Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Schumacher

victorc's picture

Teks: Lukas 16:10
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Izinkan kali ini saya menulis tentang pengaruh 3 orang yang bernama keluarga Schumacher dalam perjalanan pemikiran saya. Tentu mereka mempengaruhi secara tidak langsung, baik melalui tulisan maupun aksi-aksinya.
Schumacher pertama yang ikut berpengaruh adalah Georg Schumacher, rekan peneliti dari Prof. Laurent Nottale (Observatoire de Paris - Meudon). Lihat (1)(2).
Saat itu saya sedang antusias dengan model gelombang untuk menjelaskan orbit planet-planet dalam tata surya, dan tulisan kedua orang tersebut ikut memberikan motivasi kepada saya, khususnya dalam kurun waktu 2000-2002, ketika saya mulai menulis paper ilmiah saya yang pertama yang kemudian diterbitkan oleh sebuah jurnal di Kanada (3). Sekalipun demikian ada berbagai hal yang membedakan model tata surya Nottale-Schumacher dan model yang saya kembangkan. Intinya, mereka menggunakan persamaan gelombang Schrodinger sementara saya menggunakan model kuantisasi Bohr.
Namun setelah paper itu terbit, sepertinya hidup saya justru sedang memasuki
periode "lembah kekelaman" jika mau mengutip Mazmur 23. Dan di saat-saat yang membuat frustasi itulah saya sering termotivasi oleh Michael Schumacher, pembalap F1 asal Jerman yang begitu fenomenal dan kerap menjuarai perlombaan F1 (4).

E.F. Schumacher
Seorang Schumacher lagi yang ikut mewarnai corak pemikiran saya adalah E.F. Schumacher, seorang ekonom asal Jerman yang menulis buku populer namun dengan pesan mendalam.(5) 
Banyak orang terkesan dengan gagasan beliau: teknologi tepat guna, namun saya kira gagasan Schumacher jauh lebih luas daripada itu. Mungkin idenya tentang ekonomi untuk orang-orang biasa cocok untuk menafsirkan gagasan ekonomi kekeluargaan yang termaktub dalam UUD 1945 pasal 33.
Bahkan kalau mau lebih tajam, gagasan Schumacher dapat diperluas menjadi 7 bidang:
a. Appropriate technology: bagaimana teknologi dapat menjawab persoalan-persoalan masyarakat, bukannya hanya melayani industri besar
b. appropriate science: bagaimana sains tidak mengawang dan begitu abstrak (big science) namun dapat berperan nyata dalam kemaslahatan masyarakat
c. Appropriate mathematics: tentu bukan maksudnya untuk mengurangi arti penting pure math dan applied math, namun mungkin juga perlu dikembangkan bidang baru yaitu: appropriate math, yakni matematika yang memang bertujuan membantu menyelesaikan problem-problem yang dihadapi oleh teknologi tepat guna dan sains tepatguna.
d. Appropriate economics: bagaimana ekonomi bukan hanya melayani industri dan institusi finansial yang "too big to fail," namun juga menjawab persoalan nyata masyarakat, sebagai contoh Grameen Bank-nya Dr. Muhammad Yunus.
e. appropriate agriculture: bagaimana mengembangkan panduan yang tepatguna bagi peningkatan produksi dan kesehatan tanaman, baik buah, sayuran, padi dll. Mungkinkah bisa dikembangkan apps sederhana untuk memberikan petunjuk takaran pupuk organik yang tepat untuk semua jenis tanaman, misalnya.
f. Appropriate medicine: bagaimana industri kesehatan dapat menjadi jawaban yang terjangkau bagi problem masyarakat kecil, bukannya menawarkan solusi dengan biaya sekian puluh juta atau sekian ratus juta untuk suatu penyakit kronis. Intinya bagaimana menyediakan "medicine for the have nots, as well as for the have." BPJS adalah suatu langkah awal yang baik, karena menjangkau secara nasional, namun masih banyak praktek medis yang perlu dibenahi.
g. Appropriate theology: bagaimana teologi dapat lebih dekat dengan orang kebanyakan, seperti Yesus yang kerap menggunakan medium narasi (bercerita) untuk menyampaikan pesan.

Gereja kecil
Apakah Anda seorang anggota jemaat di sebuah gereja sederhana, kecil di pinggiran kota atau di desa? Apakah jemaat di gereja Anda kerap membicarkan gereja anu di kota X yang tiap ibadah dikunjungi hingga 5000-10000 orang?
Memang banyak orang Kristen tampaknya silau dengan popularitas, bahkan kerap menyamakan populer dengan penyertaan Tuhan. Mungkin ini yang disebut sindrom popularitas.
Padahal, kalau popularitas itu identik dengan penyertaan Tuhan, maka Justin Bieber, Shakira atau Ariana Grande lebih cocok menjadi pendeta dibandingkan artis. (6)
Sebagai seorang penatua di salah satu gereja mini (untuk tidak menyebut kecil), sejujurnya saya juga sering gelisah dengan gejala tersebut, dan saya sering terpikir bahwa memang tidak ada yang dapat kita lakukan...wong itu fenomena alamiah. Benarka demikian?
Memang dalam metematika nonliner ada aturan yang disebut hukum Zipf, intinya yang kaya akan semakin kaya dan yang besar akan semakin besar. Jika ini diterapkan kepada lingkungan gereja, bukankah itu alamiah jika gereja besar akan terus membesar dan menjadi megachurch?
Namun, pagi ini Tuhan menyatakan suatu hal kepada saya:

"Aku tidak pernah menyuruh orang membuat megachurch..."

Ya, kalau dipikir, tidak ada dalam teks Matius 28:

"Jadikanlah sekalian bangsa murid-Ku, dan bangunlah sebanyak mungkin megachurch."

Mungkin ini tugas para pimpinan sinode di gereja-gereja agar mengerem nafsu untuk jor-joran membangun megachurch dengan kapasitas 50000-100000. Hal itu lebih mirip membangun menara babel daripada memuliakan Tuhan.
Kembali pada tema Small is beautiful, mungkin gereja perlu menemukan kembali rasa syukur dan kehangatan dalam gereja sederhana dan kecil, bahkan di pelosok-pelosok desa. Dengan kata lain, mungkin para pimpinan sinode perku memikirkan konsep gereja yang lebih terdesentralisir daripada membangun megachurch sebanyak mungkin. Lihat misalnya buku Trebilcock (7).*

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 25 juli 2017, pk. 11:51
VC

*Catatan: sudah 3 tahun ini saya berburu buku Kristen yang mengupas seluk beluk gereja kecil, namun sayangnya hanya ketemu satu ini. Pernah saya lihat buku ini dalam bahasa indonesia di sebuah toko buku kristen, namun ketika saya ke situ lagi sudah lenyap. Dan penjaga toko buku tidak tahu di mana mesti memesan buku tersebut. Jadi jika ada di antara pembaca yang tahu di mana dapat memesan buku Trebilcock ini, tolong japri saya ya. Thx

Referensi:
(1) Laurent Nottale, Georg Schumacher. 1997. Url: http://adsabs.harvard.edu/abs/1997A%26A...322.1018N
(2) url: http://www.obspm.fr
(3) jurnal Apeiron, january edition, 2004. url: http://redshift.vif.com.
Lihat juga https://core.ac.uk/display/35287053
(4) http://www.michael-schumacher.de/en/
(5) E.F. Schumacher. Small is beautiful: economics as if people mattered. url: https://www.ee.iitb.ac.in/student/~pdarshan/SmallIsBeautifulSchumacher.pdf
(6) https://sojo.net/articles/megachurch-vs-minichurch-do-popularity-and-growth-really-matter
(7) Robin F. Trebilcock. The small church at large: thinking local in global context. Ebook version.

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute

jesusfreaks's picture

Struktur Mega Church ;

Sebenarnya tidak ada masalah dengan MEGA CHURCH, paling tinggal meng evaluasi struktur organisasinya.

Kadang gereja kecil saja gak jelas juga. sebagai contoh gereja saya, ada 150KK tapi pelayannya/majelisnya lebih dari 20, diluar guru sekolah minggu.

pertanyaannya apa yang dilakukan oleh lebih dari 20 majelisnya ?!?!

maaf beribu maaf, sulit untuk diungkapkan dengan kata kata.

Mini or Mega sekarang ini, mungkin sama sama tidak jelas. kalau ada saya ingin mengunjunginya.

tapi saya pernah puas dengan sebuah pelayanan di GKI Palopo - di Sulawesi Selatan. hingga saat ini menurut saya itu gereja terbaik yang pernah saya berjemaat di dalamnya.

__________________

Jesus Freaks,

"Live X4J, Die As A Martyr"

-SEMBAHLAH BAPA DALAM ROH KUDUS & DALAM YESUS KRISTUS- 

victorc's picture

@JF: megachurch berpotensi masalah...

Tidak saja karena para pendetanya jadi merasa spt superman, dikawal 10 orang yang kekar dst. Selain itu sy sering mendengar tuntut-menuntut kalau sudah urusan aset megachurch. Misalnya, Pdt. Yonggi Cho di korea dituntut sekian juta dolar krn menggelapkan dana gerejanya, juga ada pendeta di singapore sy dengar terkena tuntutan krn menggunakan dana gereja untuk mempromosikan istrinya jd penyanyi. Lalu kemarin sy membaca di Surabaya Pos ada eksekusi pengadilan krn tuntutan seorang pendeta muda kpd pendeta seniornya. Itu hal-hal yang saya amati, selain yang sudah jelas yaitu terjadinya alienasi di megachurch, orang hanya tenggelam dalam massa, dan kurang menjadi subyek. Kalau di gereja kecil misalnya di pedesaan atau kota kecil, semua jemaat saling mengenal dan saling menguatkan. Namun kalau ada yg Anda tidak setuju, ya silakan tulis artikel ttg pendapat Anda. Bgm?
VC
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute