Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Scylla

victorc's picture

Teks: Luk. 11:42b
"Tetapi ... Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan."

Shalom, selamat malam saudaraku. Pernahkah Anda mendengar istilah "berlayar di antara Scylla dan Charybdis?"
Dalam mitologi Yunani kuno, dikisahkan oleh Homer bahwa Odyseus suatu kali berada di antara dua bahaya sekaligus. Yang satu adalah pusaran air yang dahsyat di pantai Sisilia, yang disebut Charybdis. Dan yang satu lagi adalah monster laut berkepala enam yang disebut Scylla. (1)
Dalam ungkapan modern, berlayar di antara Scylla dan Charybdis bermakna suatu situasi tidak menyenangkan di antara dua bahaya sekaligus, ibaratnya harus mengemudikan perahu di antara pusaran air dan batu karang yang tajam, atau mengendalikan pesawat di antara dua tornado, kira-kira seperti itulah.
Profesor Murray Gell-Mann, pencetus teori quark dari Caltech, juga kerap menasehati para fisikawan muda, bahwa mereka mesti menjaga keseimbangan antara realisme dan abstraksi dalam membangun sebuah teori fisika. (3)
Saya kira itu saran yang baik, dan saya juga berusaha mengikuti nasehat tersebut, karena abstraksi berlebihan dalam membangun suatu teori hanya akan menjauhkan seorang ilmuwan dari kenyataan yang sebenarnya.

Overhaul
Dalam ilmu ekonomi juga dikenal istilah berlayar di antara Scylla dan Charybdis, misalnya bagaimana mengupayakan pemerataan sambil tetap menjaga pertumbuhan. Atau bagaimana pemerintah mesti menjaga keseimbangan antara ekonomi industri besar dan industri rakyat, atau antara meningkatkan pajak dan menjaga gairah ekonomi. Idiom ini menyiratkan bahwa jika sebuah pemerintahan kurang bijak dalam memilih kebijakan yang seimbang, maka perahu ekonomi akan membentur di antara salah satu karang dan bisa kandas.
Dalam konteks ini, kita mesti mengacungkan jempol kepada pemerintahan kini, karena berani menempuh pembangunan infrastruktur secara masif. Ini suatu hal yang sudah lama terabaikan selama puluhan tahun. Tentu langkah tersebut merupakan bagian dari "economy overhauling", dan ini hanya mungkin karena kepercayaan publik kepada pemerintahan membuat pak Jokowi memiliki ruang fiskal untuk menerapkan berbagai kebijakan yang kurang populer seperti mengurangi subsidi energi dan listrik.
Tentu ini hal yang baik, namun setelah memasuki tahun ketiga, kini saatnya untuk "reality check" sambil mengantisipasi ke depan.
Ada beberapa hal yang layak dicatat:
a. Masa 3 tahun tersebut sudah lumayan menunjukkan hasil: sekian ribu kilometer jalan baru, sejumlah bandara udara dll. Masih ada puluhan bendungan yang akan dibangun dalam rangka memenuhi target 35000MW.
b. namun agaknya ada juga yang terlewatkan, yakni fokus ekonomi pada pembangunan infrastruktur agaknya membuat banyak tugas lain agak terbengkalai, misalnya pengembangan UMKM, kredit mikro, industri kreatif, dan juga pertanian dan perikanan.(2)
c. Dalam bidang perpajakan, ada banyak inovasi bagus seperti amnesti pajak. Namun setelah digembar-gemborkan berhasil, kok ya hasilnya tidak nampak dalam ekonomi riil. Saya masih ingat tayangan televisi tahun lalu ketika Kepala BKPM Thomas Lembong menjanjikan bahwa hasil amnesti akan segera menopang ekonomi riil, tapi sampai sekarang agaknya janji itu belum terrealisir.
d. Menkeu tampaknya berkeyakinan bahwa pembangunan bisa dan harus bisa dibiayai oleh penerimaan pemerintah (pajak). Dan karena itu pajak terus digenjot, tapi upaya masif ini belakangan menimbulkan indikasi menjadi kontraproduktif terhadap gairah dunia usaha pada umumnya. Banyak yang mengeluhkan mereka merasa dikejar-kejar terus oleh petugas pajak, padahal mereka sudah mengikuti amnesti dan melaporkan pajak mereka.
e. memang ada banyak perubahan tajam yang hendak diraih pemerintah, dan itu membuat banyak orang terpaksa mengubah kebiasaan dari ekonomi pemburu rente (makelar), minim inovasi, dan cenderung ke arah spekulasi, menjadi ekonomi yang lebih produktif. Bukan tidak mungkin, kalangan yang paling sering berkoar-koar bahwa ekonomi memburuk adalah yang tadinya diuntungkan oleh ekonomi pemburu rente (rent seeking economy) ini, yang telah menghisap kekayaan negara selama berpuluh tahun. Misalnya mafia di sekitar kartel minyak di Pertamina.

Lalu apa yang mesti ditempuh ke depan?
Beberapa hal yang kiranya layak dipertimbangkan:
a. Dalam satu dua tahun ke depan, diperkirakan akan banyak gejolak politik akibat pilkada dan pilpres. Karena itu, pemerintah agaknya perlu lebih realistis bahwa tidak banyak lagi ruang untuk menggenjot proyek-proyek infrastruktur yang tidak begitu populer, karena dapat mengganggu kesinambungan ekonomi negara. Selain itu perlu dikaji mana proyek infrastruktur yang memang berdampak pada pertumbuhan dan mana yang kurang berdampak.(4)
b. Perlu reorientasi kebijakan ke arah UMKM dan industri kreatif serta perikanan dan pertanian, karena para pelakunya cenderung lebih resisten terhadap gejolak.
c. pemerintah perlu lebih memperhatikan stabilitas industri perbankan dan juga BUMN yang banyak memiliki utang LN. Khususnya yang akan jatuh tempo dalam 2-3  bulan ke depan hingga akhir tahun 2017. Mungkin perlu tim khusus untuk memastikan agar tidak ada perusahaan atau bank besar yang gagal bayar utang (default). 
d. hasil amnesti pajak sejak tahun lalu hendaknya dilaporkan secara transparan, dan jika memungkinkan segera diberdayakan untuk menggerakkan roda ekonomi.
e. mengenai peningkatan pajak, memang itu perlu namun peningkatan penerimaan pajak 14% tentunya tidak harus berarti ekonomi sedang bertumbuh. Justru bisa jadi, peningkatan pajak mengakibatkan ekonomi menjadi lesu dan berubah menjadi kontraktif. Mungkin perlu kebijakan khusus, mana sektor-sektor industri yang diberikan keringanan atau malah pembebasan pajak (misalnya perikanan, pertanian dan industri kreatif), sementara sektor-sektor yang dianggap belum prioritas bisa ditingkatkan pajaknya. Perhatikan bagaimana rencana Trump untuk memangkas pajak secara signifikan untuk kelas menengah, karena merekalah penggerak roda ekonomi.(5) Memang kebanyakan ekonom tidak setuju akan pemangkasan pajak, namun jangan keliru: banyak keresahan bisa timbul akibat kebijakan pajak yang terlalu menekan. Saya kira, "tax cut" jika diterapkan dengan tepat, merupakan salah satu langkah yang bisa ditempuh pemerintah dalam situasi krisis, untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak.(6)(7)(8) Dan bisa jadi, tax cut merupakan salah satu bentuk "subsidi" namun lebih sehat dan mendidik, ketimbang memberikan subsidi tunai langsung. Tentu ini semua perlu kajian dan sosialisasi yang tepat.

Penutup
Demikian beberapa saran praktis kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di negeri ini. Sebagai penutup, tentunya penulis berharap agar pemerintahan memahami situasi kini mirip berlayar di antara Scylla dan Charybdis.

Versi 1.0: 5 oktober 2017, pk. 10:14
VC

Referensi:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Between_Scylla_and_Charybdis
(2) http://sabdaspace.org/oranye
(3) http://www.nytimes.com/books/first/j/johnson-beauty.html
(4) David Canning & Peter Pedroni. Does infrastructure cause long term economic growth? Url: http://web.williams.edu/Economics/wp/pedroniinfrastructure.pdf
(5) https://www.bloomberg.com/news/articles/2017-08-14/trump-will-get-his-tax-cuts-vast-majority-of-economists-believe
(6) https://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2017/04/taxing-times
(7) http://www.moneychimp.com/articles/econ/tax_cuts.htm
(8) https://www.thebalance.com/job-creation-ideas-4-ways-that-work-best-3305521

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute