ada trend baru yang saya rasakan mulai bertumbuh dan berkembang di gerejaku. semula terasa asing. ada gejolak di sana sini berkenaan dengan hal-hal baru yang mulai dipakai dan dihayati di gerejaku. ada yang mengatakan apakah identitas kita selama ini kurang jelas sehingga harus mengukuhkan identitas tambahan dengan mengadopsi milik orang? dan seketika itu juga yang bisa menerangkan menjawab dengan mengatakan bahwa kita tidak sedang kehilangan identitas atau ragu terhadap identitas diri sendiri. kita sangat kental dengan identitas kita. orang lain bisa merasakan kentalnya identitas gereja kita. kita juga bukan sedang mencoba-coba identitas baru apalagi identitas milik orang lain. kita sedang mencoba memperkaya penghayatan melalui hal-hal yang dulu telah kita tinggalkan.
jawaban yang cukup telak dan mengena. namun kembali kepada "rasa asing' di sekitar hal yang sedang dihayati untuk memperkaya kasanah pengalaman iman. sampai kapan hal itu bisa terwujud? kita saar bahwa untuk menerima apalagi sampai pada tataran penghayatan dibutuhkan waktu yang cukup lama. apa tidak keburu bosan dan kehilangan kesabaran? sudah hampir 3 atau 2 tahun gereja mencoba-coba hal yang baru tersebut, namun masih dirasakan kurang sosialisasi tentang apa-apa yang telah dilakukan. masih ada pertanyaan besar: untuk apa semuanya itu?
Palmarum dengan melambai-lambaikan daun palem, bahkan ada yang pakai atraksi naik kuda segala. dulu ibadah jalan salib saja masih terasa asing dipenghayatan. kini ditambah dengan hal-hal yang terasa sangat asing. belum lagi yang sabtu sunyi. apa-apaan itu. harus ada dalam kesunyiaan. ada gelap dan sebagainya. lagi-lagi masih terasa asing. apa toh sebenarnya hendak dicari dengan hal-hal yang asing itu.
dulu kita sangat bangga dengan panembramanan, dengan musik gamelan yang sayup-sayup indah dalam menghantar penghayatan. dulu kita bangga dengan apa-apa yang sudah ada. kini apa-apa yang sudah ada itu tak terasakan pula. kosong. empty. dan tak berbunyi.
apakah semuanya itu ada korelasi dengan hidup keseharian? itu menurut saya yang penting. abu, lilin, palem atau apalah itu sangat jauh dari khasanah simbol kita. khasanah kita sebenarnya sudah cukup dengan nilai-nilai kerendahan hati, pertobatan senantiasa. apalagi yang mau diperkuat.
itulah yang sedang terjadi. kita cari dan mencari. kita format-format ulang bangunan teologi. yah semoga kita sedang benar-benar ada dalam rel menuju kesempurnaan.