Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Komitmen Yesus menjalani keputusan Sorga

mujizat's picture

Masih dalam situasi perayaan paskah, sekaligus peringatan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, ada sebuah pelajaran yang penting dari yang sudah diputuskan dan dikerjakan oleh Yesus Kristus. Kalau kitab Kejadian sudah menubuatkan akan datangnya keturunan Hawa yang akan “meremukkan kepala” si ular, dan sebaliknya, tumit keturunan Hawa akan diremukkan oleh si ular, dan jika Kitab Musa dan Kitab Nabi-Nabi juga sudah menuliskan akan datangnya Mesias, yang dipercaya Kristen Bahwa Mesias itu tidak lain adalah keturunan Hawa tersebut, dan,… jika kitab Nabi-Nabi juga sudah menubuatkan tentang penderitaan Mesias dalam Misi-Nya membebaskan umat-Nya dari efek dosa mereka, maka ketika Mesias benar-benar datang – menurut keyakinan Kristen – dalam sosok Yesus anak Maria yang kemudian perempuan ini menjadi isteri Yusuf, maka Juruselamat ini sadar betul tentang keputusan Sorga yang harus dijalani oleh Yesus Kristus.

Sebagai Sang Firman, Yesus tahu betul bahwa Dia memang harus menjalani siksaan fisik dan juga bathin, dan tampak pula bahwa Yesus tidak bermaksud melupakan salah satu skenario yang sudah diputuskan oleh Sorga, yaitu bahwa sebelum kematian-Nya, Mesias harus menderita terlebih dahulu, agar dengan penderitaan tersebut, Ia dapat MENGGANTIKAN penderitaan umat-Nya, dengan MENGAMBIL rasa sakit yang seharusnya dialami oleh umat-Nya, sederhananya disebut: MENEBUS SAKIT PENYAKIT. Yesus Kristus juga sadar betul bahwa Beliau harus mengalami wafat atau mati secara ORANG YANG DIHUKUM MATI oleh sebab dituduh bersalah, agar dengan jalan itu, Beliau dapat MENJALANI HUKUMAN MATI bagi setiap perbuatan dosa umat-Nya yang – sesuai kitab Taurat – harus diganjar hukuman mati, misalnya dosa : berzinah, memukul orang tua, membunuh orang lain dengan rasa permusuhan dan sebagainya, yang dengan bahasa sederhana disebut MENEBUS HUKUMAN MATI. Tujuan penebusan Yesus adalah : supaya umat-Nya dapat disembuhkan dari derita sakit penyakit, dan YANG TERPENTING adalah: agar umat-Nya dapat dibebaskan dari hutang dosa, sesuai Taurat, sehingga dapat diterima di Sorga.

Sesudah Yesus selesai memberitakan Firman, mengajar tentang hal-hal pokok keselamatan manusia, mengajar murid-murid-Nya tentang itu, maka tiba lah saat-Nya untuk menjalani puncak Misi-Nya, ialah mengalami aniaya hingga kematian-Nya, menggenapi keputusan Sorga. Doa di Getsemani adalah sebuah perjuangan yang hebat, dimana Yesus Kristus diuji dalam hal komitmen-Nya sebagai Mesias. Sempat mengajukan penawaran kepada Yang Mahamulia, agar derita dan kematian tidak usah dijalani-Nya, agar Dia tidak perlu meminum “cawan” penderitaan, namun Sorga tetap diam. Artinya, keputusan Sorga tidak dirubah. Lalu Yesus menarik kembali penawaran-Nya, dan memutuskan untuk kembali kepada komitment-Nya sebagai PENEBUS DOSA. Dan terjadilah aniaya, penderitaan, kesakitan yang harus dijalani-Nya tanpa berontak, bagaikan anak domba yang bisu (kelu) , tetap terdiam, tidak ngamuk dst. Semua terjadi sesuai skenario yang sudah menjadi keputusan Sorga, dan misi Yesus sebagai PENEBUS mengalami sukses besar.

Jumat Agung dan Hari Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya menandai kemenangan Sorga dan juga kemenangan Kristen terhadap dosa dan hukuman, yang di bawah kondisi ini maka Sorga bukan lagi sebuah tanda tanya, melainkan menjadi sesuatu hak milik yang pasti bagi umat manusia yang memilih untuk percaya kepada jasa penebusan Yesus Kristus, dan hidup sesuai ajaran Juruselamat. Alangkah berharganya NILAI PENEBUSAN Yesus Kristus bagi umat manusia.

Shalom.

__________________

 Tani Desa