Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

What Is True About Paul: The Old Or The New Perspective? Apakah Luther telah Salah dalam Memahami Rasul Paulus?

Deflit Dujerslaim Lilo's picture

Pendahuluan 

Sejak Martin Luther memproklamirkan ke-95 dalilnya di pintu gedung Gereja Wittenberg, kekristenan seolah-oleh mendapatkan “angin segar.” Angin segar tersebut adalah bahwa seseorang dibenarkan oleh Allah bukan karena perbuatannya melainkan karena imannya kepada Yesus Kristus. Luther sendiri tidak menyadari konsekuensi terjauh dari tindakannya. Pengaruhnya yang luar biasa telah mempengaruhi begitu banyak orang pada zamannya hingga saat ini. Philip Melanchton, Ulrich Zwingli, Johannes Calvin, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya–tidak dapat dipungkiri–memiliki kesamaan pikiran (meskipun berbeda dalam beberapa hal), bahkan mungkin terpengaruh dengan ide-ide atau pokok-pokok iman tersebut.

Mulai periode tersebut, kekristenan telah memiliki bentuk dan pengakuan yang baru. Hari Reformasi oleh Luther menjadi hari bersejarah bagi berdirinya sebuah aliran baru dalam kekristenan yaitu Protestan. Akan tetapi, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini muncul sebuah paham yang menjadi semacam antitesis terhadap gerakan dan teori reformasi. Paham yang paling kontroversial dan menggemparkan tersebut datang dari sebuah golongan yang dikemudian hari diberi nama “The New Perspective on Paul (NPP)” atau “Perspektif Baru mengenai Paulus”. Interpretasi yang baru ini secara umum menganggap bahwa Luther telah salah dalam memahami Rasul Paulus. Luther telah memaksakan penafsirannya mengenai Paulus dan bahwa Luther’s rediscovery of Justification by Faith were dramatic.

[1]

Berdasarkan pemaparan uraian di atas, bagaimanakah seharusnya memahami signifikansi Paulus berkenaan dengan Reformasi yang telah dilakukan oleh Martin Luther tersebut? Apakah sesungguhnya Luther telah membohongi kekristenan dengan ‘kebohongan terbesarnya’ itu? Apakah ‘NPP’ merupakan ‘The Reality of Paul’s Theology’ yang harus diterima saat ini? Untuk meneliti hal tersebut, alangkah baiknya jika terlebih dulu mereview teori-teori yang berhubungan dengan Reformasi Martin Luther yang penulis jabarkan berikut ini. 

A.

“Perspektif Lama mengenai Paulus” (“Old Perspective on Paul”/Reformation Perspective)

[2] 

Ketika mempelajari para Reformator, hal terutama dan merupakan prinsip yang terus-menerus ditekankan adalah perihal doktrin “Pembenaran oleh Iman.” Para Reformator khususnya Luther dan Calvin, memahami Alkitab Perjanjian Baru khususnya Teologi Paulus dalam kerangka berpikir “anugerah” dan “iman.”  Surat Paulus kepada Jemaat di Roma (sekitar tahun 56/57 M) dipahami dengan tema sentral, “Kebenaran Allah.” Di dalamnya termuat pandangan Paulus terhadap standar kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperhitungkan kepada manusia yang berdosa. Dengan demikian, kebenaran Allah merupakan anugerah dan iman. Apa maksudnya? Berikut ini adalah teori yang menjadi dasar reformasi yaitu: 

1.    

Pembenaran oleh Iman (Justification by Faith) 

Reformasi merupakan langkah awal bagi munculnya doktrin “Justification by Faith”. Sejak saat itu, seolah-olah ‘bendera kemenangan’ iman dikibarkan. Semboyan “Sola Fide” menjadi sentral di dalam Teologi Luther. Bosch menyatakan bahwa doktrin ini menjadi salah satu doktrin dimana semua doktrin yang lainnya bergantung.

[3]

Bahkan Erroll Hulse melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa doktrin Pembenaran oleh Iman sebagai articulis stantis vel cadentis ecclesiae (titik bergantung tegaknya dan jatuhnya gereja).

[4]

Doktrin Pembenaran oleh Iman telah mendapatkan legitimasinya.

Gerakan Reformasi menekankan beberapa hal penting.

[5]

Pertama, konsep anugerah Allah. Anugerah Allah adalah pemberian yang cuma-cuma tanpa ada usaha sedikitpun dari manusia. Allah yang sepenuhnya berinisiatif memberikan anugerah dan anugerah Allah yang terbesar bagi manusia adalah pengampunan dosa. Kedua, iman kepercayaan. Iman bukan bersifat rasionil. Meskipun sulit dipahami oleh rasio namun jika diterima dan dipercayai, maka itulah iman.  Ketiga, kedudukan Alkitab. Para Reformator menekankan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Memang benar bahwa para nabi dan rasul menuliskan kitab-kitab dalam Alkitab tetapi mereka tidak terlepas dari iluminasi Roh Kudus. Oleh karena itu, hermeneutika yang benar sangat dibutuhkan. Hal-hal tersebut menjadi bahan pertimbangan pokok dalam Reformasi. Martin Luther berkata,

Hukum-hukum Taurat…memerintahkan kita supaya melakukan berbagai perbuatan amal, tetapi Hukum Taurat tersebut belum dilakukan dengan perbuatan amal. Hukum itu memang memberikan petunjuk-petunjuk kepada kita, tetapi tidak menolong kita; hukum Taurat memang mengajarkan kepada kita apa yang harus kita perbuat, tetapi tidak memberikan kita kekuatan untuk memenuhinya. Oleh sebab itu, hukum Taurat hanya dapat membuat manusia melihat bahwa ia tidak sanggup melakukan yang baik dan hukum itu menyebabkan dia putus asa….

[6]

 

Tidak mengherankan jika tradisi Reformasi menilai dan menafsirkan pembenaran hanya oleh iman. Dalam Roma 3:26, Paulus menegaskan tindakan Allah dalam membenarkan orang yang berdosa bukan berdasarkan pada perbuatan ketaatan kepada hukum Taurat (band. Gal. 2:16; 3:11), melainkan hanya melalui iman (Gal. 2:16).

[7]

  Sebab “semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: terkutuklah orang yang tidak setia yang melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat (Gal. 3:10).”  Sebaliknya, justru melalui iman kepada Yesus Kristuslah, manusia  beroleh pembenaran dan keselamatan (Rm. 3: 22, 28; 5:1; 9:30; Gal. 2:16; 3:8, 24; Ef. 2:8; Flp. 3:9, 2 Tim 3:15).

B.   

Perspektif Baru mengenai Paulus (New Perspective on Paul) 

Setelah Luther dan para Reformator lainnya mencetuskan ide mereka, para sarjana teologi pun semakin tertarik untuk mempelajari tokoh-tokoh dan ajaran-ajaran dalam Alkitab.  Salah satu temuan yang dihasilkan oleh usaha atau gerakan ini adalah paham “The New Perspective on Paul.  Gerakan ini sebenarnya merupakan sebuah usaha para ahli untuk menjelaskan tentang Yesus dalam konteks-Nya sebagai seorang Yahudi pada abad pertama, mempelajari Yudaisme abad pertama dan kekristenan mula-mula.  Para ahli meneliti kembali untuk mencari tahu pemahaman berdasarkan konteks Yudaisme pada abad pertama bukan seperti yang dipahami oleh gereja pada abad pertengahan.  Gerakan ini telah dimulai sejak akhir abad kedelapan belas hingga masa kini.

Istilah “The New Perspective on Paul” adalah sebuah istilah yang akhirnya ditujukan untuk beberapa ahli perjanjian baru (yang akan dibahas dalam bagian ini) sehubungan dengan teori mereka mengenai rasul Paulus. Ide mengenai teori ini sebenarnya telah ada sejak lama (seperti yang dijelaskan dalam ide para teolog pendahulu di bawah ini), namun teori ini baru dikenal dengan istilah “The New Perspective on Paul” setelah James Dunn dengan tetap menggunakannya. James Dunn pertama kali menggunakan istilah ini untuk menjelaskan pandangan teologinya mengenai Paulus dalam sebuah sesi kuliahnya pada bulan November 1982. 

1. 

Tokoh-tokoh dalam “The New Perspective on Paul 

Berikut ini, penulis memaparkan tokoh-tokoh dengan teori-teori yang mendukung “The New Perspective on Paul.” 

a.

Tokoh-tokoh Pendahulu 

1) Claude Joseph Goldsmid Montefiore (1858-1938) 

Claude Montefiore melakukan penelitian terhadap Yahudi Palestina dan membandingkannya dengan keadaan Paulus. Hasilnya, Montefiore menemukan bahwa ada perbedaan antara agama Yahudi rabbinik dengan agama yang dipahami oleh rasul Paulus.  Latar belakang Paulus bukanlah seorang Yahudi rabinik tetapi lebih kepada Yahudi Helenistik. Montefiore juga menyatakan bahwa sekalipun manusia sangat berdosa, namun kasih Allah masih lebih besar dari pada penghukuman.

[8]

  Sekalipun seorang manusia yang melakukan kesalahan hanya merasakan sedikit penyesalan dalam hatinya, Allah akan mengampuni dengan sangat besarnya.

[9]

  Bagi bangsa Yahudi, Allah memberikan hukum Taurat kepada mereka agar mereka dapat hidup baik dan bahagia.

[10]

  Konsep inilah yang memainkan peranan yang penting dalam pemikiran Yahudi Rabinik.

2)    George Foot Moore (1851-1931) 

George Moore menulis banyak buku tentang Perjanjian Baru dan Yudaisme; dua di antaranya yaitu: “Judaism in First Centuries of The Christian Era” (1927) dan “Judaism” volume I dan II (1927). Sebelumnya, pada tahun 1921, dia menulis sebuah artikel yang mengkritik kekristenan yang telah salah dalam memahami agama Yahudi dan bahwa itu hanya merupakan polemik dalam kepentingan apologetika Kristen terhadap penganut Yudaisme.

[11]

Dalam penelitian terhadap Yudaisme secara historis, dia menyimpulkan bahwa Yudaisme melakukan perbuatan baik demi kehidupan di seberang (Surga).

[12]

  Lebih dari itu, ia juga meneliti tentang “Torah” atau “Taurat.” George Moore mengidentifikasikan Taurat (hukum Taurat) sebagai “The word and idea most Characteristic of Judaism in all its history.”

[13]

 

3) 

Hans Joachim Schoeps (1909-1980) 

Hans J. Schoeps adalah seorang sejarawan dan filsuf agama karena penelitiannya tentang sejarah agama dan falsafah agama Yudaisme. Dalam studinya mengenai Yudaisme, Schoeps berargumen bahwa Paulus salah dalam menginterpretasikan hukum Taurat karena tidak mengaitkan dengan konsep “The Covenant of God.

[14]

 

4) 

Krister Stendahl (1921-2008)

Krister Stendahl membawa sebuah ide yang baru dalam studi mengenai Paulus melalui bukunya yang berjudul “Paul Among Jews and Gentiles and Other Essays.  Berdasarkan penelitiannya, ia berpendapat bahwa pemahaman tradisional terhadap Paulus telah salah dan kehilangan makna yang sebenarnya. Ia menekankan akan hubungan atau relasi antara orang Yahudi dan non-Yahudi sebagai isu utama dalam teologi Paulus dan bukan pembenaran oleh iman. Ketika Paulus menuliskan Surat Roma, dia tidak bertujuan untuk menuliskan sebuah risalah teologi mengenai sifat dari pembenaran oleh iman.

[15]

Fokus Paulus yang sesungguhnya adalah relasi atau hubungan antara orang Yahudi dan non-Yahudi, bukan mengenai pembenaran atau predestinasi.

Tradisi Reformasi tidak dapat ‘membaca’ Paulus dari pengalaman pribadi baik Luther maupun Calvin.

[16]

Kekristenan telah salah karena memahami Paulus dari pengalaman Luther, sedangkan Luther sendiri menafsirkan Paulus seperti pengalamannya sendiri. Paulus tidak pernah menjadi seorang Kristen. Peristiwa di dekat Damsyik (Kis. 9:3-6) merupakan pengalaman panggilan (call) dan bukan pertobatan (conversion).

Oleh karena itu, Stendahl berpendapat bahwa Martin Luther telah salah memahami Paulus. Paulus bukanlah seseorang yang tidak senang dengan  ke-Yahudiannya (Flp. 3:6). Paulus adalah seorang Yahudi yang bahagia dan sukses. Paulus tidak pernah bertobat menjadi seorang Kristen tetapi hanya dipanggil sebagai seorang Rasul bagi orang-orang Yahudi dengan pertimbangan bahwa jikalau menggunakan kata “pertobatan” (conversion) maka itu berarti muncul ide bahwa Paulus mengganti agamanya dari Yahudi menjadi seorang Kristen.

[17]

   

b. Tokoh-tokoh Utama 

1)     

Ed Parish Sanders 

Ed Parish Sanders menjadi salah seorang yang berperan penting dalam mencetuskan ide atau paham “The New Perspective on Paul” melalui karya-karya teologinya. Karya Sanders yang paling utama yaitu “Paul and Palestinian Judaism” atau “Paulus dan Yudaisme di Palestina” (1977).  Dalam buku ini, Sanders berpendapat bahwa kekristenan tradisional telah salah mengerti jika menganggap Paulus telah menentang “rabbinic legalism” baik dalam Yudaisme maupun juga dalam pemikiran Paulus sendiri. Central Point dari Sanders terdapat dalam apa yang disebutnya sebagai “covenantal nomism.” Di dalamnya terkadung dua macam makna yaitu merupakan “hak masuk dalam Perjanjian Allah melalui Abraham” dan “tetap berada di dalam perjanjian (covenant) tersebut melalui pemeliharaan Hukum Taurat.”

[18]

Hukum Tauratlah yang berfungsi sebagai tempat untuk hidup di dalam perjanjian Allah tersebut. Intinya, melakukan Hukum Taurat bukan supaya masuk ke dalam (getting in) perjanjian tersebut, melainkan supaya tetap tinggal di dalam (staying in) perjanjian anugerah.

Sanders merumuskan “covenantal nomism” dengan struktur sebagai berikut: 1) pemilihan Allah atas Israel sebagai umat pilihan-Nya,  2) pemberian Taurat–sebagai  3) janji Allah untuk mempertahankan pemilihan tersebut dan 4) syarat untuk ketaatan, 5) Allah memberikan upah bagi ketaatan dan hukuman bagi pelanggaran, 6) Hukum Taurat diberikan untuk maksud penebusan, 7) penebusan menghasilkan pemeliharaan atau penegakkan kembali hubungan perjanjian tersebut, dan 8) semua orang yang telah dipelihara di dalam perjanjian (covenant) karena ketaatan, penebusan, dan anugerah Allah termauk dalam kelompok orang-orang yang diselamatkan.

[19]

Selain itu, Sanders juga berpendapat bahwa pandangan atau teologi Paulus bukanlah berasal dari latar belakangnya sebagai seorang Yahudi, bahkan tidak juga dari dunia Yahudi-Helenistik dan Helenistik.

[20]

Sanders berpendapat bahwa dalam Paulus tampak tidak berpegang pada satu aliran teologi pun pada masanya. Paulus tidak menunjukkan kekonsistenannya dalam menyampaikan teologinya.  Paulus sesungguhnya menawarkan sebuah ajaran yang sama sekali baru dengan jalan mengadopsi berbagai ajaran dari sumber-sumber yang berbeda untuk membangun kerangka teologinya. 

2) 

James Douglas Grant Dunn 

James D. G. Dunn adalah salah satu teolog NPP selain N. T. Wright dan E. P. Sanders. Dalam penelitiannya mengenai Yudaisme abad pertama, sama dengan Sanders, setuju bahwa Yudaisme tidak legalistik tetapi nasionalistik.

Dunn lebih terkenal melalui teorinya “Works of The Law” atau “Pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat.” Hukum Taurat berfungsi sebagai “identity Marker.” Orang-orang Yahudi melakukan Hukum Taurat bukan supaya mereka mendapatkan keselamatan tetapi karena mereka adalah umat pilihan Allah. Pemilihan atas Israel berdasarkan anugerah Allah dan melakukan hukum Taurat agar tetap tinggal di dalam covenant. Dunn kemudian merumuskan“Works of The Law” ke dalam tiga hal yaitu sunat, pemeliharaan hari sabat, dan peraturan tentang makanan yang tahir dan tidak tahir. Pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat (Works of The Law) terkait dengan masalah sosial dan bagaimana masuk ke dalam komunitas umat Allah. 

3) 

Nicholas Tom Wright 

Nicholas Tom Wright juga terkenal sebagai seorang yang menguraikan tentang “New Perspective on Paul,” khususnya pada topik “pembenaran.”  Dalam penelitiannya, Wright menuliskan: “The Gospel is not an account of how people get saved. It is…the proclamation of the lordship of Jesus Christ.”

[21]

Wright menganggap bahwa “Justification” atau “Pembenaran” pada abad pertama tidak berarti bagaimana seseorang menjadi Kristen dan membangun sebuah persahabatan dengan Allah.

[22]

Lebih jauh lagi, Wright berpendapat bahwa doktrin pembenaran oleh iman bukanlah apa yang Paulus maksudkan dengan “Gospel.

[23]

  The Gospel (Injil)” merupakan pesan mengenai Yesus, salib-Nya, dan kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, Wright berpendapat, “Kita tidak dibenarkan oleh iman karena kepercayaan kepada kepada Pembenaran oleh Iman. Kita dibenarkan oleh iman karena percaya kepada Injil itu – dengan kata lain, percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Allah telah membangkitkan-Nya dari kematian.”

[24]

 

Telaah Kritis terhadap “The New Perspective on Paul 

Dalam bab ini, penulis akan menelaah beberapa hal yang berhubungan dengan metode dan teori-teori yang digunakan para teolog NPP untuk mengemukakan pendapat mereka, yaitu: 

A.  

Metode Penafsiran yang digunakan oleh Sanders 

Sanders sesungguhnya juga tidak konsisten dalam menggunakan metode untuk menafsirkan teori-teorinya khususnya yang berkenaan dengan “covenantal nomism.” Di satu sisi, ia banyak menggunakan seluruh literatur Yudaisme masa intertestamental dan abad pertama untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai konsep Yudaisme tetapi mengabaikan IV Ezra (misalnya yang terdapat dalam IV Ezra 8:33 yang menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan baik dilakukan untuk memperoleh upah)

[25]

dengan berpendapat bahwa kitab tersebut bukan sebuah hasil yang terutama untuk mewakili Yudaisme.

[26]

 

Pernyataan Sanders bahwa 4 Ezra hanya sebagai sebuah kumpulan khotbah karena itu tidak dapat mewakili pemikiran Yudaisme tidak sepenuhnya tepat.  Perhatikan bahwa sebuah catatan khotbah justru lebih jelas menyatakan teologi yang disampaikan oleh si pengkhotbah.

[27]

  Jika demikian, maka sesungguhnya 4 Ezra juga menyatakan teologi yang sebenarnya dari Yudaisme pada saat itu.  D. A. Carson dan D. J. Moo memberikan penjelasan yang menarik mengenai hal ini, “Sanders berpikir bahwa bagian-bagian homelitikal dapat ditiadakan karena tidak dapat, melalui sifatnya yang sangat dasar, secara khusus memasukkan Teologi yang terletak di belakang sebuah khotbah.”

[28]

  Pada faktanya, pengajaran atau doktrin mengenai keselamatan di dalam literatur-literatur rabinik mencakup dua hal yaitu keselamatan melalui pemilihan dan keselamatan karena imbalan jasa.

[29]

  Oleh karena itu, metode penafsiran yang Sanders gunakan perlu untuk dipertanyakan keabsahannya. 

B.

Teori atau Paham yang Dimunculkan 

Berikut ini adalah beberapa pokok teori yang penulis klasifikasikan untuk maksud penelitian ini, yaitu: 

1.  

Paulus dan Yudaisme 

Klaim para teolog NPP bahwa Paulus berhadapan dengan orang Yahudi yang nasionalistik dan bukan legalistik perlu dievaluasi.  Paulus adalah seorang yang sangat taat kepada Taurat, orang-orang Yahudi pada masa itu baik di Palestina maupun yang tersebar di seluruh daerah-daerah non-Yahudi (berdiaspora) juga memiliki ketaatan yang sama kepada Taurat.  Paling tidak ada empat hal yang perlu diperhatikan.  Pertama, memang banyak di antara orang-orang Yahudi Diaspora yang telah terpengaruh dengan budaya Yunani tetapi kebanyakan dari mereka pun masih Yahudi yang legalistik.

Tenney menjelaskan,

Mereka berpegang teguh pada kepercayaan monoteisme berdasarkan hukum-hukum Musa. Mereka memelihara hubungan dengan Yerusalem dengan berziarah pada perayaan-perayaan tahunan dan membayar pajak tahunan sebesar setengah perak. Mereka menjalankan hukum sabat dan menyelenggarakan kebaktian Sinagoge di mana saja ada cukup orang untuk membentuk suatu kelompok jemaat.

[30]

 

Kedua, pada The Second Temple Period, orang-orang Yahudi juga membangun sinagoge-sinagoge bukan hanya di Yerusalem tetapi juga di daerah-daerah Yunani dan Romawi.  Sinagoge-sinagoge tersebut menjadi sentral komunitas, keagamaan, dan kehidupan bersosial di antara orang-orang Yahudi. Di  tempat ini orang-orang Yahudi belajar mengenai Taurat dengan tekun dan berupaya untuk memeliharanya dalam kehidupan mereka. Bukti yang paling jelas dapat dilihat dalam pelayanan Paulus. Ketika Paulus mengabarkan Injil ke daerah Asia dan sekitarnya, ia selalu tidak melewatkan kesempatan untuk masuk dan berbicara di rumah-rumah ibadah orang Yahudi atau yang disebut dengan Sinagoge (Kis. 13:5,14-15,43,44; 14:1; 16:13; 17:1-4, 10-11; 18:4,19; 19:8).

[31]

  Ketiga, dalam Yudaisme Diaspora terdapat dua kelompok yang berbeda yaitu, golongan Hebrais atau Ibrani yaitu kelompok orang yang berpegang teguh pada keyakinan religius Yudaisme dan golongan Helenis yang telah menyerap kebudayaan Yunani-Romawi (Greco-Roma).

[32]

Keempat, kelompok Yahudi Kristen juga masih hidup di dalam ketaatan terhadap hukum Allah (Torah). Oleh karena itu, penulis tiba pada kesimpulan bahwa orang-orang Yahudi yang ia singgung dalam surat-suratnya seperti Roma dan Galatia adalah Yudaisme yang menekankan kepatuhan terhadap hukum Taurat secara keseluruhan.

Atau, seperti Montefiore yang menyatakan bahwa pandangan Paulus terhadap Hukum Taurat (yang dapat dilihat dalam Kitab Roma dan Galatia) dihasilkan oleh keberadaannya sebagai seorang Yahudi Diaspora tidak objektif. Di dalam Filipi 3: 4-6, Paulus mengatakan dengan jelas bahwa secara lahiriah dia adalah seorang Yahudi asli yang mengikuti segala tradisi Yahudi sejak ia masih kanak-kanak.  Ia juga seorang Farisi yang sangat taat dan tidak bercacat.  Klaim Paulus atas dirinya sendiri bukan dilakukan untuk membela diri tetapi justru karena memang demikianlah statusnya.

Dalam hal ini para teolog memiliki pandangan yang berbeda mengenai asal usul Paulus; apakah ia lahir dan dibesarkan di Tarsus atau Yerusalem?  Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Paulus lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Tarsus sehingga tidak heran jika ia juga dijuluki sebagai “orang Tarsus.”  Akan tetapi, itu juga tidak berarti bahwa Paulus adalah seorang Yahudi Helenis. Paulus justru dengan tanpa ragu-ragu menyatakan dirinya sebagai orang Yahudi dan keturunan orang Yahudi dan perihal kehidupannya sejak masa muda telah dikenal dengan sangat jelas oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem.

[33]

  Paulus dengan berani mengklaim bahwa sejak masa mudanya (mungkin memasuki usia remaja) dan bahkan setelah ia dewasa, ia telah hidup, dibesarkan, dan dididik di Yerusalem oleh Gamaliel dan menjadi seorang Farisi yang paling radikal pada saat itu (Kis. 26:4-5). Dari beberapa informasi ini, jelas tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa Paulus adalah seorang Yahudi Diaspora, meskipun ia lebih banyak berelasi dengan orang-orang non-Yahudi dan orang-orang Yahudi Kristen Diaspora.

Selanjutnya, mari mengevaluasi apa yang telah Stendahl kemukakan. Benar bahwa dalam Kitab Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, tidak ada bukti secara literal yang menyatakan bahwa setelah perjumpaan Paulus dengan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik, ia bertobat menjadi seorang Kristen atau menyatakan diri sebagai seorang Kristen. Paulus sendiri memang menyatakan diri sebagai orang Yahudi yang taat pada Taurat. Kata “Kristen” sendiri hanya ditemukan tiga kali di dalam Alkitab Perjanjian Baru (Kis. 11:26; 26:28; 1Pet. 4:16) dan itu pun tidak menunjuk secara langsung kepada pribadi Paulus.

Namun, jika ditinjau secara linguistik, kata “Pertobatan” atau “Konversi” dalam Perjanjian Baru berasal dari dua kata utama yaitu metanoia (digunakan untuk menerjemahkan kata nicham dalam Perjanjian Lama) dan epistreph? (digunakan untuk menerjemahkan kata sh?bh dalam Perjanjian Lama).

[34]

Seringkali terjadi kesalahpahaman dalam memahami kata “Pertobatan.” Contohnya, ketika memahami kata metanoia, para penafsir cenderung berpikir tentang sebuah krisis emosional yang menyangkut penyesalan diri, yang dipenuhi rasa bersalah, dan banyak instropeksi.

[35]

  Namun, ternyata tidak sebatas pada pengertian itu saja.

Anthony Hoekema menjelaskan,

Metanoe? dan metanoia memiliki makna yang jauh lebih kaya daripada yang dinyatakan oleh terjemahan yang ada. Kata benda ini merupakan gabungan dari meta dan nous. Meta berarti dengan, setelah, atau melampaui; dalam hal ini kata meta menunjukkan perubahan dalam apa yang mengikutinya. Nous berarti pikiran, sikap, cara pikir, sikap dasar, karakter, atau kesadaran moral. Maka secara harafiah, metanoia berarti perubahan pikiran atau hati.  Metanoia mencakup lebih banyak aspek daripada sekedar penyesalan atas dosa (walaupun ini juga termasuk di dalamnya), juga lebih daripada sekedar perubahan intelektual.  Metanoia mencakup suatu perubahan dari satu pribadi secara utuh, dan di dalam penampilan kehidupannya. Kamu dapat berkata bahwa ini merupakan perubahan pikiran, perasaan, dan kehendak.

[36]

 

Sedangkan kata epistroph? dapat dimengerti dari dua pengertian dasar yaitu epi yang berarti “ke arah” dan streph? yang berarti “berputar,” “berbalik.”  Dengan begitu kata ini dapat berarti: “suatu perubahan total di dalam perilaku, suatu pembalikkan gaya hidup seseorang, suatu gerakan berputar kembali sepenuhnya.”

[37]

  Kata ini dapat juga berarti berbalik dari hal-hal lama yang jahat atau penuh kefasikan  (Kis. 15:3; Yak. 5:20) dan atau berbalik kepada Allah (Luk. 1:16; Kis. 9:35; 11:21; 2Kor. 3:16; 1Tes 1:9).

Berdasarkan studi kata tersebut, maka bagaimanakah bila dikenakan pada pribadi Paulus?  Pertama, perlu dipahami bahwa pertobatan (metanoia) tidak hanya berarti meninggalkan kehidupan yang fasik namun terutama menunjuk pada perubahan pikiran atau hati.  Walaupun bukti-bukti menjelaskan bahwa Paulus tidak pernah bertobat menjadi Kristen namun Paulus juga telah mengalami dan melewati proses perubahan paradigma. Perubahan terhadap apa? Satu-satunya jawaban yang paling akurat yaitu Yesus Kristus.

Pengharapan orang Yahudi akan sosok Mesias dalam Perjanjian Lama dan masa “Second Temple Period” menunjuk pada dua hal, yaitu: 1) Tokoh atau gerakan Mesianis berusaha mempertahankan kesucian Bait Allah, dan 2) tokoh atau gerakan Mesianis selalu diidentikkan dengan raja atau pemimpin yang maju berperang sebagai raja dan memperoleh kemenangan dan masuk kembali ke kota Yerusalem dengan arak-arakkan kemenangan.

[38]

Dengan demikian, menurut orang Yahudi Yesus bukanlah Mesias. Yesus tidak seperti Daud atau Kaum Makabe atau seperti Bar-Khoba yang dianggap memiliki kriteria-kriteria tersebut. Mungkin hingga kini, sebagian besar orang Yahudi masih mengharapkan kedatangan Mesias sebagai raja atau pemimpin mereka secara politik di dunia ini.

Beranjak dari pemahaman tersebut, maka sebelum peristiwa di dekat Damsyik, Paulus tidak diragukan lagi memiliki pandangan yang sama seperti orang-orang Yahudi waktu itu.  Sebaliknya, peristiwa di dekat Damsyik juga telah merubah pemahaman Paulus mengenai Mesias.  Peristiwa ini bukan sekedar panggilan untuk melayani tetapi juga menyangkut proses pencerahan budi pekerti.  Paulus kini sadar  bahwa sesungguhnya Yesus adalah Mesias yang mereka nanti-nantikan itu. Pencerahan tersebut juga yang telah membuat Paulus menganggap bahwa semua pengetahuannya yang lama itu tidak berarti karena Yesus (Flp. 3:7-8). Oleh karena itu, Kristologi atau Yesusologi menjadi titik penentu dan titik tolak untuk memahami Paulus dan masalah kelegalistisan dalam Yudaisme. 

Kedua.  Sebagai seorang yang telah mengalami proses metanoia, Paulus menjadi motivator terbesar bagi perkembangan kekristenan.  Paulus sendiri menegaskan bahwa ia diutus “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (Kis. 26:18).  Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah episthreph?. 

Paulus juga tentu akan membantah bahkah melarang kemunculan kekristenan sebagai sebuah aliran atau sekte dalam Yudaisme pada waktu itu.  Paulus bisa saja membawa orang-orang non-Yahudi yang telah bertobat itu menjadi penganut Yudaisme dan hanya mengeluarkan sedikit tenaga dan waktu untuk menanamkan pemahaman mengenai Mesias kepada mereka tetapi ia tidak melakukannya.

Pemahaman ini membawa Penulis kepada sebuah kesimpulan bahwa sekalipun bukti-bukti dalam Alkitab tidak menjelaskan secara langsung perihal pertobatan Paulus, tetapi Stendahl juga juga tidak dapat mengklaim bahwa Paulus hanya dipanggil untuk menjadi seorang Rasul. Sebab, Paulus juga telah mengalami proses perubahan pola pikir atau hati dari tidak mengenal Yesus Kritus hingga mengenal-Nya dengan sempurna (Flp. 3:10-14).

Demikian juga dengan Sanders yang menyatakan bahwa Paulus tidak konsisten dengan pendapatnya mengenai hukum Taurat adalah sebuah argumen yang perlu dikaji kembali. Mari melihat dari surat-surat Paulus (kecuali Roma dan Galatia yang akan dibahas pada poin “Pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat”).  Dalam 1 Korintus 15:56, tersirat bahwa hukum Taurat dan dosa memiliki hubungan yang sangat erat. Tampak bahwa hukum tersebut merupakan pengendali dosa.  Apakah itu berarti hukum Taurat menurut Paulus adalah sesuatu yang negatif?  Tidaklah demikian. Van Bruggen menyatakan bahwa dalam bagian ini, Paulus menggunakan kata nomos secara netral dan tidak negatif.

[39]

Pernyataan tersebut berarti bahwa hukum Taurat memiliki efek yang besar ketika terjadi pelanggaran atau dosa. Hukum Taurat tersebut menghakimi dosa dan bahwa hukuman terhadap dosa itu tidak lepas dari ketentuan hukum yang ada. Contoh lain juga terdapat dalam Efesus 2:15 dan Filipi 3:9. 

Hukum Taurat sama sekali tidak digambarkan secara negatif oleh Paulus tetapi efek yang ditimbulkanlah yang menjadi ‘dinding pemisah’ antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi dan bahwa Kristuslah yang telah melepaskan pemisahan itu dan menyatukan keduanya.

[40]

Demikian pula, Paulus menyatakan bahwa kebenaran karena ketaatan terhadap Taurat merupakan hal yang benar.  Perbedaannya adalah bahwa sekarang telah ada kebenaran yang lebih mulia dan lebih baik yaitu karena percaya kepada Yesus Kristus.

[41]

Dengan begitu, jelaslah (paling tidak untuk menjelaskan maksud ‘pandangan Paulus yang negatif terhadap hukum Taurat’) bahwa sebenarnya Paulus tidak sedang berpandangan sangat negatif terhadap Taurat. Yesus Kritus menjadi tolak ukur untuk memahami sejauh mana pandangan Paulus terhadap Taurat. 

2. 

Covenantal Nomism 

Literatur-literatur yang Sanders gunakan untuk menjelaskan teori ini tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.  Sanders juga mengakui bahwa literatur-literatur tersebut tidak dapat memberikan penjelasan mengenai Yudaisme abad pertama.  Hal ini sebelumnya telah diutarakan oleh Carson dan Moo.

[42]

  Lebih lanjut, teori tentang “getting in” dan “staying in” telah mengabaikan “hari penghakiman Allah.”  Harus dipertegas bahwa Allah tidak akan menghakimi suatu bangsa tanpa memberikannya kepada setiap pribadi.

Sanders telah mengabaikan kitab 4 Ezra dengan alasan bahwa kitab tersebut tidak dapat mewakili pemikiran Yudaisme abad pertama.  Jika Sanders konsisten untuk menggunakan literatur-literatur Yahudi maka ia seharusnya tidak mengabaikan hal tersebut. Perhatikan bahwa di dalam kitab 4 Ezra pun meyatakan bahwa orang-orang Yahudi melakukan perbuatan-perbuatan baik agar mendapatkan upah (4 Ezra 8: 33: “For the just whose many good deeds are on deposit with you will receive their reward by virtue of their deeds,” yang berarti “Karena hanya yang memiliki banyak perbuatan-perbuatan baik yang disimpan oleh kamu yang akan menerima upah melalui kebaikan dari perbuatan-perbuatan mereka”).  Selain itu, konsep tersebut juga terdapat di dalam 4 Ezra 7:21; 9:31; IQH 9.14f; 7.28.

[43]

 

3. 

Pekerjaan-pekerjaan Hukum Taurat (Works of  The Law) sebagai “Identity Marker” 

Klaim Dunn bahwa “Works of The Law” atau “Pekerjaan-pekerjaan hukum Taurat” merupakan unsur yang sangat penting dalam Perjanjian Lama tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya “inti agama Perjanjan Lama bukanlah legalisme atau Hukum Taurat sebagai sarana untuk mencapai hubungan yang benar dengan Allah melalui ketaatan.”

[44]

Demikian juga dengan van Bruggen yang berpendapat bahwa agama Yahudi pada awalnya merupakan agama nubuat dan bukan legalistik dan kasuistik seperti yang berkembang di kemudian hari.

[45]

Ketika Allah memilih Abraham dan bangsa Israel, Allah tidak melihat dan memperhitungkan hasil usaha ketaatan mereka sebagai dasar pemilihan tersebut.  Pemilihan ini merupakan pilihan bebas Allah kepada Israel. Bahkan dalam Perjanjian Lama, pemilihan atas Israel didahului oleh perjanjian yang melatarbelakangi Taurat itu dan bahwa perjanjian itu didasarkan pada tindakan Allah yang penuh kasih karunia.

[46]

 

Akan tetapi, pada masa intertestamental peran hukum Taurat yang sangat penting menjadi ciri khas kerabian Yudaisme. Bangsa Israel yang telah kembali dari pembuangan selama 70 (tujuh puluh) tahun menyadari bahwa karena ketidaktaatanlah maka mereka dibuang oleh Allah. Oleh karena itu, mereka mulai melakukan restorasi secara menyeluruh. Perjuangan untuk merestorasi dimulai dari pembangunan Bait Suci dan tembok Yerusalem, hingga memperbarui, melengkapi seluruh tatanan dalam hidup bermasyarakat. Hal penting yang juga harus diperhatikan pada masa ini adalah bahwa Yudaisme telah mengklaim ketaatan kepada Taurat sebagai dasar keputusan Allah bagi seseorang.

[47]

Sekarang, hukum Taurat telah menentukan segalanya: keputusan Allah, kebenaran, dan kehidupan di dunia yang akan datang.

Tinjauan yang lebih penting adalah apakah di dalam Surat Roma dan Galatia, Paulus hanya bermaksud untuk mengajarkan perihal sunat, hari sabat, dan peraturan tentang makanan (seperti yang dipahami oleh Dunn)? Pertama, di dalam keseluruhan surat-suratnya, pemahaman dan pengajaran Paulus mengenai hukum Taurat tidak hanya terbatas pada sunat, pemeliharaan hari sabat, dan peraturan tentang makanan. Menurut Guthrie, “Paulus tidak pernah membuat pembedaan antara hukum upacara dan hukum moral. Hukum Taurat adalah suatu kesatuan.”

[48]

  Pemahamannya mengenai hukum tersebut terutama harus dimengerti sebagai hukum Musa. Di bawah dididikan Gamaliel, tentu Paulus tidak hanya belajar mengenai identity markers-nya Dunn melainkan keseluruhan Hukum Musa bahkan tradisi-tradisi lisan dalam pengajaran Farisi.

Kedua. Apakah yang dimaksudkan dengan “hukum” dalam pemahaman Rasul Paulus?  Memang, pendapat bahwa “hukum” atau “nomos” dalam teologi Paulus tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan Hukum Taurat.  Paulus tidak memakai kata nomos dalam bentuk jamak untuk membandingkan hukum bangsa-bangsa lain dengan hukum Yahudi.

[49]

Namun, ada beberapa hal lagi yang perlu dipertimbangkan.  Ketika Paulus menulis dan mengirimkan suratnya kepada jemaat-jemaat seperi di Roma dan Galatia, ia tidak hanya berhadapan dengan orang-orang Yahudi (Rm. 4:1; 7:4-6) tetapi juga orang-orang Kristen-Yahudi dan non-Yahudi yang telah menerima Injil (Rm. 1:5,13;11:13).  Begitupun dengan surat-suratnya kepada jemaat-jemaat yang lain. Jacob van Bruggen menyatakan,

Pada waktu membaca kata-kata seperti ‘pekerjaan’ atau ‘melakukan’ dalam surat-surat Paulus, pikiran kita hampir langsung tertuju kepada problematika mengenai hukum Taurat Yahudi. Tetapi kita bertindak salah kalau latar belakang historis kata-kata itu kita batasi pada agama Yahudi saja. ‘Pekerjaan’ tidak berasal dari agama Yahudi kemudian masuk ke dalam agama bangsa-bangsa lain yang ‘tanpa pekerjaan,’ tetapi malahan sebaliknya: dipandang dari sudut agama bangsa-bangsa lain yang penuh ‘pekerjaan’ itu, kehidupan di bawah hukum Taurat juga tampak seperti kehidupan ‘yang dihasilkan oleh pekerjaan-pekerjaan’ (dalam hal ini pekerjaan-pekerjaan hukum Taurat).

[50]

 

Jadi, jikalau “works of the Law” itu ditujukan bagi orang Yahudi maka hukum itu menunjuk kepada keseluruhan hukum Taurat dan sebaliknya jika bagi orang non-Yahudi (baik Yunani maupun Romawi), hukum tersebut menyangkut peraturan-peraturan yang berlaku di dalam masyarakat pada saat itu.

[51]

 Jika penekanan ini hanya ditujukan untuk orang Yahudi atau non-Yahudi maka pernyataan Paulus mengenai universalitas dosa pun tidak dapat dipertahankan.  Sebaliknya, justru Paulus dengan jelas menyatakan keberdosaan seluruh umat manusia baik orang Yahudi maupun non-Yahudi (Rm. 3:9, 20, 23).

Ketiga.  Dalam Roma 3:20, 28; Galatia 2:16, “works of the Law” (erga tou nomou) ??tidak menunjuk pada jenis-jenis dari perbuatan-perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan tertentu tetapi pada apapun yang setiap orang lakukan sebagai ketaatan terhadap Hukum Taurat.

[52]

Penulis sependapat dengan pernyataan Moo bahwa di dalam Surat Roma, Paulus menekankan bahwa tidak ada satu pun yang sanggup melakukan apapun agar dapat diterima oleh Allah.  Hal tersebut hanya dapat terjadi karena orang tersebut beriman kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan kepada Allah. Mengapa demikian? Karena, jika seseorang dapat melakukan hukum tersebut dengan sempurna maka ia akan dibenarkan. Namun, oleh karena dosa manusia tidak mampu melakukan apapun untuk dapat benar di hadapan-Nya (Rm. 9-18). “Works of the Law’ tidak dapat menjadi standar kebenaran di hadapan Allah bukan karena itu berarti “works of the Law” (sunat, hari sabat, peraturan tentang makanan) tetapi karena itu menunjuk kepada “works” (perbuatan-perbuatan).  Ketidakmampuan manusia untuk memenuhi peraturan-peraturan yang telah Allah berikanlah yang dimaksudkan Paulus dalam Roma 3 tersebut.

[53]

Sebagai kesimpulan atas bagian ini, konsep “identity markers” harus diakui mancakup seluruh aturan kebangsaan yang ada. Misalnya, dalam Surat Galatia 3:10 dan Ulangan 27:26, jelas menyatakan bahwa ketaatan tersebut mencakup keseluruhan hukum (Ul. 12:1-26:41). 

Unsur lain yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pada masa intertestamental, muncul kelompok-kelompok atau sekte-sekte dalam Yudaisme seperti Farisi, Saduki, Eseni, kaum Zelot, orang-orang Herodian, dan orang-orang Samaria. Kelompok-kelompok ini memiliki perbedaan yang sangat esensial terutama dalam cara pandang dan cara hidup mereka. Sekalipun untuk pokok-pokok tertentu ada kesamaan, namun tidak dapat disangkal bahwa terdapat lebih banyak perbedaan di antara sekte-sekte tersebut.  Tidak heran jika ada pertentangan di antara mereka karena perbedaan-perbedaan perspektif dan keyakinan religius.  Oleh karena itu, para Teolog “NPP” tidak mungkin menyeragamkan semua perbedaan yang ada di antara sekte-sekte atau kelompok-kelompok Yudaisme tersebut.

4.  

Kebenaran Allah yang Dideklarasikan atau Ditransformasikan? 

Para Teolog “NPP” khususnya N. T. Wright mendefinisikan kebenaran Allah sebagai “God’s Covenant Faithfulness.”

[54]

Bagaimanapun, pernyataan para teolog khususnya Dunn dan Wright dalam teori ini sangat kontroversial.  Apa alasannya?

  • Secara linguistik pengertian “pembenaran” atau “membenarkan” baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berarti kebenaran (righteousness, rightness), keadilan (justice), kepenuhan hukum (lawfulness). Semua pengertian tersebut tentu berhubungan erat dengan lingkungan kehakiman atau peradilan yang mencakup lingkungan hukum dan ruang pengadilan, lingkungan dimana ada pengacara atau tindakan pembelaan.

    [55]

     Sebuah tindakan Allah dalam “menyatakan sebagai benar” (God declares) bukan “menjadikan benar” (God makes).  Kata “membenarkan” adalah sebuah istilah dari dunia pengadilan.

    [56]

    Bagi Paulus, kata-kata yang menjelaskan tentang “pembenaran” tidak menunjuk kepada penanaman tindakan-tindakan yang bersifat moralitas atau penciptaan tindakan yang benar. Kata-kata tersebut secara jelas mengimplikasikan tindakan untuk membenarkan orang-orang yang berdosa yang telah percaya. Oleh karena itu, arti yang lebih dekat pada pendapat ini adalah bahwa tindakan “pembenaran” atau “membenarkan” adalah sebuah tindakan yang berhubungan dengan penyataan keputusan seorang hakim terhadap seseorang – apakah ia terbukti dan dinyatakan bersalah atau benar. Jadi, ketika Allah membenarkan seseorang, ia tidak menjadikan orang itu benar tetapi menyatakan bahwa orang itu benar. Dengan kata lain Allah mendeklarasikan bahwa seseorang benar. Dasar pembenaran oleh Yesus Kristus adalah penebusan dan pendamaian manusia yang berdosa bukan “works of the law” (Rm. 3:24-25; Ibr. 2:17; 1Yoh. 2:2. 4:10).

    [57]

      Oleh karena itu, pembenaran berkenaan dengan manusia sebagai orang berdosa dan hal ini semata-mata berhubungan dengan aspek forensik dari karya penebusan Ilahi. Dengan kata lain, objek pembenaran Allah bukanlah orang benar tetapi orang yang berdosa, karena itu tidak boleh dipisahkan dari karya penebusan oleh Yesus Kristus.

  • Apakah yang melandasi Abraham, Daud, Tamar, dan para tokoh dalam Alkitab untuk tetap setia? Bagaimana mungkin mereka setia kepada sesuatu tanpa memiliki rasa percaya (beriman) bahwa sesuatu itu dapat memberikan kepada mereka sesuatu? Rasa percaya itulah iman dan iman yang membuat mereka setia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.  Hal ini juga yang dapat terlihat dengan jelas pada bangsa Israel. Bangsa Israel melakukan Taurat bukan karena mereka bangsa yang benar karena kesetiaan tetapi karena mereka percaya bahwa Allah yang memberikannya. Mereka percaya bahwa Allah yang memilih, membebaskan dari perbudakkan, memberkati, memelihara, dan menghukum mereka. Oleh karena itu, mereka sangat menekankan ketaatan kepada perintah Tuhan yang diberikan bagi mereka. Bukankah ini berarti bahwa mereka memiliki iman kepada Allah? Penulis berpendapat bahwa sepanjang sejarah umat Allah baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sikap iman memainkan peranan yang sangat penting. Walaupun dalam Perjanjian Lama, sikap iman jarang disebut sebagai “iman” namun sikap tersebut terimplikasi di sana dan sering diparafrasakan.

    [58]

  • Jadi, pembenaran harus dipahami sebagai berikut: manusia yang telah berdosa akan mendapatkan murka Allah (Hab. 1:13; Yoh. 3:36; Ef. 2:3; 5:6; Kol. 1:21; Gal. 3:10) namun oleh Yesus Kristus, manusia diselamatkan dari murka Allah (Rm. 5:9). Melalui Yesus Kristus, Allah mendeklarasikan pembenaran kepada manusia satu kali untuk selamanya dan bukan sebuah proses (Rm. 8:1).  Pembenaran tersebut diterima hanya oleh iman dan bukan perbuatan baik (Rm. 3:28). Pembenaran ini merupakan pengimputasian kebenaran Kristus atas manusia. Hal ini dapat terjadi karena karya substitusi Yesus Kristus bagi manusia – Yesus menanggung murka Allah terhadap dosa-dosa dan dengan sempurna menaati hukum Allah.  Ini berarti bahwa kasih karunia dan keadilan Allah dinyatakan bersama-sama di dalam pembenaran.

Kesimpulan 

Allah berdaulat memilih, memanggil, dan memakai siapa saja untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya. Manusia tidak dapat mengklaim bahwa Allah hanya memilih ini dan bukan itu atau itu dan bukan ini. Allah bebas melakukan kehendak-Nya.  Pergumulan Luther memang berbeda dengan rasul Paulus. Luther bergumul dengan masalah keselamatan pribadinya sedangkan Paulus bergumul mengenai kebenaran Allah yang mempersatukan orang Yahudi dengan non-Yahudi di dalam Kristus. Lalu, apakah Luther telah salah karena memaksakan pengalaman pribadinya dalam menafsirkan teologi Paulus?  Tidak juga berarti demikian sebab baik Paulus maupun Luther sama-sama bergumul bahwa semua orang dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan oleh Kristus (Rm. 3:24).

Oleh karena itu, Penulis berkesimpulan bahwa Martin Luther juga dipilih dan dipakai Allah untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya. Jika Allah tidak menyertainya maka Reformasi yang telah dilakukannya tidak tahan uji. Kekristenan masa kini, bagaimanapun juga, harus memberikan apresiasi yang tidak jauh berbeda seperti yang diberikan kepada Rasul Paulus. Gerakan Reformasi tersebut telah mengembalikan otoritas Alkitab pada posisi yang sebenarnya.  Bersyukur, karena di dalam sejarah kekristenan ada orang seperti Martin Luther yang dipakai Allah untuk mengembalikan Alkitab pada pengajaran yang murni, benar, dan sehat.

Sebaliknya, sekalipun hasil yang diberikan oleh para teolog “The New Perspective on Paul” memberikan dampak yang positif sebagai bahan pembelajaran mengenai konteks Yudaisme abad pertama, namun diperlukan juga kewaspadaan terhadap hasil-hasil tersebut yang mencoba menggunakan ilmu sejarah untuk menjelaskan teori-teori mereka. Mengapa? Karena sesungguhnya penekanan yang disampaikan oleh para teolog mengenai perspektif baru terhadap Paulus tidak jauh berbeda dengan pandangan kaum Skolastik yang berusaha menerangkan keajaiban rahmat Allah dengan alasan-alasan kemanusiaan dan akal budi.  Sama dengan Gereja Abad Pertengahan yang menganggap dapat menguasai rahmat dan membagikannya melalui surat penghapusan dosa dan sakramen. Bahkan tidak jauh berbeda pula dengan kaum Armenian yang memberikan porsi yang lebih besar terhadap peran manusia ketimbang Allah. Menjadikan manusia sebagai penentu kebijakan dan kedaulatan Allah.  Penekanan-penekanan tersebut seolah-olah menjadikan manusia sebagai subjek dan Allah sebagai objek dalam sejarah keselamatan.




               

[1]

James Dunn menyatakan bahwa penemuan kembali yang dilakukan oleh Luther mengenai Pembenaran oleh Iman adalah sesuatu yang dramatis. Untuk penjelasan lanjutan lihat, James D. G. Dunn, The Theology of Paul The Apostle, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2006, hlm. 336

[2]

Berbagai pandangan dari para teolog dalam kerangka perspektif lama mengenai Paulus telah dikemukakan dalam beragam cara. Literatur-literatur seputar Perjanjian Baru khususnya surat-surat Paulus diinterpretasikan dengan paradigma yang berbeda, sehingga tidak tertutup kemungkinan munculnya pro dan kontra terhadap penafsiran-penafsiran tersebut. Akan tetapi, kajian ulang terhadap perspektif lama mengenai Paulus dan teologinya perlu dilakukan dalam rangka mereview dan menjabarkan kembali konsep-konsep teologi reformatoris. Dalam hal ini, Penulis menggunakan beberapa pendapat dari para teolog reformatoris untuk menjelaskan bagian ini.

[3]

David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, hlm. 374

[4]

Erroll Hulse, Darah dan Api Kaum Puritan, Jakarta: Departemen Literatur dan Media Arastamar, 2002, hlm. 87-88

[5]

Penjelasan bagian ini merupakan risalah teologi dari buku Reformasi dan Teologi Reformed, karya Stephen Tong, Jakarta: LRII, 1994, hlm. 17-20

[6]

Paragraf ini dipaparkan dengan apik oleh W. J. Kooiman, Ibid, hlm. 83

[7]

George E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru jilid 2, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002, hlm. 191-192

[8]

Teori ini didiskripsikan kembali oleh Stephen Westerholm, Perspectives Old and New on Paul, The “Lutheran” Paul and His Critics, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Comapany, 2004, hlm. 119-122, berdasarkan penelitiannya pada buku Judaism and St. Paul, London: Max Goschen, 1914

[9]

ibid

[10]

ibid

[11]

W. D. Davies menyimpulkannya dalam bukunya, Paul and Rabbinic Judaism London: SPCK/

    Philadelphia; Fortress, 1955, hlm. 222

[12]

George E. Ladd, ibid, hlm. 191, mengutip pendapat G. F. Moore, Judaism vol. II (1927), hlm. 89-90

[14]

Deky Nggadas, Perspektif Baru mengenai Paulus (New Perspective on Paul (NPP), disampaikan pada tanggal 31 Oktober 2008 sebagai materi orasi kepada mahasiswa-mahasiswi SETIA di BUPERTA - Cibubur, hlm. 3

[15]

Lihat: Krister Stendahl, Paul Among Jews ang Gentiles and Other Essays, London: SCM Press LTD, 1977, hlm. 2-3

[16]

ibid., hlm. 12

[17]

Ibid., hlm. 11

[18]

ibid

[19]

E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion, Philadelphia: Fortress Press, 1977, hlm. 422 http://hanum.info/myweb2/indekx.php/wiki?view=mediawiki&article=Covenant...

[20]

E. P. Sanders, Paul and Palestinian Judaism, Philadelphia: Fortress Press, 1977, hlm. 555

[21]

N. T. Wright, What Saint Paul Really Said, Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1997, hlm. 133, dikutip oleh John Piper, The Future of Justification – A Respons to N. T. Wright, Illionis: Crossway Books, 2007, hlm. 18

[22]

Ibid, hlm. 19

[23]

Ibid, hlm. 19, 93

[24]

Wright, New Perspective on Paul, In Justification in Perspective: Historical Developments and Contemporary Challenges, ed. Bruce 1. McCormack, Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2006, hlm. 261, dikutip oleh John Piper, ibid, hlm. 20

[25]

Buku 2 Esdras juga dikenal sebagai 4 Ezra karena di dalam Vulgata, kitab Ezra, Nehemia, 1 Esdras, dan 2 Esdras (psl. 3-14) dihitung sebagai 1, 2, 3, dan 4 Ezra. Bahkan beberapa ahli Teolog modern berpendapat bahwa psl. 1-2 dalm kitab Esdras adalah 5 Ezra dan psl. 15-16 adalah 6 Esdras. Oleh karena itu, 4 Ezra hanya digunakan dalam psl. 3-14. Versi Syriakh dan yang lain juga memuat hanya pasal 3-14. Karya asli (mungkin dalam versi Ibrani atau Aram) merupakan sebuah tulisan apokalipsis yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi. Dalam kitab Katolik, 4 Ezra ditempatkan sebagai lampiran atau tambahan untuk masuk ke Perjanjian Baru dan kemudian menjadi lebih tepat untuk ditempatkan di dalam kumpulan kitab-kitab Pseudepigrafa. Karena memiliki kesamaan jenis dengan literatur-literatur apokalipsis dan juga berasal dari waktu yang sama, buku (kitab) ini dapat dikomparasikan dengan kitab Wahyu dalam kekristenan. Lihat: Everett Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, hlm. 441-442

[26]

ibid, hlm. 427

[27]

D. A. Carson & Douglas J. Moo, Ibid, hlm. 380

[28]

ibid

[29]

Ibid., pg. 381

[30]

Merrill C. Tenney, ibid., hlm. 141

[31]

ibid., hlm. 114-115, band. Larry R. Heyler, Exploring Jewish Literature of  the Second Temple Period, pg. 37-38

[32]

Merrill C. Tenney, ibid., hlm. 141-143

[33]

Jacob van Bruggen, Paulus, Pionier voor de Messias van Israël, Kampen: KOK, 2001, terjemahan belum direvisi

[34]

Anthony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah, Surabaya: Momentum, 2001, hlm. 175

[35]

Lebih lanjut Anthony Hoekema berpendapat, “salah satu alasan bagi kesalahpahaman ini dapat  ditemukan pada terjemahan standar untuk kata metanoe?. Versi Alkitab Latin Vulgata menerjemahkan kata ini menjadi poenitentiam agitae (harafiah, “do penance; menyesal”), yang menunjukkan pemahaman eksternal dari pertobatan seakan-akan pertobatan hanya terdiri dari melakukan sejumlah tugas tertentu untuk memuaskan tuntutan keadilan Allah. Versi Alkitab bahasa Inggris Katolik Roma, yaitu Douai Bible, di bagian Perjanjian Barunya yang diterbitkan Tahun 1582, meneruskan kesalahan ini dengan menerjemahkan metanoe? sebagai “menyesal.” Alkitab bahasa Jerman terjemahan Luther juga mengikuti tradisi Vulgata, menerjemahkan kata ini menjadi thut Busse, “menyesal.”…Berbagai versi bahasa Inggris umumnya menerjemahkan metanoe? dengan kata “repent” – kata yang sangat menekankan perubahan di sisi emosional, menekankan perasaan bersedih atas dosa di masa lalu.” Dikutip dari buku Diselamatkan oleh Anugerah, hlm. 176

[36]

ibid, hlm. 176-177

[37]

ibid, hlm. 178-179

[38]

Yusup A. Lifire menjelaskan bagian ini di dalam diktat “Yesusologi” yang diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswi jurusan Teologi/Kependetaan di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, khususnya ketika mempelajari materi mata kuliah Teologi Perjanjian Baru 1. band. Dengan G. E. Ladd, Teologi Perjanjian Baru, jilid 2, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002), hlm. 85-86, Robert H. Gundry, A Survey of The New Testament, third edition, Grand Rapids: ZondervanPublishingHouse, 1994, hlm. 73-74

[39]

Jacob van Bruggen, ibid, hlm. 209, penjelasan berikut akan mengikuti pandangan van Bruggen.

[40]

Ibid 

[41]

Ibid., hlm. 210

[42]

“Sanders sendiri mengakui bahwa kitab apokaliptik Yahudi di akhir abad pertama yaitu 4 Ezra tidak cocok untuk menjelaskan paradigma “Covenantal Nomism.” Kitab itu seperti buku yang menawarkan sebuah pandangan yang berada di masa Paulus.” ibid., pg. 380

[43]

Florentino Garcia Martinez & Eibert. J. C. Tigchelaar, The Dead Sea Scrolls, vol. 1 (1Q1-4Q273), Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1997, hlm. 157, 159

[44]

George E. Ladd, ibid., hlm. 270

[45]

Jacob van Bruggen, ibid, hlm. 194

[46]

ibid

[47]

ibid., hlm. 271. Ladd mereferensikan literatur-literatur intertestamental seperti 2 Macc. 7:9; Tes. Jud. 26:1; Apoc. Bar. 57:6; IV Ezra 7:21; 9:31; Jub. 23, untuk menjelaskan pemikiran tersebut.

[48]

Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, hlm. 350

[49]

ibid

[50]

Jacob van Bruggen, ibid, hlm. 202

[51]

bdk, Th. van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hlm. 6-7

[52]

Douglas Moo, The Epistle to The Romans, Grand Rapids; Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1966 hlm. 250.  Paulus menggunakan kata ?????????untuk menyatakan “setiap orang” (lih. Gal. 2:16). Hal ini membuktikan bahwa Paulus tidak sedang menunjuk kepada masalah nasionalistik tetapi idividualistik (a person).

[53]

ibid., pg. 209-210, 217

[54]

N. T. Wright, What Saint Paul Really Said?, Mineapolis: Fortress, 2005, hlm. 106, lih. Juga pembahasan hlm. 40-42

[55]

John M. Frame, The Doctrine of God, Phillipsburg: P&R Publishing, 1991, hlm. 447

[56]

Anthony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah, Surabaya: Momentum, 2006, hlm. 203-205

[57]

Anthony A. Hoekema, ibid., hlm. 208-209,  H. Ridderbos, ibid., hlm. 178

[58]

Benjamin B. Warwield, “Faith”, dalam Biblical and Theological Studies, ed. Samuel Craig, Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1952, hlm. 410-411. Tiga kata yang digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menunjuk kepada iman yaitu he’emin, b?tach, dan ch?s?h. he’emindari bentuk hiphil  dari kata aman yang brarti “menyebabkan atau mendukung” atau “menyebabkan menjadi teguh” dan jika diterapkan pada seseorang maka berarti “menyebabkan seseorang untuk mendukungmu” – dengan begitu berarti “mempercayai dan mempercayakan diri pada seseorang.” Pengertian ini terdapat dalam Kejadian 14:6 (Abraham), Yesaya 7:9; Habakuk 2:4; Mazmur 78:22.  B?tach berarti “yakin akan, bersandar pada, mempercayai” (Mzm. 25:2; 13:6a; 84: 13; Ams. 16:20; Yes. 26:3-4). Sedangkan kata ch?s?h berarti “mencari perlindungan” (Mzm. 57:2; 2:12; 25:20; 31:2; 91:4). Anthony Hoekema juga menjelaskan bagian ini dalam bukunya, Diselamatkan oleh Anugerah, hlm. 176-177

 

 

__________________

 

LaughingNever Give UpCool

bintang seven's picture

berarti

Demikian pula, Paulus menyatakan bahwa kebenaran karena ketaatan terhadap Taurat merupakan hal yang benar.  Perbedaannya adalah bahwa sekarang telah ada kebenaran yang lebih mulia dan lebih baik yaitu karena percaya kepada Yesus Kristus.

berarti ada 2 kebenaran? yg satu ketaatan thd taurat jg benar dan yg kedua kepercayaan kpd kristus? bgmna penjelasan atas 2 hal ini. terimakasih sebelumnya.

orang katanya hrs sungguh2 utk berusaha ke surga tp aku lain lagi aku ingin masuk neraka tapi sungguh aku tak bisa krn kesungguhan Kristus Yesus, itulah imanku by B7.

__________________

orang katanya hrs sungguh2 utk berusaha ke surga tp aku lain lagi aku ingin masuk neraka tapi sungguh aku tak bisa krn kesungguhan Kristus Yesus, itulah imanku by B7.