Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kenangan Natal: Dari Mulut Bayi-Bayi

John Adisubrata's picture

Oleh: John Adisubrata

‘Kata Yesus kepada mereka: “…; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?” (Matius 21:16b)

Awal peristiwa Natal dikisahkan di dalam Injil Lukas seperti ini: ‘Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2:8-12)

Apakah Anda pernah mempertanyakan, mengapa malaikat Tuhan diutus untuk menyampaikan berita kelahiran Kristus pertama-tama kepada sekelompok gembala, orang-orang yang pada masa itu dianggap mempunyai kedudukan paling rendah di tangga sosial masyarakat Yahudi? Mengapa Tuhan tidak mengutus dia kepada orang-orang yang terpandang saja, … orang-orang yang berpendidikan dan yang berkedudukan tinggi? Perhatikanlah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, jika mereka yang dipilih untuk mendengarkan kabar gembira itu untuk pertama kalinya:

Para pemimpin gereja – Mereka akan memeriksa terlebih dahulu catatan-catatan buku doktrin agama sebelum mengadakan rapat darurat bersama badan-badan pengurus denominasi setempat untuk memperdebatkan kemungkinan asli palsunya berita tersebut.

Para kepala eksekutif bisnis (CEO) – Mereka akan memeriksa diary mereka terlebih dahulu untuk menentukan, apakah di tengah-tengah kesibukan kerja, mereka masih mempunyai waktu luang untuk menerima kedatangannya dan mendengarkan berita tersebut?

Para pengusaha – Karena tahu bahwa kabar itu sudah dinubuatkan beribu-ribu tahun sebelumnya, mereka akan mendahulukan di atas segalanya produksi dan profit penjualan barang-barang souvenir klenak-klenik untuk merayakan dan memperingati hari bersejarah itu.

Para selebriti – Tentu mereka mau memastikan terlebih dahulu, apakah ada orang-orang yang sedang menyorot mereka? Apakah gara-gara berita itu mereka bisa menjadi lebih dikenal dan populer?

Melihat beberapa skenario fiksi di atas yang terbukti sampai sekarang masih relevan dan mungkin sekali terjadi, tidaklah mengherankan Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menyampaikan berita terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia kepada orang-orang yang tidak mempunyai alasan untuk mencari keuntungannya sendiri, yang tidak mendahulukan reputasi mereka di atas segalanya, dan yang tidak menggunakannya sebagai kesempatan terbaik untuk ‘naik daun’. Tuhan memilih para gembala di padang, oleh karena kesederhanaan hidup, kerendahan hati dan keterbukaan pikiran mereka, dan terutama … oleh karena mereka mempunyai iman yang amat bersahaja, yang serupa dengan iman anak-anak kecil.

Apabila kita memeriksa ketiga Injil yang ditulis oleh Matius, Markus dan Lukas, dikatakan di sana bahwa Yesus mengagumi iman anak-anak kecil, karena kesediaan mereka untuk menerima kebenaran firman Tuhan tanpa argumentasi, tanpa menggunakan logika-logika dunia yang selalu mengharapkan bukti-buktinya terlebih dahulu. Ketika harus menanggapi pertanyaan murid-murid-Nya mengenai siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga, Ia menjawab, umat yang mempunyai iman seperti anak-anak kecil itulah! (Matius 18:1-5)

Bahkan alkitab menyatakan, dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Tuhan telah … meletakkan dasar kekuatan (Mazmur 8:3), dan juga … menyediakan puji-pujian (Matius 21:16). Memang sulit sekali untuk mencernakan maksud raja Daud di Mazmur 8 tersebut yang kemudian dikutip oleh Yesus kira-kira 1000 tahun kemudian ketika Ia ditegur oleh para imam kepala dan ahli-ahli Taurat di dalam Bait Allah kota Yerusalem. Apakah benar anak-anak sekecil itu sudah mampu berpikir dan mengekspresikan perasaan mereka? Bukankah tubuh dan jiwa mereka masih belum berkembang? Itulah pendapat manusia pada umumnya. Tetapi menurut firman Tuhan, Allah yang adalah Roh mempunyai pandangan yang berbeda sekali! Mungkin kenangan Natal yang pernah saya alami dan yang akan saya ceriterakan di bawah ini bisa mencerahkan sedikit pernyataan Yesus di Matius 21 tersebut.

Kendatipun tidak mampu membayangkannya secara detil dan akurat, saya ingat akan masa silam di mana saya mendengar dan mengalami Natal untuk pertama kalinya tanpa mengerti makna atau sebab-sebab hari termasyhur itu setiap tahun diperingati dan dirayakan di seluruh dunia.

Semua itu diawali oleh pertemuan kami dengan keluarga yang baru pindah dan menempati rumah sebelah, ketika saya masih berusia kira-kira 4/5 tahunan. Oleh karena mereka mempunyai anak-anak yang berumur sebaya dengan kami, secara instan hubungan kami dengan mereka menjadi erat sekali. Keluarga kami mengenal mereka sebagai orang-orang Kristen yang mendidik anak-anaknya sesuai ajaran-ajaran firman Tuhan, … tegas tetapi penuh kasih sayang. Sekalipun saat itu saya belum mengerti maksudnya, saya ingat bahwa kami sekeluarga menjuluki mereka: ‘orang-orang Kristen yang fanatik’.

Suatu hari di bulan Desember, anak-anak mereka mengajak saya dan kakak saya main drama sekolah minggu untuk perayaan Natal yang akan diadakan di gereja mereka. Dengan restu orang tua kami yang pada waktu itu masih belum memeluk agama apa-apa, kami mulai ikut latihan setiap hari Minggu siang. Di situlah untuk pertama kalinya sebagai anak kecil yang masih lugu sekali, yang belum mengerti apa-apa, apalagi tentang agama, saya mendengar kisah kelahiran Kristus.

Sekalipun tampak hanya samar-samar saja, saya ingat bahwa saya memerankan Balthazar, orang Majus yang ketiga. Bersama-sama, kami dilatih oleh guru sekolah minggu gereja itu untuk melakukan beberapa adegan kecil di mana kami diharuskan menghafal beberapa kalimat pendek berdasarkan ayat-ayat alkitab dan menyanyikan lagu-lagu Natal, seperti: Hai Mari Berhimpundan Malam Kudus. Meskipun ditampilkan secara amatiran sekali, drama itu mengisahkan berita gembira kelahiran Sang Juruselamat persis seperti yang tertulis di dalam alkitab di mana bayi Yesus menjadi pusat penyajiannya, tanpa embel-embel lain yang sudah dilazimkan oleh umum yang sekarang sudah berhasil menyelewengkan kebenaran makna hari bersejarah itu.

Malam itu jelas sekali sesuatu yang supranatural telah terjadi pada diri saya seperti perkataan Yesus sendiri: “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian.” Karena saya yang sebelumnya tidak tahu siapakah Tuhan, bayi Yesus, malaikat sorgawi, orang-orang majus, para gembala di padang, Yusuf atau Maria, bahkan raja Herodes dan lain sebagainya, sudah ‘dipilih’ untuk ikut membagikan kabar gembira itu melalui acara drama di mana kami bersama sejumlah besar bala tentara sorga memuji dan menyembah Tuhan: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14)

Sesudah lahir baru saya menyadari, bahwa “firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali lagi kepada-Nya dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Ia kehendaki, dan akan berhasil dengan segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya.” (Yesaya 55:11) Ternyata taburan benih-benih firman yang diam-diam sudah menerobos masuk, tertanam dan bersemi di dalam hati melalui kegiatan Natal tersebut, tidak pernah meninggalkan saya lagi. Itulah bukti kebenaran kasih karunia Tuhan!

Mengenangnya kembali, sering kali saya bersyukur bahwa Ia telah mengirim keluarga kristiani yang begitu saleh untuk menjadi tetangga kami, … keluarga yang sekalipun awalnya kami cap aneh dan fanatik, tetapi berhasil memperkenalkan makna Natal yang sejati kepada saya dan kakak saya pada saat kami berdua masih mempunyai hati serta iman yang murni sekali, … iman bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu. Saya juga mengucap syukur kepada Tuhan, karena ternyata berpuluh-puluh tahun sesudahnya, sesuai rencana-Nya, saya diberi kehormatan untuk menggabungkan diri dan menjadi anggota keluarga besar mereka!

Saya berdoa, agar iman sederhana yang sudah mengawali semua itu tetap saya miliki seumur hidup sampai saat terakhir di mana saya bisa membuktikan kebenarannya. Terpujilah nama Tuhan sampai selama-lamanya. Haleluya!

John Adisubrata
Desember 2012

joli's picture

ku tak ingat lagi

Hi Pak John..

Ku sudah tidak ingat lagi natal pertama-ku

Ku coba ingat-ingat, tetap tak ingat natal pertama,
yang kuingat di sekolah minggu adalah korban anak sulung
Karena aku anak sulung, selalu berharap papa mama tahu kapan waktunya untuk tidak lupa melabur darah di pintu, supaya ku di lewati malaikat maut. Nampaknya mereka tidak akan tahu deh, kapan waktunya melabur darah, karena mereka bukan kristen, namun suka menitipkan anak-anak-nya ke sekolah minggu.

oh ya, ku ingat lagi, natal pernah di ajak main drama jadi malaikat :)

Pagi ini, membaca tulisan pak John, ku mencoba mengingat lagi, pertemuan-ku dengan Tuhan

Ku sudah lama tak mengingatnya lagi..

Kasih Tuhan pertama kali-nya kepada ku, ku tak ingat lagi
karena tidak ada yang pertama
Sejak awal mula, kasihNYA ada untuk ku
hanya ku tak menyadari-nya
my Papa bilang, aku selalu bejo, lucky
my Mama bilang, aku anak yang di berkati
benar..
Kasih Allah ada sejak awal mulanya
untuk ku
untuk mu
untuk kita
baik di sadari maupun tidak disadari
baik di rasakan maupun tak berasa

Selamat advent pak John
Selamat advent temans SabdaSpace

terima kasih mengingatkan kasih ALlah kepada bayi-bayi

 

 

joli's picture

ku tak ingat lagi

Hi Pak John..

Ku sudah tidak ingat lagi natal pertama-ku

Ku coba ingat-ingat, tetap tak ingat natal pertama,
yang kuingat di sekolah minggu adalah korban anak sulung
Karena aku anak sulung, selalu berharap papa mama tahu kapan waktunya untuk tidak lupa melabur darah di pintu, supaya ku di lewati malaikat maut. Nampaknya mereka tidak akan tahu deh, kapan waktunya melabur darah, karena mereka bukan kristen, namun suka menitipkan anak-anak-nya ke sekolah minggu.

oh ya, ku ingat lagi, natal pernah di ajak main drama jadi malaikat :)

Pagi ini, membaca tulisan pak John, ku mencoba mengingat lagi, pertemuan-ku dengan Tuhan

Ku sudah lama tak mengingatnya lagi..

Kasih Tuhan pertama kali-nya kepada ku, ku tak ingat lagi
karena tidak ada yang pertama
Sejak awal mula, kasihNYA ada untuk ku
hanya ku tak menyadari-nya
my Papa bilang, aku selalu bejo, lucky
my Mama bilang, aku anak yang di berkati
benar..
Kasih Allah ada sejak awal mulanya
untuk ku
untuk mu
untuk kita
baik di sadari maupun tidak disadari
baik di rasakan maupun tak berasa

Selamat advent pak John
Selamat advent temans SabdaSpace

terima kasih mengingatkan kasih ALlah kepada bayi-bayi

 

 

manguns's picture

Sesama vs tetangga,

Semua itu diawali oleh pertemuan kami dengan keluarga yang baru pindah dan menempati rumah sebelah, ketika saya masih berusia kira-kira 4/5 tahunan

 ... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

... You shall love your neighbor as [you do] yourself.

Yohanes Paulus's picture

neighbor = parameter mankind

Mustahil seseorang bisa mengasihi sesama manusia (mankind) jika tidak terlebih dahulu mengasihi tetangganya.

Orang bisa saja mengasihi familinya yang jauh di kota lain dan membenci tetangga sebelah rumah. Orang yang hidup dalam damai dengan tetangganya adalah juga orang yang mengasihi famili yang jauh dan juga sesama manusia manapun di dunia.

Dalam Islam, lebih didahulukan tetangga sebelah rumah dibanding kerabat sedarah yang jauh. Jika seseorang mengabaikan tetangga sebelah yang tidak bisa makan, seseorang ini dianggap mendustakan agamanya.

Orang kristen yang mengaku mengasihi sesama manusia (mankind) tapi ga kenal tetangga sebelah rumah  (oleh karena itu mustahil mengasihinya) adalah kristen abal-abal: nafsu gede tenaga kurang.

manguns's picture

bidah, sesat

sesama manusia = (mankind)

sy baru tahu (ketipu), ternyata adalah bidah bagi dogma protestan. Kalaupun ada majelis gereja yg mau berinovatif..karena bukan dogma.. jadinya terlihat sekedar pencitraan

Yohanes Paulus's picture

sibling rivalry

Barangkali karena ada sibling rivalry. Tetangganya kaum yahudi adalah samaria. Dan mereka musuhan. Tetangganya peradaban Kristen adalah peradaban Islam dan mereka sempat perang besar-besaran. Tetangga dekatnya teologi Protestan adalah katolik, dan mereka pernah tolak-tolakan. Tetangga terdekatnya Armenian adalah Calvinis, dan mereka pernah (masih?) saling menundukkan.

Indonesia vs Malaysia

Kain vs Habil

Esau vs Yakub

Daripada harus mengasihi musuh bebuyutan tetangga dekat, mending melakukan LOMPATAN IMAN mengasihi sesama manusia (mankind).

 Ketika ditanya "siapakah sesama manusia", Yesus menjawab dengan perumpamaan ORang Samaria Yang Baik Hati. Nah kalo Yesus berkotbah di Indonesia saat ini, Yesus mungkin akan menjawab dengan versi "Orang Malaysia Yang Baik Hati" atau "Orang Muslim Yang Baik Hati". Kedua inilah "sesamamu manusia"-nya orang Kristen Indonesia.

jesusfreaks's picture

kenangan natal saya

yang saya ingat palingan liturgi kejadian 1 : 1. hehehe dan nortor (tarian batal) lumayan dapat hepeng. wkwkwkwk

__________________

Jesus Freaks,

"Live X4J, Die As A Martyr"

-SEMBAHLAH BAPA DALAM ROH KUDUS & DALAM YESUS KRISTUS-