Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Filsafat

victorc's picture
Teks: Markus 7:7
"Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Shalom, selamat siang saudaraku. Di kalangan pemikir Kristen, baik yang teolog, setengah awam atau awam sekali, kerap muncul pertanyaan berikut: perlukah saya belajar filsafat untuk memahami Alkitab? Atau dalam ungkapan lain: bagaimana letak filsafat terhadap kajian biblika dalam konteks teologi: apakah filsafat di atas biblika, atau filsafat di bawah biblika, atau filsafat sejajar dengan biblika?
Saya teringat bisik-bisik candaan seorang sahabat ketika kami sedang mengikuti kelas filsafat ilmu waktu kuliah dulu. Dia berbisik: "Filsafat itu mirip dengan (maaf) kentut di celana pak hansip, mau ke atas tersangkut ikat pinggang, mau ke bawah terbentur sepatu boot."
Saya tidak tahu apakah Anda setuju dengan gurauan tersebut, namun saya kira gurauan ini cukup jujur mencerminkan keresahan sebagian mahasiswa teologi karena "terpaksa" mengikuti kelas filsafat (ilmu) atau filsafat teologi, sebab hal itu merupakan prasyarat wajib untuk kelulusan.

Kedudukan filsafat
Tentu saya setuju bahwa filsafat memang perlu untuk mengembangkan kerangka berpikir teologis yang sehat, namun dengan suatu catatan yaitu: hanya sejauh itu perlu.
Artinya, bagi penulis, pemikiran filsafat tentu sangat membantu kita memahami wacana-wacana baru untuk menyegarkan pemahaman kita tentang hal-hal atau teks-teks Alkitab yang sudah dianggap pakem, namun yang jauh lebih penting adalah hermeneutika dan eksegesis yang kuat bagi seorang teolog.
Mengapa demikian? Karena senantiasa ada kemungkinan bahwa filsafat lebih mendominasi pemikiran seorang teolog, sehingga ia tanpa sadar membaca suatu teks dengan pra-anggapan yang kurang tepat. Dengan kata lain, ia menerapkan eisegesis ketimbang eksegesis, atau pembacaan berlebihan (overreading).
Ambil contoh:
- teori dialektika sejarah ala Hegel lalu diadopsi oleh F.C. Baur (mazhab Tubingen). Intinya, Baur mengajukan teori bahwa gereja perdana terdiri dari faksi-faksi yang saling bertolak-belakang. Pertanyaan yang patut diajukan: benarkah ini berita Alkitab, atau pembacaan Baur hanya terlalu terpengaruh oleh teori dialektika Hegel?
- teori demitologisasi diajukan oleh Bultmann. Intinya seluruh narasi PB (dan mungkin juga PL) mesti "dimurnikan" dari teks-teks yang bernuansa mitologis. Apakah betul Yesus pernah mengubah air menjadi anggur dan menyembuhkan 10 orang kusta, atau selalu ada penjelasan yang dapat diterima secara ilmiah untuk narasi-narasi mukjizat tersebut? 
Terus terang, saya agak khawatir jika kita menempatkan ilmu di atas Alkitab, maka ujung-ujungnya akan terjadi sekularisasi. Atau gereja akan menyamakan spiritualitas dengan rasionalitas. Bahkan bukan tidak mungkin akan ada gereja yang pandangannya lebih mirip "scientologi."

Penutup
Artikel ini tentunya bukan dimaksudkan sebagai jawaban akhir akan pertanyaan tentang posisi filsafat terhadap kajian biblika. Daripada memperdebatkan mana yang di atas yang mana, mungkin akan lebih bijak untuk melihat filsafat sebagai "rekan dialog" terhadap studi biblika. Yang namanya rekan atau sahabat, ya tentu wajar jika ada kekurangan dan juga kelebihan. 
Salah satu kelebihan itu mungkin adalah kelebihan berat badan, seperti saya ini. ;-)

Bagaimana pendapat Anda?

versi 1.0: 23 agustus 2017, pk. 2:47
VC

Referensi:
(1) http://www.blackwellpublishing.com/content/BPL_Images/Content_store/Sample_chapter/9780631211518/Hebblethwaite_sample%20chapter_Philosophical%20Theology%20and%20Christian%20Doctrine.pdf
(2) Gerhardus Vos. Url: http://www.bsmi.org/download/vos/BiblicalTheology.pdf
(3) Peter Addinall. Url: https://philpapers.org/rec/ADDPAB
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute

jesusfreaks's picture

Suprarasional

mungkin harus dibedah lebih tajam lagi ketika membenturkan spiritualitas dengan rasionalitas.

atau mungkin tidak harus dibenturkan. stephen tong bahkan menyebut spiritualitas yang belum dijangkau oleh rasio manusia sebagai suprarasional.

artinya yang tidak dicapai rasio manusia bukan berarti tidak rasional.

bahkan antar manusia saja kita bisa melihat kerangka suprarasional ini, artinya apa yang dicapai oleh rasio seseorang belum tentu dicapai oleh rasio orang lain.

 

__________________

Jesus Freaks,

"Live X4J, Die As A Martyr"

-SEMBAHLAH BAPA DALAM ROH KUDUS & DALAM YESUS KRISTUS- 

victorc's picture

@JF: trims sarannya..

Tapi wong sy tdk membahas suprarasiobal kok. Sy hanya mewanti-wanti agar jgn kita terlena dengan mabok filsafat.... Anyway thanks.-VC
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute