Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Fiksi

anakpatirsa's picture

Kau

"Pulanglah, ayah mau meninggal."

"Mau mati? Koit?"

Saya tidak suka candamu. Saya tahu, kau dulu memang minta diberitahu kalau ayah meninggal, bukan kalau sakit.

"Ayah kritis."

Hening.

kocak humor 888's picture

KALAU NYARI DUIT , JANGAN DI KHOEWILDJA !!!

KALAU NYARI DUIT , JANGAN DI KHOEWILDJA !!!

 

 

Suatu hari ADA orang DUNGU yg ingin MENDAPATKAN Duit ... yg SANGAT BANYAK --- Maklum anak BEBAL ini MEMANG SANGAT Mata DUITAN BA NGET , BUKAN Mata duitan amet APALAGI Mata DUITAN doank !!!!!!!! Dia TAHU bahwa menjadi seorang Agamawan AKAN BANYAK Duitnya SEPERTI Alm KH Zainudin MZ, KH AA Gym, Pdt Billy Graham, Pdt Reinhard Bonke, DLL. Anak DUNGU ini SUDAH tahu Amet BAHWA didalam DOKTRIN Agama Kharismen yg BOLEH menjadi Agamawan CUMA yg PANGGILAN dari tuhan Yebolon SAJA

anakpatirsa's picture

Senja

Saat paling indah di danau ini ketika langit berwarna kemerahan, ketika matahari merendahkan diri seperti mau menyembunyikan diri di balik pepohonan. Ketika itulah makhluk hutan mulai bersuara menyambut malam. Dari atas pohon, burung-burung mengeluarkan kicauan yang berbeda karena telah melewati hari dengan selamat, monyet-monyet berteriak lebih keras untuk menakut-nakuti hantu penunggu hutan.

anakpatirsa's picture

Si Bajoi dan Orang Utan

        Si kakek tidak pernah bermimpi mendapat pertanyaan seperti itu dari cucunya. Kek, orang utan itu apa? Waktu masih menjadi presiden, ia sesumbar, "Tidak akan kubiarkan cucuku mendengar kisah kepunahan harimau, badak dan orang utan. Tidak akan kubiarkan cucuku mempelajari orang utan dengan mengais-ngais sisa tulang belulangnya."

        Si kakek menarik nafas panjang. Ia harus menceritakan sebuah kisah.

anakpatirsa's picture

Si Bajoi

        "Dasar pelacur, belum diapa-apain sudah mendesah," Bajoi mengumpat dalam hati.

        Mereka baru menyepakati harga. Tiga ratus ribu untuk satu babak pertandingan bola. Sebelum mengangkangkan paha, ia pastikan jatah Bajoi dengan mengaktifkan stopwatch di ponselnya.

        Bajoi menatap tubuh berbalut kaus putih ketat dan rok pendek hitam itu.

        "Jangan lama-lama, Mas," katanya. "Ini sudah jalan lima menit."

anakpatirsa's picture

Sebuah Kampung di Pinggir Sungai

        Ia tersenyum.

        Kubalas dengan senyum yang bentuknya kuharap seperti mulut orang marah mencicipi mangga masam.

        Tidak terlalu sulit. Aku membenci orang-orang Humas dan Protokol. Sudah banyak cerita tingkah mereka kalau gubernur mau datang. Pagi ini kualami sendiri. Mereka datang, bertingkah seolah-olah merekalah pemilik hotel: mengutak-atik susunan ruangan, menyuruh mengganti deretan kursi depan, kemudian menempelkan jabatan orang yang pantatnya akan menempel di situ. Itu belum cukup. Seorang di antara mereka—manusia sombong dengan alat komunikasi di lubang telinga—meletakkan bara di atas kepalaku. Ia mengusirku dari lobi, berkata, "Sebentar lagi Gubernur datang, jangan bengong di depan pintu."

X-1's picture

Tolong... aku telah diperkosa!

Seseorang itu, penjual bakso di sebelah rumah, selama ini menjadi teman baikku, dia selalu memberikan aku semangkuk bakso saat aku bermain-main dengan anaknya.

Aku... tidak tahu yang telah dilakukannya padaku. 

Aku hanya takut.

X-1's picture

Aku Ingin Jadi Cowok #2

Jojo version :

 

Aku menerawang jauh. Mencoba membuang beribu masa lalu yang melintas deras di benakku. Aku benci masa laluku. Setiap mengingatnya, tanganku terkepal karena sayatan luka itu akan kembali terasa perih.

anakpatirsa's picture

Menar

        "Di mana?"

        "Jogja!"

        Kota penuh kenangan, "Mengapa Jogja? Dapat gadis Jogja?"

LieL's picture

Perjalanan Menuju Holyhope - Jangan Mempertanyakannya

Jangan Mempertanyakannya

 

Kolipoki's picture

Samar samar

Ini pagi yang biasa baginya sama seperti pagi yang lain. Pagi di mana sayup-sayup ia mendengar aktivitas yang menandakan dimulainya hari itu; suara kicau burung yang bersarang di atas atap kamarnya, ayahnya yang sedang membuka pintu dan jendela-jendela ruang tengah, orang yang lalu lalang di jalan depan rumahnya, tetangga sebelah yang sedang sibuk di dapur, traktor yang berjalan lambat-lambat serta angkot yang sudah ia hafal betul suaranya.

anakpatirsa's picture

Atik Mati

Atik mati, kamu pulang secepatnya untuk menguburkannya.

Atik akhirnya mati. Aku tidak mampu menangisi kematiannya. Bukan karena tidak mampu bersedih. Ada saatnya kesedihan begitu mendalam sehingga air mata tidak mampu keluar. Sejak meninggalkan kampung halaman enam belas tahun lalu, aku tidak bisa melupakan kemanjaannya. Sampai sekarang pun sering kurindukan tingkah-polahnya yang membuat jengkel, padahal aku juga sering membuatnya jengkel. Tidak pernah bisa kulupakan tatapan marahnya karena kucium saat tidur. Tatapan marah itu tetap seindah tatapan bola mata bulatnya di keremangan lampu lima watt.

anakpatirsa's picture

Pengemis dan Uang Logamnya

"Masuk, Mas," kata wanita pemilik salon menyambut pria yang barusan mendorong pintu kaca hitam.

"Di sini bisa pijat?" mulut si tamu memang mengajukan pertanyaan, tetapi matanya menjelajahi ruangan.

Ia sudah melihat tulisan Beauty Salon--Ladies and Gents sebesar gajah di depan. Di bawahnya, dalam tulisan kecil-kecil tertulis: Creambath, SPA, Massage, Lulur, dll. Ia masuk ke tempat ini karena kacanya berwarna hitam, dan tertutup rapat, seolah-olah menyembunyikan sesuatu.

anakpatirsa's picture

Cinta Memang Tidak Bisa Dimakan

"Ada apa, Tuh?" tanyaku sambil menatapnya. Kami memanggilnya Tutuh, sesuai permintaannya waktu kecil. Tutuh kedengarannya manja dan mungil, katanya memaksa hampir dua puluh tahun lalu.

"Ada orang mati," jawabnya, "sudah berminggu-minggu membusuk. Kita kesana, ya? Tetapi aku makan dulu."

anakpatirsa's picture

MEI

Kecantikannya sama sekali tidak hilang, sebelas tahun tidak mampu memupuskannya. Tidak hanya sekedar cantik, ia tahu. Eksotis? Dulu teman-teman mereka berkata, Mei gadis eksotis. Belum terlalu ia pahami alasannya. Banyak yang mampu menilai seorang gadis berwajah manis, cantik atau menarik, tetapi  jarang yang mampu mengungkapkan alasannya dengan kata-kata.

Purnawan Kristanto's picture

Mereka Menuduhku Provokator!!!

 

"Kita harus mengambil tindakan!"
"Ya, ketidakadilan ini harus diakhiri!"
"Betul. Mereka tidak boleh menindas kita terus-menerus!"
"Pokoknya. Pimpinan kita harus diganti!"
Kamar kos yang sempit itu menjadi riuh. Udara yang panas dan pengap seolah membakar orang-orang yang berjejalan di dalamnya. Sutikno tersenyum puas karena berhasil membakar semangat teman-teman sekerjanya. Mereka sedang membicarakan tindakan pimpinan unit yang dirasakan sudah keterlaluan. Giyono mengaku jengkel karena dimarahi di depan orang banyak. Sinta mengeluh karena berkali-kali tidak diijinkan untuk pergi ke kamar mandi. Amin mengaku sering disuruh kerja lembur tanpa uang tambahan. Semua kekesalan karyawan ditumpahkan di kamar yang pengap itu.
John Adisubrata's picture

Tiga Orang Misionaris

TIGA ORANG MISIONARIS
Oleh: John Adisubrata

Beberapa puluh tahun yang lalu tiga orang misionaris dari Eropah telah memasuki pedalaman pulau Kalimantan. Mereka ditangkap oleh salah satu suku terasing yang menolak mentah-mentah Injil Tuhan Yesus Kristus yang mereka beritakan. Bertiga mereka digiring untuk menemui rajanya. Seketika itu juga sesuai undang-undang yang berlaku di sana mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati.
 
Tetapi oleh karena sepanjang hari itu Sang Raja merasa mujur dan terus-menerus mengalami hal-hal yang menyenangkan hatinya, ia ingin bermurah hati dengan memberikan kesempatan kepada ketiga misionaris tersebut untuk menerima amnesti. Tetapi ... amnesti yang bersyarat.