sebelum adam di usir dari eden, dan dijaga dengan pedang yang menyambar nyambar, ada satu perkataan dari Tuhan Allah yg mengutuk tanah.
Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: kejadian 3:17
kata tanah di ayat tersebut diambil dari kata ibrani: adamah (0127), sementara kita tahu, bahwa daging adam itu dibentuk dari debu tanah, ibrani: aphar adamah.
suatu kali saya pernah berbincang dengan seorang yg boleh dibilang sangat liberal dan mengagungkan sains, akal sehat dan ilmu pengetahuan, ia bertanya jika tanah itu tidak berakal budi dan tidak mengambil bagian dalam kesalahan adam, mengapa ia dikutuk? saya berpikir benar juga, tanah tidak dicipta dengan akal budi, ia tidak mungkin membangkang kepada Allah bukan? lalu mengapa tanah kena getahnya, sehingga ikut2 dikutuk oleh Tuhan Allah?
saya berpikir, bukankah Tuhan itu adil, pengetahuannya sempurna, dan maha bijaksana, mengapa dengan kuasanya IA mengutuk tanah ketika adam dan hawa didapati bersalah? tidak tahukah IA bahwa tanah tidak punya pikiran untuk membangkang dan tidak ambil bagian dalam kesalahan adam?
Tanah bukan lah tanah yg kita injak sehari-hari.
setelah merenung saya mendapati, bahwa tanah yg dikutuk Tuhan Allah dalam kejadian 1:17 bukan lah tanah yg kita injak sehari-hari. Ketika membentuk adam dari debu tanah, bukankah IA hanya mengambil debu tanah yg mungkin hanya sebutir, atau beberapa butir? tanah yg kita injak dlm kehidupan sehari2, adalah kumpulan dari butir2 debu tanah, kumpulan butir2 debu tanah, membentuk tanah.
jika adam terbuat dari sebutir debu tanah, bisakah TUhan menyebutnya, hai adam, sang debu tanah? tapi ketika menyebut, umat manusia yg akan dilahirkan dari adam, bukankah itu sama saja mengatakan hai kumpulan debu tanah= TANAH?
Umat manusialah yang dimaksud dengan tanah, di kejadian 1:17 itu. jika anda cermati baik2 di dalam bahasa ibrani sebenarnya terjemahan LAI, kurang tajam.
coba perhatikan: maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
arar=terkutuklah
adamah=tanah
itstsabown =susah payah
'akal=mencari rezeki=to consume/eat
selanjutnya ada kata yown, kowl dan chay.
LAI sepertinya, kurang tajam, ketika mengatakan dengan susah payah engkau akan mencari rejekimu dari TANAH. karena kata tanah di atas tidak ada lagi, kata tanah ditambah sendiri oleh penerjemah LAI. dan mencari rejeki, dlm kamus strong, seharusnya makan=eat/consume.
Gunanya firman Tuhan
umat manusia harus bersusah payah untuk makan, itulah maksudnya. kita tahu manusia tidak bersusah payah untuk makan, karena kita punya mulut, dan tumbuhan ada dimana, buah2an ada dimana, kita tidak berbicara masalah uang disini, karena Allah mengutuk manusia untuk bersusah payah untuk makan, bukan mencari uang.
apakah maksudnya sulit makan, kawan, mengenai makan ingatkah kita akan sabdaNYA, bahwa manusia bukan makan roti saja?tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah juga? Apakah yg dimaksud Tuhan Allah bahwa umat manusia, yg akan lahir setelah adam akan sulit makan Firman?itulah maksudnya.
adam, sang debu tanah, yg dihembusi nafas oleh Tuhan Allah, telah melahirkan kita umat manusia, karena nafas Tuhan lah adam menjadi makhluk yg berjiwa hidup. kira2 apakah perbedaan kita dan adam, dalam hal hidup? kawan, berbicara nafas hidup kita akan berbicara roh dan kehidupan dan kebenaran, ketika adam berada di taman eden, IA tidak kesulitan untuk mendengar Firman Tuhan Allah bukan? tetapi kita, di jaman ini, dengan banyaknya nabi palsu dan pengajar palsu, bukankah kita berlomba untuk mengenal suara gembala yg sejati, ditengah suara serigala2 buas? apakah pentingnya suara Tuhan bagi kita, apakah pentingnya firman bagi roh kita? kisah adam mengajarkan saya banyak hal ttg roh dan mati.
Tuhan Allah berfirman kepada adam, pada saat engkau makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu, pastilah engkau mati, kita tau pada saat memakannya, adam tidak mati spt bayangan kita, ia masih hidup ratusan tahun, apakah mati menurut sang Tuhan Allah? lalu apa implikasinya bagi kita, yg masih hidup ini, apa pentingnya firman Tuhan bagi roh saya? mungkin saya harus merenung lagi.
salam.