Aku tidak tahu apakah menuangkan isi hati yang begitu menyesakkan dada di sabda space ini adalah sebuah keputusan benar?! Atau malah sebuah blunder yang kelak akan kusesali seumur hidup??
Duh...semoga tidak!
Pagi tadi baru saja aku memenjarakan seseorang. Seseorang yang telah kuberi kepercayaan mengelola segala usaha yang kumiliki. Sebut saja inisialnya YbY, bukan SBY.
Jujur, gamang menyergapku.
Betapa tidak.
Sesungguhnya aku sangat menyayangi dia. Prestasi kerjanya amat mengagumkan.
Itulah sebabnya tanpa sungkan, kuangkat dia menjadi tangan kananku. Kuberi dia kedudukan terhormat sebagai direktur eksekutif.
Tidak bisa kupungkiri, sejak usahaku dikemudikannya, kekayaanku berlipat-lipat mengalir membanjiri pundi-pundiku.
Dia memang bukan orang kristen, namun entahlah, apapun di tangannya, seolah siap disulap menjadi sebentuk kesuksesan.
Pribadinya juga amat menyenangkan. Setahuku, tak ada yang menolak menjadi sahabatnya. Bahkan mitra bisnisku, tidak jarang menyanjungku sebagai orang beruntung merekrutnya.
Sekian tahun bekerja untukku, aku memang tidak pernah menemukan alasan untuk bersikap waswas terhadapnya. Bahkan kubebaskan dia di rumahku seperti di rumahnya sendiri.
Sampai pagi tadi, setibaku di rumah setelah beberapa hari ke luar kota.
Ah...aku tidak tahu mengapa jadi begini?!
Dia berusaha meniduri isteriku!!
Bedebah!!
Aku sangat marah, sampai nyaris menghadiahinya hujan bogem. Aku tidak mampu mengendalikan amarah menerima laporan isteriku yang terisak. Bajunya di tangan isteriku sebagai barang bukti.
Untung, ada dua pegawaiku lainnya yang menghalangiku melampiaskan gelegak di hati.
Aku memerintahkan pegawaiku menghubungi pihak keamanan untuk memenjarakannya.
Dasar pemuda kurang ajar!
Namun, malam ini ketika aku merenung secara dalam, dengan kepala yang lebih jernih, aku mulai ragu dengan keputusanku.
Maksudku, tidakkah aku terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan?
Terus terang, aku tidak melihat sebentuk goresan kekerasan di tubuh isteriku. Atau di baju model daster yang dikenakannya.
Tambahan pula, gaya terisaknya mencurigakan. Hmh, aku mengenal dengan baik karakter isteriku.
Haruskah aku menarik kembali tuduhan, atau setidaknya, menunda, sebelum segala sesuatu dalam misteri ini tersingkapkan?
Tolonglah aku teman. Aku gamang.
Oh ya, maaf. Aku lupa mengenalkan diri. Bukan bermaksud jumawa, barangkali di antara anda ada yang mengenalku.
Namaku Potifar. Aku orang Mesir.