Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

xQ

victorc's picture

Teks: Mikha 5:4
"Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, ..."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Izinkan kali ini saya berkomentar sedikit tentang pentingnya tindakan, bukan sekadar analisis. Mengapa demikian? Bukan saja karena analisis yang berlebihan cenderung melumpuhkan (paralysis analysis), namun juga dengan bertindak maka kita akan belajar melangkah dengan iman bersama Tuhan. Itu  sebabnya saya suka dengan tagline dari judul buku John Ortberg: jika Anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahumu.
Mungkin Anda pernah mendengar kisah ini:

"Alkisah, sebuah pesawat sedang bertolak ke Nepal, mengangkut 3 tim pasukan khusus, satu tim dari Amerika, satu dari Jepang, dan satu dari Indonesia. Di tengah perjalanan, pilot mendadak mengumumkan kepada para penumpangnya bahwa pesawat mengalami kerusakan mesin, dan akan menabrak tebing dalam 10 menit. Kapten tim Amerika langsung memanggil timnya, dan berkata: pesawat akan jatuh, mari kita bagi parasut dan terjun dalam 2 menit. Kapten tim Jepang juga memanggil timnya, dan berkata: pesawat akan jatuh, mari kita bagi parasut dan terjun dalam 3 menit. 
Dan terakhir, kapten tim Indonesia juga mengumpulkan timnya, lalu berkata: "saudara-saudara, pesawat akan jatuh, mari kita bentuk tim penyelamatan. Tono, kamu jadi ketua. Hadi sekretaris. Badi bendahara...dst."

Pentingnya tindakan
Menurut Ram Charand: "Execution is the great unaddressed issue in the business world today."(4) Karena itulah akhir-akhir ini dikembangkan teori xQ (exeqution quotient), intinya adalah mengukur sejauh mana ada gap antara visi perusahaan terhadap realitas di lapangan.
Meski para pemimpin bisnis telah menyadari pentingnya mengubah visi dan strategi menjadi serangkaian tindakan nyata, namun hal ini belum banyak dirasakan oleh para pemimpin di lingkungan gerejawi dan organisasi religius lainnya.(5) Buktinya? Bisa dijumpai dengan mudah gereja-gereja yang memiliki visi tertulis setinggi langit, namun kelakuannya banyak yang minus. 
Bahkan ada gereja tertentu di kota besar (ini nyata), yang warta gerejanya dari minggu ke minggu hanya berisi kisah "kesaksian" sang gembala sidang yang diangkat naik ke surga ke-7. Dan hal itu terus diulang-ulang setiap ibadah, sehingga akibatnya jemaat menjadi terbius dan terbuai oleh berbagai bujukan manisnya. Tidak heran jika budaya organisasi berubah menjadi budaya cult (pengkultusan). Kenyataannya budaya cult ini sering terjadi di gereja-gereja beraliran kharismatik, meski tidak semua seperti itu. 
Hal-hal ini tentunya perlu dibenahi, terutama jika gereja-gereja di Indonesia ingin serius dalam menanggapi perubahan jaman, bukan sekadar menjadi "penjual minyak urapan." (maafkan kata-kata keras ini)

Bagaimana dengan Indonesia?
Dalam konteks berbangsa, saya kira humor tentang pesawat akan jatuh tadi masih cukup relevan, bukti gampangnya para birokrat dan teknokrat sering hanya sibuk press rilis dan seminar ini itu, tapi minim aksi nyata. Rasanya hanya sedikit pimpinan negeri ini yang patut diacungi jempol karena aksi nyata di lapangan, sebagian besar juga terjebak dengan budaya cult dan ABS dari para eselon di bawahnya. 
Omong-omong tentang situasi darurat, saya menulis dalam artikel sebelumnya bahwa ekspor nonmigas kita ke negara-negara Asean merosot lebih dari 40% sejak 2015 hingga sekarang.(2)
Apakah ini disebabkan oleh merosotnya daya saing, atau oleh salah kebijakan ekspor, atau mungkin karena dampak MEA? 
Memang mesti diingat bahwa MEA dimulai sejak desember 2015, dan banyak ahli yang telah mengingatkan bahwa liberalisasi perdagangan tidak baik bagi ekonomi dalam negeri. Tapi kok ya diteruskan?  Apakah kita hanya ingin disebut sebagai negara paling neolib di Asia? (6)
Tentu saya tidak bermaksud mempromosikan kebijakan super-protektif seperti Trump yang membatalkan perjanjian perdagangan bebas Trans-Pasifik (TPP). (7)(8)
Namun setidaknya perlu juga para pemimpin memikirkan 2 hal:
A. nasib pedagang dan petani kecil, yang produknya kerap tergeser oleh buah dan sayuran yang lebih segar dan besar, padahal mungkin itu adalah produk transgenik,
B. nasionalisme belum lagi punah sebagai peninggalan abad 19, digantikan oleh regionalisme dan liberalisasi. Sekali lagi, mungkin kita perlu belajar lebih banyak tentang xQ.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 14 september 2017, pk. 9:43
VC

Referensi:
(1)http://www.evancarmichael.com/library/ben-nash/Do-you-know-your-organizations-Execution-Quotient.html
(2) http://sabdaspace.org/oranye
(3) https://www.researchgate.net/publication/260748033_Execution_Quotient_EQ
(4) http://www.franklincovey.ca/FCCAWeb/mmedia/pdf/library/xQWhitePaper.pdf
(5) M. Shanlian. Transformational leaders for revitalizing churches. Url: http://www.tntemple.edu/application/files/Academics/DMin/M.Shanlian.pdf
(6) dampak MEA. Url: https://kadexyogi.blogspot.co.id/2016/03/perkembangan-mea-di-indonesia-dan.html
(7) http://time.com/4255900/donald-trump-trade-tariffs/
(8) https://www.nytimes.com/2017/01/23/us/politics/tpp-trump-trade-nafta.html

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute