dulu seperti Ibu Tukijo lho!
Mau??
O ya, mungkin kesaksian Ibu Tukijo ini akan dimuat di Warta Jemaat kami minggu depan. Kalau pengen baca, coba besok dicari di sini.