Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Penyakit Bangsaku

ely's picture

"Inilah gambaran bangsaku, bangsa yang aku akui, aku cintai ini. Bangsa Indonesia, yang aku tahu dari dulu hingga saat ini terus mengidap penyakit yang sama, penyakit yang belum sembuh dan kian menjadi parah."

Keringat sudah sedari pagi membasahi tubuhku, dan sore ini tubuhku kembali mengeluarkan keringat, sesaat saja kering ketika siang tadi berada di ruang ber-AC yang sejuk. Setelah menyelesaikan semua urusan di kantor aku dan teman-temanku kembali meninggalkan ruangan sejuk itu untuk pulang, dengan memaksa masuk ke sebuah bus yang penuh sesak, namun sekarang sudah bisa kembali sedikit lega, karena sudah berganti kendaraan. Bisa duduk dengan nyaman, menjulurkan kaki, di sebuah angkot, kendaraan terakhir yang akan mengantarku pulang hingga ke tempat tujuan, di iringi beberapa kali alunan gitar dan gemericik suara akibat goncangan botol dari musisi-musisi jalanan.

Temanku, yang duduk di sampingku, menyenggolku dengan bahunya,  berbisik “kok banyak pengemis ya di angkot”, aku langsung menyahutnya “sssstttttt, ini bukan pengemis, ini pengamen, mereka berbeda, nanti ku jelaskan” kataku berbisik kembali pada temanku, berharap seorang anak yang saat itu sedang duduk di ambang pintu angkot sambil menyanyi dan menggoyangkan botol berisi butiran beras, tidak mendengar bisikan kami. Demikian, ketika kami makan malam di sebuah warung, aku menjelaskan kepada temanku tentang perbedaan seorang pengamen dan pengemis, sekalipun mereka memiliki kesamaan “sedang berharap ada tangan yang terulur untuk memberi”.

Tontonan seperti ini akhirnya sangat biasa menjadi tontonanku. Aku tidak merasa heran lagi, seperti temanku yang saat itu berada di sampingku. Sangat mudah bagiku tergerak mengulurkan tangan kepada anak-anak dari pada mereka yang sudah dewasa, karena suara kanak-kanak mereka selalu mengingatkan pada adik bungsuku yang masih duduk di bangku SD. 

Tidak hanya musisi jalanan, di sini aku juga sudah terbiasa untuk tidak asing dengan anak-anak jalanan lainnya. Seorang ibu yang duduk/berbaring di pinggir jalan bersama anaknya yang masih kecil, meletakkan sebuah kaleng di depan mereka sambil menengadah menatap orang-orang yang lewat. Memperhatikan segerombolan anak-anak yang berjalan bersama-sama dengan baju compang camping dengan tatapan mata yang tidak terlihat lagi lugu, tetapi liar memperhatikan setiap kesempatan, mereka berlari ke sana kemari, berpeluh tidak peduli panas dan hujan. Anak-anak yang berebut membawa payung menunggu orang-orang yang keluar dari angkot, dengan harapan ada orang-orang yang tidak ingin berbasah-basah seperti mereka menumpang dipayung mereka. Seorang anak kecil menggendong bayi kecil di simpang-simpang jalan kota tanpa memberi topi atau penutup kepala kepada sang bayi yang berpanas-panas.

Secara pribadi hatiku merasa teriris dengan tontonan ini, aku sangat ingin melakukan sesuatu, namun itu hanya sebuah keinginan tanpa tindakan. Aku  membayangkan jika adik bungsuku ada di antara mereka. Saat-saat seperti itu aku sangat menyadari bahwa diriku, termasuk dari antara mereka yang tidak peduli, seorang munafik, hanya kasihan tapi belum juga melakukan sesuatu dan terbiasa untuk tidak peduli.

Suatu waktu sempat terpikir tentang orang tua anak-anak jalanan ini. Bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka mendidik dan memperhatikan anak-anak mereka, bagaimana dan bagaimana ??? pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa aku jawab sendiri, tetapi tetap kembali ku jadikan pertanyaan lagi.

 

***

 

Sejauh ini, memang tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk mereka, sekalipun mereka sudah termasuk dari beban-beban yang ada di beberapa bagian otakku.

Kadang-kadang jika sudah tidak berpikir panjang, pemerintahlah yang akan menjadi sasaran empukku untuk dihakimi sebagai biang keladi dari semua ini. Kesalahan ini sangat masuk akal untuk dilimpahkan kepada para pemimpin bangsa dan sistemnya, sangat-sangat mungkin untuk pikiranku yang dangkal. 

Namun, sesaat ketika teringat akan ketidakpedulianku pada mereka, aku tersentak dan kembali menghakimi diriku sendiri, aku termasuk di dalamnya, seorang yang tidak peduli sepertiku pun adalah sebagian dari menyebab.

Sangat-sangat bangga kepada mereka, yang peduli kepada anak-anak ini. Aku sangat senang ketika aku mendengar cerita tentang seorang sahabat SS bahwa di sini (SS) ada orang yang seperti itu, bahkan ada beberapa orang yang dari tulisannya adalah mereka yang peduli. Aku bangga pada kalian. Aku masih belajar merangkak untuk menjadi orang yang peduli, lewat apa yang saat ini sedang aku kerjakan.

 

***

 

Inilah gambaran bangsaku, bangsa yang aku akui, aku cintai ini. Bangsa Indonesia, yang aku tahu dari dulu hingga saat ini terus mengidap penyakit yang sama, penyakit yang belum sembuh dan kian menjadi parah.

Bahkan aku sebagian dari luka-luka yang ada yang berusaha untuk sembuh.

Ketika membaca sebuah buku, yang membahas penyakit bangsa ini, aku disadarkan pada sebuah kebudayaan yang sudah tidak tabu. Aku berkesimpulan itulah penyakit utama di bangsa ini, yang menyebabkan luka-luka semakin besar seperti kanker ganas yang menyebar sangat cepat.

Bahkan akhir-akhir ini, hal tersebut menjadi sangat trend di masyarakat khususnya di kalangan mereka yang setiap hari menjadi model dari masyarakat bangsa ini, khususnya kaum muda.

Aku pun sadar bukan “pelaku” yang menjadi penyebab utama dan tidak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini. Merekapun dapat dipastikan adalah korban dari korban-korban sebelumnya.

Beberapa saat, sempat aku membahas hal ini dengan seorang temanku yang alumni psikolog, dia mengatakan “bukan itu penyebab utamanya, penyebab utama bahkan telah terjadi jauh sebelum seorang anak lahir, dan itu adalah sikap yang salah ketika kedua orang tua melakukan hubungan seks, sehingga lahirlah seorang anak yang sifatnya terbentuk dari sikap kedua orang tuanya” begitu kurang lebih yang aku bisa tangkap dari penjelasan temanku. Pengetahuan yang baru bagiku, aku bahkan sama sekali tidak pernah terpikir ke arah itu. Aku masih berada pada akibat dari sikap yang salah terhadap hubungan yang salah dari kedua orang tua, yang istilah kerennya sering disebut “kawin cerai”, yang akhirnya merembet kepada akibat-akibat lain yang bermunculan, pola asuh yang salah, kurang perhatian/kasih sayang kepada anak, dan akibat-akibat lainnya yang terus merembet kepada generasi-generasi berikutnya.

Kebanyakan anak-anak Indonesia dibesarkan dengan kurang kasih sayang, entah itu dari ayah atau dari ibu, sehingga mereka bertumbuh dewasa menjadi seorang yang tidak dapat atau mampu mengasihi karena kasih sayang itu sendiri tidak pernah mereka dapatkan dari siapapun, terlebih dari orang tua mereka. 

Penyakit ini tentu sudah sangat parah, bahkan sepertinya mustahil untuk disembuhkan. Tapi tentu setiap kita yang percaya masih memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil untuk Sang Pencipta untuk disembuhkan.

Mari kita bergandengan tangan untuk berdoa bagi bangsa tercinta dan setiap orang yang berusaha untuk menyembuhkan diri, supaya dapat menyembuhkan yang lain juga.

Selamat menyongsong tahun baru 2012.

Tuhan memberkati 
__________________

Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ...

guestx's picture

@ely, setiap orang mampu mengasihi, tapi...apakah mau?

 

... sehingga mereka bertumbuh dewasa menjadi seorang yang tidak dapat atau mampu mengasihi karena kasih sayang itu sendiri tidak pernah mereka dapatkan dari siapapun, terlebih dari orang tua mereka. 

rasa-rasanya gw kurang sependapat. kasih sayang dari orang tua bukanlah prasyarat untuk dapat mengasihi orang lain.

satu contoh yg gw lihat di lingkungan gw, ada seorg anak cewe (satu-satunya ce, punya adik co), yg dibesarkan dgn taburan kasih sayang apalagi dia punya gangguan kesehatan tertentu semasa kecil sehingga perhatian ortunya luar biasa. si anak skrg sdh dewasa dan menikah, tetapi hidup dlm rumahtangga yg super runyam krn dia tak bisa mengasihi suaminya dgn wajar. penuh kecemburuan, penuh amarah. dia jg tak bisa mempercayai org lain mengasihinya dgn sungguh-sungguh. penuh syak wasangka, penuh tuntutan.

yang nyata pada dirinya adalah keinginan untuk menjadi orang yang selalu dituruti kemauannya. kasih sayang orang-tua yang melimpah telah menjadikannya sebagai pribadi yang egoistik.

kemampuan dan kebiasan mengasihi, menurut gw, adalah hasil dari pembelajaran dan keputusan pribadi. org yg dibesarkan di lingkungan yg penuh kasih sayang memang lebih mudah belajar mengasihi karena punya role model, tp tdk otomatis memiliki perilaku mengasihi. org yg tdk beruntung mendapat lingkungan yang saling mengasihi, silakan belajar dari kehidupan yg keras bahwa kasih adalah jawaban untuk keporakporandaan kehidupan di sekitarnya.

Seseorang mengajarkan bahwa mengasihi adalah perilaku utama seorang manusia. Orang ini juga mengajarkan bahwa Pencipta Alam Semesta mengasihi setiap orang, dan untuk yg tak punya role model bagaimana mengasihi, bolehlah meneladani apa yang dilakukanNya sebagai pengejawantahan kasih tersebut. kalau setuju dgn ajaran ini, maka terlepas mendapat kasih sayang dari orangtua atau tidak, setiap org yang MAU mengasihi seharusnya MAMPU mengasihi. 

... setiap orang yang berusaha untuk menyembuhkan diri, supaya dapat menyembuhkan yang lain juga.

setuju! titik awal untuk pemulihan adalah kesadaran bahwa kita menanggung 'penyakit' tertentu. dan sementara memulihkan diri sendiri, masing-masing kita menjadi pendukung bagi pemulihan yang lain.

selamat menyongsong kesadaran baru di setiap hari yang baru.

 

__________________

------- XXX -------

ely's picture

@guestx, Egois

 

Salam guestx,

Saya tidak tahu apakah anda sependapat atau tidak dengan ajaran dari seseorang yang anda kutip dalam komen anda yang saya kutip dibawah ini,

"Seseorang mengajarkan bahwa mengasihi adalah perilaku utama seorang manusia. Orang ini juga mengajarkan bahwa Pencipta Alam Semesta mengasihi setiap orang, dan untuk yg tak punya role model bagaimana mengasihi, bolehlah meneladani apa yang dilakukanNya sebagai pengejawantahan kasih tersebut. kalau setuju dgn ajaran ini, maka terlepas mendapat kasih sayang dari orangtua atau tidak, setiap org yang MAU mengasihi seharusnya MAMPU mengasihi. "

Tapi saya sependapat dengan kalimat awalnya mengasihi adalah perilaku utama seoranga manusia. Namun menurut saya ada beberapa tahap yang terbagi lagi dalam kasih.
Tahap awal/dasar, Manusia diciptakan untuk mengasihi diri sendiri (ego),
Segala sesuatu yang dilakukannya berpusat untuk mengasihi diri sendiri.
Tahap selanjutnya, jika dia mendapat kasih dari Tuhan/sesama, dia mulai akan mampu berbagi kasih kepada Tuhan/sesama, tidak lagi hanya berpusat pada diri sendiri.
Nah, yang saya maksudkan dari tulisan saya di sini, 
... sehingga mereka bertumbuh dewasa menjadi seorang yang tidak dapat atau mampu mengasihi karena kasih sayang itu sendiri tidak pernah mereka dapatkan dari siapapun, terlebih dari orang tua mereka. 

Adalah kasih yang berada pada tahap selanjutnya, dan ini tidak lepas dari kasih yang dilakukan secara benar.
Dari cerita anda tentang seorang yang dikasihi tetapi tidak mau mengasihi, saya berpendapat bahwa kasih yang ia peroleh adalah kasih yang dilakukan secara tidak benar oleh orang tuanya. Kasih yang tidak mendidik, sehingga kasih tersebut bukannya membangun dirinya tetapi menghancurkan, dan ini menurut saya kasih yang salah, dan itu bukan kasih yang sesungguhnya.
Kasih adalah mendisiplinkan ketika seseorang melakukan kesalahan, merangkul ketika seseorang lemah, mengangkat ketika seseorang terjatuh dan menuntun ketika tak tahu.
dan bukan,
Terus menerus memberi tanpa memperhatikan porsi yang ia butuhkan. Ini akan berakibat fatal seperti yang terjadi pada seseorang yang anda ceritakan di atas.
Entah anda sependapat atau tidak, saya tetap berpendapat bahwa mustahil seseorang dapat mengasihi orang lain jika ia belum terlebih dulu menerima kasih itu, terlebih kasih dari Tuhan, sekalipun ia mau melakukannya. Saya berpendapat bahwa ketika seseorang mampu mengasihi orang lain itu adalah anugrah khusus yang ia terima dari Tuhan, karena ia mampu menikmati kasih dari Tuhan.
Terimakasih guesx.
Selamat Tahun baru guesx, ^_^

 

__________________

Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ...

guestx's picture

@ely, hampir sependapat

Entah anda sependapat atau tidak, saya tetap berpendapat bahwa mustahil seseorang dapat mengasihi orang lain jika ia belum terlebih dulu menerima kasih itu, terlebih kasih dari Tuhan, sekalipun ia mau melakukannya.

gw hampir sependapat.

dalam pengertian gw, kalimat di atas dapat ditulis menjadi :

setiap orang dapat mengasihi orang lain jika ia percaya, menyadari dan mengakui bahwa ia telah menerima kasih dari Tuhan, meskipun orang-orang terdekatnya - termasuk orangtuanya - tidak mengasihinya ataupun mengasihinya dengan cara yang salah.

dalam pemahaman gw, tindakan mengasihi adalah hasil dari pembelajaran dan keputusan logika. andaikan gw dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kanibal yang tak punya "kasih" dalam kosa kata tribalnya, jika gw mau menerima ajaran ada Tuhan yang mengasihi gw dan gw dituntut untuk mengasihiNya dan sesama gw, maka gw akan mampu mengasihi. jika gw ternyata tidak mampu mengasihi karena background gw itu, maka gw akan berhenti memercayai ajaran Seseorang yang mengatakan hukum kasih adalah hukum yang utama. 

penyakit bangsa ini memang sudah parah, Ely. sementara kita memberantas penyebabnya (termasuk yang sudah membudaya), gw percaya bahwa penyembuhannya harus dimulai dengan kesadaran bahwa  prinsip mengasihi sesama manusia harus menjadi sumber dari segala sumber hukum dan perilaku berbangsa.

selamat menjalani tahun baru 2012. Tuhan mengasihi.

__________________

------- XXX -------

ely's picture

@guestx, Allah mengasihi manusia melalu sesama manusia

Setiap orang dapat mengasihi orang lain jika ia percaya, menyadari dan mengakui bahwa ia telah menerima kasih dari Tuhan, meskipun orang-orang terdekatnya - termasuk orangtuanya - tidak mengasihinya ataupun mengasihinya dengan cara yang salah

 

Aku sependapat dengan kalimat yang anda tulis di atas, namun tetap pada prinsip bahwa ia telah mendapatkan kasih dari seseorang, yang mungkin tidak ia kenal.

 Seseorang dapat mengenal/mengalami kasih Allah ketika ada seseorang yang Allah pakai untuk memperkenalkan dia kepada kasih itu. Sekalipun mungkin bukan orang secara langsung, mungkin melalui tulisan dan media lainnya.

Dan orang yang dipakai Allah sebagai alatnya adalah mereka yang sudah mengalami kasih-Nya juga melalui orang lain, sehingga mereka dapat menyampaikan tentang kasih itu dengan kasih pula.

Hanya saja yang ingin saya tekankan di sini adalah tentang peran orang tua yang sangat penting bagi anak-anaknya. Saat ini status saya memang bukan orang tua dan belum memiliki pengalaman untuk mendidik seorang anak, tapi saya menyadari hal ini dari sisi saya sendiri sebagai seorang anak.

Dorongan dari banyak orang tidak begitu mendorong jika orang tua sendiri tidak mendorong, pujian dari banyak orangpun tidak terasa berarti ketia orang tua tidak mengakui, ketika orang tua memarahiku itu lebiih menyakitkan dari pada banyak orang yang memarahiku. Entah, sampai sekarang aku belum mengetahui mengapa seperti itu, tetapi itulah yang aku rasakan dan alami, dan aku berpikir hal yang samapun terjadi kepada orang lain. Atau mungkin termasuk anda?

 

Oia, ketika guesx bilang hampir sependapat, ada indikasi bahwa tidak sepenuhnya sependapat.... ??? ^^ 

terimakasih guestx ...

__________________

Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ...

Josua Manurung's picture

peran orangtua

orangtua... berperan sangat besar dalam membentuk karakter anaknya...

pesan yang tidak sampai kepada kebanyakan orangtua jaman sekarang...

BIG GBU!

__________________

BIG GBU!