Malam hari, seminggu sebelum pernikahan. Kami makan malam bersama, aku dan dia serta seorang yang ia ingin ada bersama kami malam itu, menikmati kebersamaan yang indah. Makan malam yang romantis. Makan malam yang dihiasi dengan keceriaan, tawa dan kisah-kisah indah, sungguh aku tidak akan melupakannya. Sekalipun bukan di tempat yang mewah, hanya sebuah kafe kecil yang berada di tepi pantai dengan lampu remang-remang serta tiupan angin yang menyambut kebahagiaan kami.
Malam itu aku telah benar-benar yakin akan keputusanku untuk menikah dengan pria yang saat ini ada di depanku itu. Aku sudah siap dengan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi pada rumah tangga kami kelak, karena aku percaya dengan itu.
Ia, seseorang yang aku kenal, meski tidak pernah begitu dekat sebelumnya, adalah seseorang yang telah mengisi sebuah ruang kosong di hatiku. Aku menginginkannya berada di sana dan tetap di sana sampai aku tak ada lagi di dunia.
Sungguh kini aku telah jatuh cinta padanya, bukan karena aku telah mengenalnya, tapi karena aku berharap akan mengenalnya selama aku hidup bersamanya. Itulah cinta yang aku miliki.
Namun akan sungguh malang bagi wanita yang mengharapkan sebuah kalimat cinta dari seseorang pria seperti dia, karena dia sepertinya tidak akan mengungkapkan hal itu dengan mudah.
Tapi bagi ku itu bukan masalah, meski aku belum pernah mendengarnya mengungkapkan rasa cinta yang ia miliki dengan kalimat indah yang telah pernah aku dengar beberapa kali dari kekasih-kekasihku sebelumnya, aku akan tetap bahagia. Karena aku percaya ia mencintaiku dengan ketulusan yang ia tunjukkan dengan anggun.
***
Apa sebenarnya yang dapat aku banggakan darinya,
Tampan??
Jika mengukur ketampanannya dengan standarku, ia termasuk orang yang rata-rata, mungkin juga tidak.
Kaya??
Standarku mengatakan tidak.
Pintar??
Standarku mengatakan ia masih rata-rata.
Baik??
Kebaikan kadang menjadi sesuatu yang relatif bagiku, meski saat ini aku berpendapat ia memang baik.
Aku bahkan tidak terlalu mengerti apa yang aku banggakan darinya.
Tapi,
Mungkin saja karena ada seseorang yang ia miliki saat ini, yang aku tahu sangat ia kasihi.
Seseorang yang kini berusia 15 tahun itu, hadir ke dunia karena buah cintanya dengan seorang wanita yang pernah aku kagumi.
Wanita yang sebaya dengan ku itu pernah menjadi sahabatku, sejak 2 tahun terakhir sebelum ia pergi meninggalkan kekasihnya.
Wanita yang selalu tersenyum dan bangga pada kekasihnya hingga ia menutup mata.
***
Sekarang aku sudah yakin akan menikah dengan pria yang telah melamarku itu. Bertiga kami akan membuka lembaran baru dalam keluarga baru.
Aku tidak perduli apa kata orang, karena aku hanya perduli dengan apa yang kini aku yakini.
Selesai