"rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr..."
Aku benci huruf 'R'. Kenapa sih huruf itu mesti ada di dalam abjad? Kurasa, bila satu huruf dihilangkan, tak akan ada yang benar-benar keberatan. Gantikan saja huruf itu dengan huruf lain. Atau, ubahlah cara pelafalannya. Aku sudah lelah menjadi bulan-bulanan teman-temanku karena tak dapat melafalkannya.
"Uler melingkar di atas pager bunder sambil muter-muter. Taruhan kamu pasti nggak bisa ngomong begitu! Kamu kan cadel!" Begitu mereka selalu mengejekku. Jengkel benar aku dibuatnya. Paling tidak, hingga di bangku SMU, aku masih harus menikmati posisi menjadi bulan-bulanan itu diam-diam sambil terus berlatih menggetarkan lidahku dan mengucapkan 'rrrrrrrrrrrrrrrr........' yang lebih sering terpeleset mengjadi 'lllllllllllllllllllllll....'
Lihat saja. Suatu saat aku pasti mampu melafalkan bunyi itu dengan baik dan benar menurut standard mereka.
Tapi hingga aku duduk di bangku fakultas sastra, aku belum mampu juga menaklukkan si 'rrrrrrrrrr.........' Agaknya aku memang harus menyerah. Tiada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna. Akhirnya aku harus menerima kebijakan klasik itu.
Anehnya, tak ada seorang pun yang menjadikanku bahan bulan-bulanan lagi di jurusan sastra Inggris itu. Mereka justru memuji 'ketidaksempurnaan' itu.
"Pronunciationmu terdengar alami lho! Lafal 'R' mu bagus deh!" begitu puji mereka. Aku hanya tersenyum kecil sambil mengucapkan kata terima kasih. Adakah mereka tahu, pelafalan yang mereka puji adalah pelafalan yang dulunya selalu menjadi bahan bulan-bulanan?
Ternyata, kelemahanku Dia gunakan menjadi satu titik kuatku di saat yang tepat; saat yang telah Dia rancang. Apa yang kusebut 'kelemahan' ternyata adalah amunisi yang Dia bekalkan padaku untuk ditembakkan pada saat yang tepat. Saat yang Dia inginkan. Ternyata selama ini aku telah salah sangka.
Ah, saat kurenungkan kembali, aku hanya dapat berucap..
"Segala yang Kau ciptakan memang sempurna dan baik adanya!"