Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Filosofi-Rujak

victorc's picture

Teks: Yohanes 17:20-26

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. (Yoh. 17:22)


Shalom, selamat siang saudaraku yang terkasih. Kemarin kami berenam mengikuti sesi terakhir dari pelatihan bagi pelayan firman yang diadakan di gereja. Dalam latihan membawakan renungan, salah satu rekan mengangkat ilustrasi yang menarik tentang rujak dalam konteks oikumene.* Bagi saya, tema rujak menarik untuk dibahas tidak saja karena itu kuliner khas indonesia, tapi juga memuat filosofi yang cukup inspiratif tidak saja untuk menghayati oikumene antar gereja namun juga untuk menghayati kebhinekaan. Memang sudah ada film yang diangkat dari novel berjudul Filosofi Kopi, namun saya kira Filosofi Rujak juga sangat menarik untuk dibahas.

Filosofi rujak
Ada berbagai jenis rujak, ada rujak cingur (favorit saya), rujak buah atau rujak manis, juga ada rujak serut. Menu intinya adalah campuran buah, kadang sayur, ditambah dengan bumbu secukupnya.
Sejarah rujak berkaitan dengan tradisi di Jawa, berkaitan dengan doa untuk keselamatan bayi yang dikandung seorang ibu. Saat wanita sedang mengandung dan usia kandungannya telah mencapai tujuh bulan, masyarakat Jawa biasanya mengadakan suatu upacara kehamilan. Upacara tujuh bulanan ini selalu menyajikan beberapa jenis makanan, salah satunya rujak tujuh bulan atau dikenal dengan sebutan "rujakan". Rujak dalam bahasa Arab berarti "selamat." (1)
Buah-buahan yang digunakan dalam isi rujak juga terdiri dari tujuh macam jenis yaitu buah delima, jeruk bali, nanas, jambu air, bengkuang, pepaya, dan kedondong. Buah delima (disebut juga sebagai buah surga) yang menurut kaum Tionghoa buah delima itu adalah makanan “Dewa Langit” penguasa nirwana. Etnis Tionghoa dalam ritualnya akan selalu memburu buah delima kendati harganya selangit. Meskipun begitu, jika tidak lengkap pun tidak apa-apa. Konon setiap buah yang digunakan untuk acara tujuh bulanan ini memiliki mitos tersendiri untuk menyempurnakan bayi dalam kandungannya agar terlahir sempurna. Antara lain buah delima agar bayi dalam kandungannya nanti memiliki bibir yang merah dan bengkuang agar bayi dalam kandungannya memiliki kulit yang putih bersih. Rasa rujak tujuh bulan ini ternyata memiliki pertanda tentang jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungannya. Konon bila rasa rujak ini manis maka jenis kelamin dalam kandungannya adalah perempuan, namun bila rasa rujak ini pedas maka bayi dalam kandungannya adalah laki-laki.(1)

Rujak dan kebhinnekaan
Meski cukup menarik untuk dikupas, tapi di sini saya tidak akan membahas filosofi soto (3) atau filosofi kopinya Dee Lestari (4). Saya juga tidak akan menggunakan pendekatan filosofis seperti Ludwig Wittgenstein dll. (5).
Mari kita mulai. Rujak menarik untuk dikupas sebagai analogi dari kebhinekaan dan juga oikumene, karena ada nuansa rasa yang unik. Misalnya rujak cingur, rasa setiap unsur yang tercampur masih cukup terasa, namun ada bumbu petis yang menyatukan mereka menjadi sebuah masakan yang khas Indonesia.
Pada hemat saya, setidaknya ada 3 hal yang mesti diingat dalam diskusi apapun tentang oikumenene dan kebhinekaan, yaitu: identitas, toleransi, dan kemajemukan.
- identitas: artinya setiap gereja (dalam konteks oikumene) perlu untuk tetap mengembangkan dan mengenali jatidirinya. Jadi tidak usah disama-samakan atau dibandingkan antara tradisi atau tager dari GPIB dan GKJW misalnya. Masing-masing memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, seperti rasa dan tekstur dari rujak manis. Demikian pula dalam menjalin kebhinekaan, setiap elemen kebangsaan termasuk setiap etnis, suku dan agama perlu tetap mengenali jatidirinya, jadi bukan melebur dalam komunalisme.
- toleransi: sekalipun demikian, dalam perjumpaan menjadi bangsa, setiap elemen tersebut perlu mengembangkan toleransi (tepo seliro), artinya menghormati perbedaan. Indahnya perbedaan justru nampak misalnya dalam suasana kekeluargaan yang terasa ketika syukuran atau selamatan di tiap rt atau kelurahan pada hari-hari tertentu misalnya saat 17-an.
- kemajemukan: hal ini tidak saja perlu dilagukan atau dipidatokan, namun juga perlu dihayati, dirawat dan dipupuk setiap hari. Ibaratnya sebuah taman akan menjadi indah jika pemiliknya setia merawat berbagai bunga, dan bukan bunga tertentu saja. Demikian pula rujakan baru akan menyenangkan kalau banyak teman yang kumpul dan saling bercanda. Walau ini makanan murah meriah namun nilai kebersamaannya sungguh tinggi, terutama jika disantap secara "bancakan."**

Penutup
Izinkan saya mengajak kita semua menjalin hubungan yang indah baik antar gereja maupun dalam membina kehidupan berbangsa yang sangat majemuk ini, dengan beraneka minat dan gaya hidup. Kiranya filosofi rujak dapat menjadi salah satu cerminan kebhinekaan yang harmonis dan saling melengkapi.
Sebagai catatan penutup, perlu dibedakan antara 5 hal berikut: keseragaman (uniformity), kesatuan (unity), keberagaman (diversity), disatukan (united), gabungan (union).
Ketika Yesus mendoakan agar murid-murid-Nya (gereja) hidup dalam kesatuan sama seperti Ia dan Bapa (Yoh. 17:22), tentu yang Ia maksudkan bukanlah kesatuan yang seragam, namun keragaman yang menyatu dan dipersatukan oleh Roh Kudus. Itulah makna sesungguhnya dari kebhinekaan.
Selamat menyongsong HUT NKRI!

Catatan:
* terimakasih untuk mbak Ririn atas ilustrasi rujaknya
** istilah bancakan sedang menjadi trend di kota kami, ada beberapa resto hingga hotel berbintang yang mengangkat cara bersantap bersama yang khas jawa ini.

Versi 1.0: 11 agustus 2017, pk. 12:48
VC

Referensi:
(1) http://gastroina.blogspot.co.id/2015/04/filosofi-rujakan.html
(2) https://prasetya.ub.ac.id/berita/Filosofi-Rujak-dalam-Menulis-1949-id.pdf
(3) Emonikova. Url: http://emonikova.web.id/filosofi-soto-dan-kebhinekaan-indonesia/
(4) https://www.goodreads.com/work/quotes/2095743-filosofi-kopi-kumpulan-cerita-dan-prosa-satu-dekade
(5) Hermanto. Membedah pemikiran Ludwig Wittgenstein tentang uniformity anf plurality. Url: http://www.ejournal-unisma.net/ojs/index.php/region/article/download/484/455

__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute