Silet di tangan kananku sudah menyentuh urat nadi berwarna kebiruan yang tampak menonjol menghiasi pergelangan tanganku yang putih pucat. Jantungku berdegup kencang terombang-ambing di antara dua pilihan. Sayat ... jangan, sayat ... jangan, sayat ... jangan, sayat ...! Dan titik-titik darah bermunculan dari torehan yang kusayat secepat kilat. Bukan. Bukan dari nadiku. Aku lemas terpuruk. Mengapa tak berani nekad saja mengakhiri hidupku! Kuhabiskan sisa malam itu dengan hujaman belati di batinku. Sakitnya jauh melampaui perihnya garis-garis merah hasil goresanku.
Aku cuma punya punya ibu, jeritku batinku. Cuma ia satu-satunya milikku! Mengapa ia juga harus dirampas dariku?? Mengapa harus dirampok habis-habisan kehidupanku???
Tiga tahun silam, saat ibuku memutuskan untuk menikah lagi tanpa membawaku serta ... aku menangis, memohon, menghiba, berharap aku tak ditinggalkannya. Namun apalah artinya linangan air mata seorang bocah kelas lima sd? Seiring berputarnya waktu, Ibu makin jarang dan makin jarang lagi menengokku. Ketika kuberanikan diri menyatakan keberatanku ... apalah artinya seberkas rindu seorang bocah kelas enam? Walau begitu aku masih bisa sedikit bernapas lega sewaktu Ibu berkata tak berniat menambah anak. Tak dapat kubayangkan apabila muncul adik baru di antara ibuku dan aku. Sedangkan sebagai anak tunggal saja sudah separuh terlantar aku.
Beberapa waktu kemudian kudapati para tante mulai menggodaku. Aku akan dapat adik baru, kata mereka padaku. Sudah duduk di bangku smp aku waktu itu. Aku tak percaya. Tak mau percaya. Makin gencar pula mereka menggodaku. Aku mulai ragu. Kutatap mata ibuku mencari tahu. Ia cuma tersenyum dan berpaling dariku. Ah, kucoba menghibur diriku, tak mungkin Ibu bohong padaku.
Lalu tubuh Ibu berubah menjadi gemuk. Lambat laun perutnya mulai menyembul. Rasa penasaranku berubah menjadi was-was. Jangan-jangan .... Tapi tetap saja tak kulontarkan pertanyaan dan tak pernah kuterima penjelasan. Hanya fakta yang kian mengungkap apa yang tak terucap. Ahh, akhirnya yang kutakutkan terjadi juga. Hati kecilku berharap Ibu tak kan pernah melahirkan. Biar saja ia hamil selamanya.
Tapi apa mau dikata, sore itu aku disuruh mandi lebih awal karena akan dijemput Om dan Tante. Mobil yang kami tumpangi meluncur menuju RS St. Elisabeth. Di sepanjang perjalanan yang tak kunjung berakhir bibirku terkunci rapat. Kepalaku pening. Perutku sakit. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Aku tak tahu mesti merasa bagaimana mendengar percakapan riang mengenai bayi yang semalam lahir divakum, yang beratnya sekian koma sekian kilogram, yang berjenis kelamin perempuan ... seperti aku. Aku tak tahu mesti bersikap bagaimana nanti saat bertemu ibuku. Dan memang tak perlu mencari tahu. Karena begitu melihat Ibu yang masih terbaring lemah namun sumringah di tempat tidurnya, air mataku langsung tumpah. Ruah. Tanpa bisa kucegah.
Sekarang Ibu sudah bukan milikku, batinku perih. Ibu sudah punya anak baru, ,,, sakit hatiku melihat sang suami yang tersenyum lebar di sisi pembaringan Ibu. Kini telah hadir seorang bayi baru. Saat itu juga aku merasa milikku satu-satunya yang paling berharga direnggut dari kehidupanku. Dan di situ, di ruangan yang penuh dengan manusia itu, aku merasa begitu sendiri. Benar-benar sendiri.
Malam itu aku setengah mati merindukan ayahku. Belum pernah aku merindukannya seperti itu. Sesungguhnya nyaris tak kukenal sosok ayahku. Ia hanya samar-samar hadir di hidupku sampai enam tahun usiaku. Hanya sesekali ia berada di rumah. Sisanya entah dihabiskan di mana. Ingatanku akan ia hanya sebatas masa-masa aku nyaris selalu dihukumnya. Waktu itu takut sekali aku padanya. Sampai-sampai tak pernah tenang hatiku kalau ia sedang berada di rumah.
Tapi malam itu aku benar-benar merindukannya. Benar-benar butuh kehadirannya. Pedih kupanggil-panggil namanya .... Sebenarnya apalah yang kuharapkan? Kepedihan membuat logikaku tak berjalan. Mengharapkannya adalah kekonyolan yang patut ditertawakan. Ia sudah beranak-istri jauh sebelum ibuku mengikuti jejaknya. Anaknya malah lebih banyak. Lalu bagaimana dengan aku?? Haruskan aku tertatih-tatih sendiri mengarungi ganasnya kehidupan??
Ratap, rintih, jerit dan marahku lebur jadi satu malam itu. Dan dalam keputusasaan seorang anak smp ... sebilah silet hitam berkilau yang tergolek di laci bisa sangat menggoda. Aku mau mati saja, pikirku. Perlahan jari-jemariku meraih benda itu dan menaruhnya di pergelangan tangan kiriku. Ayo cepat, tak perlu pikir panjang! ... Tapi aku belum siap mati .... Ayo cepat, satu sayatan dan semuanya selesai! Tak perlu merasakan sakit hati lagi! ... Tapi .... Cepat!!!
Di persimpangan jalan itulah, di antara maut dan kehidupan, memoriku memutar sebuah cuplikan adegan ... guruku ... yang tengah mengajarku, pada suatu siang, di sebuah kelas yang cuma terisi beberapa kepala. Jelas kudengar suaranya berkata,
“ ... iya, Tuhan Yesus mengasihi kita. Dia rela disalib dan mati untuk menebus dosa kita. Mari kita hafalkan Yohanes 3: 16 ,,, “
Itu. Itu saja. Kalimat sederhana yang tak berbunga-bunga. Keluar dari bibir seorang guru agama sd yang paling kuhormati. Itu yang merintangiku melaju ke tempat di mana terdapat ratap dan kertak gigi.
Walau setelah itu masih ada satu-dua percobaan konyol yang kulakukan, Tuhan penuh kasih yang diperkenalkan guruku kepadaku selalu setia menuntunku melalui lembah demi lembah kekelaman menuju terang-Nya.
Terimakasih, Tuhan, atas kasih-Mu ... dan atas kehadiran Ibu Ester di dalam kehidupanku.