Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Double Esspresso - Be It Unto Me

minmerry's picture

 

border-collapse: collapse; line-height: 14px;"> 24px; line-height: normal;">@Double Esspresso border-collapse: collapse; line-height: 14px;"> 24px; line-height: normal;">

Be it unto me

Hujan.

Kondisi, membatasi semua yang kuinginkan dan kurindukan.

Aku mulai merindukan malam tanpa hujan.

 

Lampu jalan di depan coffee shop sudah dinyalakan. Hujan rintik-rintik terlihat jelas dengan pantulan sinar lampu jalan. Cahayanya sedikit kekuningan, hingga butiran air yang jatuh tidak bening seperti biasanya. Kontras sekali dengan warna coffee shop, ungu. Aku sungguh menikmati pemandangan itu. Butiran yang rapi, yang teratur dengan warna kuning. Seperti kilau serbuk peri.

 

Aku tenggelam dengan buku ditanganku. Sebentar membuatkan espresso untuk beberapa tamu yang datang. Namun, aku kembali dengan halaman-halaman Mitch Albom. The Five People You Meet in Heaven.

Aku sampai pada orang keempat yang ia temui. Istrinya. Ia bertemu dengan istrinya di surga. Dalam ceritanya, istrinya dan keempat orang lainnya yang ia temui, membuatnya mengerti arti kehidupannya didunia.

Agak menyedihkan. Memikirkan akan bertemu orang-orang dimasa lalu, menjelaskan tentang kematian dan kehidupanmu, maksudku.

Suaranya menyadarkanku. Suara yang dalam, suara yang serius.

‘Buku bagus?’

‘Hm hm.’ Ah ya, aku lupa menyebutkan, ia yang membelikanku buku ini. Ia, Glass.

‘Mau bertemu dengan keluargaku? Mereka berada di kota, malam ini. Besok, mereka akan kembali.’ Glass berdiri tepat didepanku. Aku dapat melihat lingkaran hitam samar pada matanya.

‘Akan kucoba. Tidak tahu jam berapa coffee shop akan tutup. Hayden tidak bisa menggantikanku.’

Ada sebersit kekecewaan yang tidak akan pernah ia bahas, muncul dimatanya.

 

***

 

‘Orang tua Glass.’

‘Ya?’

‘Mereka datang.’

So?’

‘Hayd, mereka di kota ini. Coba pikir, aku akan bertemu dengan mereka. Aku, yang kurus, sinis, berada di coffee shop sepanjang hari, akan bertemu dengan orang tua Glass.’ Aku menjelaskan dengan sedikit panik.

‘Dan, mereka membahas Beethoven saat makan malam, membahas gempa di Haiti saat sarapan. Kamu tahu, kamu seharusnya yang bertemu dengan orang tua Glass. Mereka akan menyukaimu.’ Aku tidak mampu mengendalikan kepanikkanku.

Hayden hampir tertawa.

‘Okey, aku terlalu berlebihan.’ Dengan cepat kupakai celemek-ku, dan mengikat rambutku. ‘Aku bingung. Even, ini cuma bertemu orang tuanya. Aku bingung.’

Aku menyimpan buku Mitch Albom itu ke dalam laci, setelah menyelesaikannya. Aku memutuskan, tidak terlalu menyukai buku itu. Seolah membaca nasehat-nasehat dari orang yang sudah mati. Maafkan kesinisanku.

‘Oh ya, tadi apa, Hayd?’

‘Melissa. Tentang Melissa yang mau memberiku kesempatan.’

‘Selamat untukmu, Hayd. Tapi, by the way, apa yang membuatmu yakin dia memberimu kesempatan?’ Tanyaku. Duduk di coffee bar, tepat didepannya.

‘Seperti itu. Tapi segalanya berubah. Kamu tahu, segalanya. Ia menghela napas di setiap pertemuan kami. Ia tampak ragu berjalan denganku. Ia tidak mencariku, tidak menemuiku, kecuali aku yang melakukannya. Kecuali aku yang mencarinya.’

Hayd bercerita. Tangannya sempat berhenti sejenak memetik senar gitar.

‘Dramatis memang, dan aku kurang menyukai keadaan ini. Seolah aku dihukum. Aku menyayanginya.’

Ia menyentuh cangkirnya. Ia disana. Hayden. Seperti biasa. Memainkan not not dengan gitar, menuliskan not not itu dalam kertas partitur.

Aku, masalahku. Dia dan masalahnya.

‘Dia memberimu kesempatan, itu bagus.’ Kataku padanya.

‘Lalu kamu, dia memintamu menemui mereka. Terima saja.’  Hayden membalasku.

‘Kamu benar.’ Jawabku.

‘Kamu juga.’

‘Aku anggap itu sebagai permintaan maaf?’ Aku menggodanya.

Tanpa menggubrisku, ia berkata ‘Bilang kamu suka musik klasik, jika mereka bertanya. Dan lepas sepatu sneakers bututmu. Lepas poni jelek itu.’

‘Bukankah aku terlihat seperti avril? Hey, aku keren, Hayd…’

‘Orang tua menerima Taylor Swift, bukan Avril. Stupid. Jika Glass menerimamu, kenapa aku yang khawatir? Kenapa kamu yang khawatir? Easy, babe.’

‘Benar sekali, sneaker, akan tetap bersamaku…’

‘Oh ya, jangan bilang kamu suka makan.’ Dan dengan cuek, ia meninggalkanku begitu saja.

 

Kondisi memutar pikiranmu.

Kondisi itu.

Kondisi, membatasi semua yang kuinginkan dan kurindukan. Membatasi, hingga menyiksaku dengan kerinduan yang menyala-nyala di dalam diriku untuk mengejar. Lalu. Kondisi itu lalu akan berubah. Saat kondisi itu berubah seperti kemauanku, menjanjikan kebebasan tanpa batasan, tidak ada yang bisa menghangatkan kerinduan itu dalam hatiku.

Aku, melangkah satu langkah lebih awal.

 

***

 

Aku akan ke sana, Glass. 15 menit lagi, aku akan sampai.

 

Aku mengirimkan pesan singkat pada Glass.

 

Mematikan kampu di dalam coffee shop, Mengunci pintu, aku berjalan di sepanjang trotoar itu menuju rumah Glass. Bunyi sneakers yang ku pakai, mengalihkan pikiranku.

 

Entah bagaimana, aku akan menebak dan meyakinkan diriku sendiri akan pikiran yang terlebih dahulu aku buat. Dan seringnya pikiran itu salah. Seringnya pikiran itu membutakanku. Oh percayalah, aku sangat efektif meyakinkan sesuatu yang salah, lalu mempercayainya. Entah itu berlaku pada Hayden atau Glass juga, atau semua orang. Namun, pikiran yang salah itu, membuatku nyaman. Aku sungguh perlu bertemu psikiater. Aku lebih sakit dari Billy. Aku bukan hanya memiliki 24 wajah Billy, namun mind disorders yang genetic.

 

 

Aku membunyikan bel, pintu rumah Glass. Dalam menit terakhir, aku akan mencoba mengganti pikiran yang semula dengan harapan sebaliknya. Harapan yang positif, dan ironisnya, seringkali itu lebih salah dari yang semula.

 

Aku mulai merasa seperti Becky dalam Shopaholic. Bukan dalam versi belanja. Tidak seharusnya ceritaku dan Glass berubah menjadi chicklit. Tidak lucu, Kei.

Mungkin sebaiknya, aku masuk ke dalam dan menceritakannya padamu nanti.

 

***

 

Semua akan dipaksa pada satu kehendak. Be it unto me.

 

***

 

Tidak ada cerita. Ha Ha. Orang tua Glass pulang sebelum kedatanganku.

 

‘Aku tahu, aku yang memaksamu bertemu dengan mereka. Maafkan aku.’

Aku terdiam, tidak harus berkata apa.

‘Glass, maaf. Aku…’

 

‘Tidak apa-apa. Kita akan mengunjungi mereka jika kamu sudah siap. Maaf. Kamu mau makan malam, atau aku akan mengantarkan kamu pulang sekarang?’

 

‘Glass?’ Aku sungguh merasa bersalah.

 

Kondisi itu lalu akan berubah. Saat kondisi itu berubah seperti kemauanku, menjanjikan kebebasan tanpa batasan, tidak ada yang bisa menghangatkan kerinduan itu dalam hatiku.

‘Kei. Aku menceritakan tentang dirimu pada mereka. Dan mereka menyukaimu. Mereka sungguh ingin bertemu denganmu. Namun, dear, if u re not ready yet. They can wait. I can wait.’

 

‘Aku tidak tahu soal gempa di Haiti, atau tentang musik klasik. Itu sebabnya.’

 

Wajah Glass berubah seperti menahan tawa. ‘Inilah sebabnya, aku begitu menyayangi kamu. Sense of humor kamu makin baik. Aku terhibur, omong-omong.’

 

‘Diam.’

 

***

 

Glass.

Kondisi itu lalu akan berubah. Saat kondisi itu berubah seperti kemauanku, menjanjikan kebebasan tanpa batasan, tidak ada yang bisa menghangatkan kerinduan itu dalam hatiku.

 

‘Tidak apa-apa. Kita akan mengunjungi mereka jika kamu sudah siap. Maaf. Kamu mau makan malam, atau aku akan mengantarkan kamu pulang sekarang?’ Aku berkata, untuk menenangkannya. Tangannya dalam genggamanku begitu dingin.

‘Glass?’ Dia masih sungguh merasa bersalah. Aku terlalu cepat? Ah, sebelumnya, aku malah takut ia menanti terlalu lama.

‘Kei. Aku menceritakan tentang dirimu pada mereka. Dan mereka menyukaimu. Mereka sungguh ingin bertemu denganmu. Namun, dear, if u re not ready yet. They can wait. I can wait.’

‘Aku tidak tahu soal gempa di Haiti, atau tentang musik klasik. Itu sebabnya.’

Aku ingin menertawakan kebodohannya. Kemanisannya ‘Inilah sebabnya, aku begitu menyayangi kamu. Sense of humor kamu makin baik. Aku terhibur, omong-omong.’

‘Diam.’

Ia akan tahu, aku mencintainya. Hari ini, cukuplah. Sesuatu yang akan kuberikan padanya malam ini, akan kusimpan untuk hari yang lebih tepat.

 

 

 

***

 

Keira.

 

 

‘Hayd, kamu mencariku? Aku baru saja sampai dirumah.’

Aku menelepon Hayden, setelah sampai dirumah. Aku tidak mengangkat teleponnya saat bersama dengan Glass tadi.

 

‘Tidak, tidak ada yang penting. Aku hanya ingin memberitahumu, Melissa sudah bersama dengan orang lain. Ia tidak memberiku kesempatan. Aku salah. Ia bersama dengan orang lain.’

Nada kecewa. Terpukul.

‘Hayd? Apa artinya?’

 

‘Aku baru berdoa, pagi tadi. Semoga aku menemukan satu kondisi, untukku. U know, aku dan Melissa. Another chance.’

‘Dan aku menemukannya. Ia tidak memberiku kesempatan.’

 

‘Hayd, I’m sorry.’

 

‘Its okay. Aku memberitahumu, agar ini terdengar dan terasa nyata.’

‘Good Night.’

Ia mematikan telepon.

 

Malam ini, aku berada di kondisi yang mana? Hayden berada di kondisi yang mana?

Tidak bertanya. Tidak menjawab.

Biar kerinduan itu tumbuh.

I wish I will ready soon.

 

Dan semua akan dipaksa pada satu kehendak. Dan semua kerinduan itu. Be it unto me.

 

 

__________________

logo min kecil

smile's picture

Min : ungu dan putih

Cahayanya sedikit kekuningan, hingga butiran air yang jatuh tidak bening seperti biasanya. Kontras sekali dengan warna coffee shop, ungu.

Min,...cahaya sedikit kekuningan tetap ada warna kuningnya,..kuning dengan ungugak akan kontras,...lebih kontras putih dan ungu,..jadi : AVATAR SMILE,....hihihii...

 

smile : Hidup adalah perjuangan tiada akhir

__________________

"I love You Christ, even though sometimes I do not like Christians who do not like You include me, but because you love me, so I also love them"

Tante Paku's picture

Serbuk Peri.

Seperti kilau serbuk peri.

Potret yang mendukung latar belakang ini memberi irama pengucapan yang cukup mengesankan.

Entah bagaimana, aku akan menebak dan meyakinkan diriku sendiri akan pikiran yang terlebih dahulu aku buat. Dan seringnya pikiran itu salah. Seringnya pikiran itu membutakanku. Oh percayalah, aku sangat efektif meyakinkan sesuatu yang salah, lalu mempercayainya. Entah itu berlaku pada Hayden atau Glass juga, atau semua orang. Namun, pikiran yang salah itu, membuatku nyaman. Aku sungguh perlu bertemu psikiater. Aku lebih sakit dari Billy. Aku bukan hanya memiliki 24 wajah Billy, namun mind disorders yang genetic.

Hidup seperti sebuah simfoni, karena kita sering sibuk mendengarkan suara-suara yang telah dikondisikan dan diprogramkan ke dalam pikiran dan menjadi kelekatan begitu saja. Itulah salah satu gambaran mengenai hidup kebanyakan orang.

Tidak ada cerita. Ha Ha. Orang tua Glass pulang sebelum kedatanganku.

Lho? Orangtua Glass ini apa tidak tahu dari cerita Glass kalo Keira ini pulangnya malam?

I wish I will ready soon.  Be it unto me.

 

 

 

 

__________________

Semoga Bermanfaat Walau Tidak Sependapat