Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Koinomics

victorc's picture

Teks: Luk. 16:1-9
Tema: Bendahara yang tidak jujur diberi penghargaan karena menggunakan Mamon 

Shalom, selamat sore saudaraku. Akhir-akhir ini kian banyak orang sibuk membicarakan rapture yang konon akan terjadi besok 23/9. Ya, bagi yang mau mempersiapkan diri akan datangnya tribulasi, rapture atau kiamat sekalipun, silakan. Namun saya kira tidak perlu panik berlebihan, sampai pawai di jalan menggunakan jubah putih-putih. Kalau begini mungkin lebih cocok disebut ETAD (End Times Anticipative Disorder).
Ada baiknya saya membahas kali ini tentang konsep ekonomi yang lebih memanusiakan sesama manusia, bukankah itu salah satu dari 2 esensi seluruh Taurat dan kitab para nabi menurut Yesus? (Mat. 22)
Kira-kira dua minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk memandu persekutuan lingkungan di gereja kami, dan teks yang diangkat adalah Luk. 16:1-9. Berikut ini adalah perenungan saya atas teks ini, dan beberapa implikasi.
Awalnya saya kurang begitu bersemangat dengan perumpamaan bendahara yang tidak jujur ini, karena apapun yang kita sampaikan tidak akan banyak mengubah persepsi kita bahwa teks ini adalah perumpamaan yang multidimensi. Namun semakin saya merenungkan teks ini, ternyata banyak sekali pelajaran berharga yang dapat digali. 
Memang jika kita hanya membaca sepintas teks Khotbah di bukit, khususnya Matius 6, akan mudah timbul kesan bahwa menjadi orang Kristen yang taat itu tidak perlu khawatir atau memusingkan soal-soal keuangan, apalagi ekonomi negara. "Embuh karepe,"  kata orang jawa.
Namun jika kita melihat bahwa ada 6 kali disebut kata bendahara dalam Injil Lukas, dan 5 kalinya dalam teks Luk. 16:1-9, maka pastilah ada pesan penting di sini yang ingin disampaikan Yesus berkenaan dengan pengelolaan keuangan, baik ekonomi keluarga maupun ekonomi suatu bangsa. 
Satu hal yang jelas adalah Yesus tampaknya bersikap cukup positif terhadap pengelolaan keuangan yang benar, seperti juga tampak dalam perumpamaan lainnya misalnya tentang dirham yang hilang atau tentang talenta. (5)
Apakah hal-hal yang dapat kita simak?

Interpretasi teks Lukas 16:1-9
Jika kita melihat struktur perumpamaan ini, tampak bahwa tuduhan menggelapkan harta tuannya itu kemungkinan memang dilakukan sang tokoh cerita, karena ia menganut prinsip "aji mumpung." Mumpung menjabat ini itu, ya sikat saja sebanyak-banyaknya. Bukankah banyak pejabat kita juga menganut prinsip aji mumpung yang mirip dengan kisah ini? 
Dalam bahasa ekonomi, ini diungkapkan dengan kalimat: maksimalisasi utilitas. Atau jika mengutip Gordon Gekko dalam film Wall Street (1987): "Greed is good." (Ketamakan itu baik).** Mungkin itu sebabnya beberapa penelitian di USA menemukan bahwa para sarjana jurusan ekonomi, cenderung lebih "selfish" dan terobsesi dengan uang, dibandingkan jurusan lainnya. (mohon maaf, bukan maksud penulis untuk menyinggung para dosen jurusan ekonomi.) Mungkin sebagian mereka sangat setuju dengan Dawkins yang menulis buku berjudul "Selfish Gene" (gen-gen kita bersifat melulu egois). Benarkah demikian juga di negeri ini?
Namun, perumpamaan ini tidak berhenti di situ. Mirip dengan kisah Zakheus, yang mulai menyadari kekeliruannya, lalu menggunakan sebagian hartanya untuk mengembalikan apa yang pernah diperasnya. Demikian juga, dalam perumpamaan bendahara ini, ia menyadari bahwa perlu investasi juga dalam harta sosial: yaitu membangun persahabatan dengan orang-orang yang dulu diperas oleh bendahara tersebut. Lalu, giliran tuan dari hamba itu, ternyata juga melihat bahwa harta sosial lebih penting daripada harta material belaka, meski mungkin ia juga merugi.
Perubahan perspektif itu diungkapkan dalam pujian tuan kepada hambanya.
Di akhir perumpamaan, Yesus merangkum ajaranNya dalam kalimat penutup: 

    9  "Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."  (Luk. 16:1-9)

Kalau kita membaca ayat ini dengan lebih teliti, maka ada 3 jenis harta yang berbeda tingkatannya: harta materiil, lalu di atasnya harta sosial (persahabatan), dan melalui persahabatan orang memupuk harta spiritual (kemah abadi).
Simpulan sementara:
Orang-orang dunia mengetahui bagaimana menggunakan harta duniawi dan memakainya dengan cara-cara yang materialistis. Tetapi tiba-tiba mereka dapat melepaskan standar yang tidak jujur karena mengetahui bahwa pada hakikatnya kejujuran akan membawa hasil. Sebaliknya, orang-orang Kristen yang telah belajar standar hukum Allah sering dicondongkan untuk bersantai dan mengubah prinsip-prinsip Kristen. Mereka ingin yang terbaik dari dua dunia: mereka ingin memiliki iman Kristen yang terletak di atas kenyamanan masyarakat yang makmur; mereka ingin dikasihi Allah dan pada saat yang sama dipuji oleh manusia. Yesus berkata, "Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang."(1)

Beberapa pelajaran dari Luk. 16:1-9
Dari teks tentang bendahara yang cerdik ini, setidaknya ada 5 hal yang dapat kita pelajari:
a. Hendaklah cerdik menggunakan apa yang ada pada kita. Tip: kalau kita merujuk pada interlinier Greek, makna kata "huparcho" yang digunakan dalam Luk. 8:3 bukan berarti kekayaan, namun "apa yang ada padamu."
b. Hendaklah kita selalu cerdik dan realistis menghadapi semua permasalahan, bahkan tuduhan orang
c. Pergunakanlah harta bukan untuk memperdayakan namun untuk memberdayakan
d. Jangan mudah menyerah di saat kepepet, yakinlah pasti ada jalan keluar.
e. Pergunakanlah mamon untuk mengikat persahabatan. Tampaknya kita dapat menyebut prinsip ini sebagai: ekonomi hospitalitas (ekonomi keramahan).*
Ringkasnya, kelima pelajaran di atas mungkin bisa disebut sebagai pokok-pokok Etika Kerajaan dalam bidang ekonomi, terutama jika kita ingin mewujudkan Kerajaan Allah di bumi seperti senantiasa kita doakan dalam Doa Bapa Kami.

Pembacaan poskolonial: implikasi bagi dunia ketiga
Selain pembacaan teks di atas untuk prinsip-prinsip penataan ekonomi pribadi, ada juga beberapa hal yang kiranya perlu dibaca juga dalam kacamata filsafat poskolonialisme. Di antaranya:
- boleh menata ulang ekonomi global yang cenderung timpang dan menindas negara-negara lemah
- boleh menghapus sistem riba, misalnya utang luar negeri negara berkembang yang begitu melonjak dalam dua dekade terakhir ini. Yang dihapus oleh bendahara itu dari surat hutang 100 pikul menjadi 80 pikul kemungkinan adalah riba atau bunganya.
- secara berkala perlu adanya Jubilee global: tahun Yobel di mana seluruh utang piutang dihapuskan secara global.
- perlu mengembangkan pola-pola ekonomi yang bernuansa persahabatan dan kekeluargaan, ketimbang sekadar bermotif maksimalisasi utilitas.
- pola reformasi ekonomi perlu dilakukan secara bijak sehingga semua pihak yang terlibat mengalami pembaharuan budi (Rom. 12:1-2).

Koinomics: sebuah upaya ke arah ekonomi Trinitarian
Memang ada beberapa teolog yang memfokuskan diri untuk mengkaji kaitan antara teologi dan ekonomi, disebut teologi ekonomi. Lihat misalnya Rowan William dan Robert H. Nelson.(3)(5) Namun sejauh yang penulis ketahui, belum ada kajian menyeluruh tentang bagaimana mendialogkan pemikiran teologi Trinitarian ke dalam bidang ekonomi. 
Dalam konteks ini, izinkan saya mengusulkan sebuah istilah baru yakni: koinomics, yang merupakan kata bentukan dari "koinonia" dan "economics." Tentang economics saya kira tidak perlu penjelasan. Namun koinonia perlu penjelasan sedikit.
Kata "koinonia" atau "koinon" - kita dapat dari Perjanjian Baru, terutama surat-surat Paulus. Koinonia sendiri dalam PB tidak bermakna tunggal. Berbagai penelitian yang komprehensif telah menemukan kepelbagaian makna itu, serta nilai-nilai yang berkaitan dengan eklesiologi. Dalam PB, kata koinonia muncul sembilan belas kali. Kata-kata yang berkaitan dengan dan berakar kata koinon muncul sebanyak 46 kali, sebagian besar dalam surat-surat Paulus dan beberapa di surat-surat Yohanes, surat-surat Petrus, surat Ibrani, dan Kisah Para Rasul, di kitab-kitab Injil kata koinonia tidak muncul tetapi terdapat kata-kata yang berakar koinon-. Dari berbagai sumber itu, kita mendapatkan makna kata koinonia yang berasal dari koinos, yakni bersama atau komunal. Dari akar kata koinos ini, muncul kata koinon atau koinonia, yang pengertian luasnya menyangkut persekutuan, persahabatan, dan hubungan dekat (Fuchs, 2008). Dalam dokumen The Church, dikatakan koinonia dapat diterjemahkan sebagai persekutuan, menyumbangkan sesuatu, mengambil bagian dalam, partisipasi, bertindak bersama-sama, berbagi. 
Lorelei Fuchs, seorang biarawati sekaligus pegiat gerakan ekumenis, memaparkan kata koinonia dengan makna yang luas dan banyak, yakni persekutuan, bertindak bersama, persahabatan, hubungan timbal-balik, mengambil bagian, partisipasi, pertolongan, berbagi, solidaritas, kebersamaan, perpaduan, kesatuan dan keutuhan. Dalam konteks doktrin Trinitas, mungkin bahwa kata koinonia dihubungkan dengan perichoresis, ketika Allah Tritunggal saling bergerak dalam suatu tarian kosmik, yang saling melengkapi, berjejalin dan berkelindan.
Lalu jika kita hendak membumikan sifat "perikhoresis" dan koinonia tersebut ke dalam konteks ekonomi, maka itu berarti kegiatan ekonomi dapat ditransformasikan menjadi tindakan yang memberdayakan bukan memperdayakan, yang memperlakukan sesama sebagai sederajat, sebagai rekan dialog dan bukan sebagai obyek yang mesti dieksploitasi atas nama "self-interest" dan maksimalisasi utilitas. Lihat misalnya artikel Eberhard Arnold tentang ekonomi di era gereja perdana (6).
Mungkinkah hal ini dilakukan kini mengingat berbagai konsep ekonomi modern tampak mengarahkan manusia menjadi egois, tamak bahkan ada yang menyebut "economic animals"? Setidaknya bagi bangsa Indonesia, kita memiliki pedoman yang kuat untuk senantiasa mengupayakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang diterjemahkan dalam Pasal 33 UUD 1945 menjadi term "ekonomi kekeluargaan."
Dalam terang makna kata koinonia di atas, maka istilah ekonomi kekeluargaan mungkin bisa dimaknai ulang sebagai ekonomi persahabatan atau ekonomi hospitalitas, yang bernuansa egalitarian dan dialogis-partisipatif. Jika mau lebih tajam, bolehlah kita menyebut kerangka berpikir ini sebagai "koinomics." Artinya, mengembangkan ekonomi sebagai perwujudan persekutuan dan solidaritas yang indah antara sesama manusia dalam mengelola bumi, sebagai upaya untuk menghayati iman akan Tuhan yang senantiasa memeliharakan seluruh bumi beserta isinya.

Penutup
Bertolak dari perenungan akan Lukas 16:1-9, penulis memaparkan suatu kemungkinan penafsiran baru terhadap istilah ekonomi kekeluargaan dalam Pasal 33 UUD 1945, menjadi konsep ekonomi yang menekankan persekutuan dan persahabatan, yang penulis usulkan dengan nama: koinomics. 
Tiga kemungkinan penerapan koinomics itu di antaranya adalah: ekonomi berbagi, kooperasi, dan ekonomi solidaritas. Lihat paper penulis di tempat lain.(10)
Dan penulis juga telah mengembangkan model matematis untuk memprediksi pertumbuhan ekonomi berbagi ini di masa depan. (11)
Mengenai sifat dasar manusia untuk berbagi dan bekerjasama, lihat Bowles dan Gintis (12).
Kiranya para ahli ekonomi dan teologi dapat mengembangkan lebih lanjut pemikiran ini untuk lebih membumikan konsep-konsep teologis seperti persahabatan, altruisme dan kesetaraan ke dalam term ekonomi yang lebih operasional.

versi 1.0: 22 september 2017, pk. 00:01
versi 1.1: 22 september 2017, pk. 9:55
VC


Note:

*Pembaca yang berminat membaca lebih lanjut tentang ekonomi hospitalitas, silakan melihat buku saya terbaru berjudul: Teologi Yesus sobat kita: 10 artikel dialog antara teologi dan sains. Surabaya: Nulisbuku.com, 2017. URL: http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains

**https://businessethicsblog.com/2010/10/12/wall-street-1987-greed-is-good/

 

Referensi:
(1) http://www.sarapanpagi.org/35-bendahara-yang-tidak-jujur-vt2144.html

(2) David Muthukumar. What has Economic Trinity to do with Economics? 2016. Url: http://intersectproject.org/wp-content/uploads/2016/09/Symposium-Muthukumar-Economic-Trinity.pdf

(3) Rowan Williams. Theology and Economics. ATR:92/4. Url: http://www.anglicantheologicalreview.org/static/pdf/articles/williams.pdf

(4) Robert C. Tatum. A theology of economy reform. JEL 2016. Url: https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2777642

(5) Robert Nelson. What is economic theology? The princeton seminary bulletin vol. xxv no. 1, 2004. Url: http://faculty.publicpolicy.umd.edu/sites/default/files/nelson/files/economics_religion/What_is_Economic_Theology.pdf

(6) Eberhard Arnold. The economy of the early church. Plough Quarterly 2. Url: https://www.plough.com/en/topics/community/communal-living/the-economy-of-the-early-church

(7) http://nextjuggernaut.com/blog/7-business-models-reshaping-healthcare-marketplace/

(8) Theodorus Willem Noya. Dalam persekutuan kasih yang akrab. Makalah percakapan gerejawi. 2017.

(9) V. Christianto. Teologi Yesus sobat kita: 10 artikel dialog antara teologi dan sains. Surabaya: Nulisbuku.com, 2017. URL: http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains

(10) V. Christianto & F. Smarandache. The Sharing-Cooperation-Solidarity economy. Url: http://www.vixra.org/abs/1708.0444

(11) V. Christianto & F. Smarandache. A Discrete Bass-Riccati Diffusion Model for Forecasting The Adoption of New Carsharing Services. Url: http://www.vixra.org/abs/1709.0121

(12) Samuel Bowles & Herbert Gintis. A cooperative species. Princeton: Princeton University Press, 2011.

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute