YLSA SABDA.org Blog SABDA SABDA Katalog

y-control's blog

y-control's picture

Dengekeun Aing

Semua orang BISA mendengar tapi tidak semua MAU mendengarkan. Konon, ketika James Cook mula-mula menjejakkan kakinya di Australia, ia heran melihat hewan yang seperti tikus raksasa tapi dapat berdiri di atas dua kaki dan memiliki kantung di perutnya. Ia pun bertanya pada seorang penduduk lokal Aborigin, apa nama binatang itu? Sayang, penduduk asli yang ditanya itu tidak tahu dan berkata dalam bahasa setempat “kan gar ru” (aku tidak tahu) sambil meninggalkan James Cook yang manggut-manggut. Cerita lain terjadi di Indonesia. Alkisah sekian abad lalu, seorang kapten kapal Eropa menanyakan nama sebuah gunung di selat Sunda pada seorang penduduk Betawi. Tapi sang kapten hanya mendapat jawaban singkat, “Kaga tau.” Tahukah Anda? Menurut legenda, demikianlah awal mula gunung itu disebut sebagai Krakatau!
y-control's picture

I Want My SS Back! (Bagian 4 - Tanggapan)

Bayangkan jika semua orang menjadi bisu. Maka, mau tidak mau kita akan berkomunikasi dengan tulisan. Bayangkan jika Anda tiba-tiba harus dikirim untuk tinggal di negara Russia, maka saya yakin setidak-tidaknya dalam beberapa tahun Anda akan lebih mahir berbahasa Russia daripada mahasiswa sastra Russia Unpad misalnya. Menulis memang tergantung niat.

y-control's picture

I Want My SS Back! (Bagian 3 - Blak-blakan)

Menghargai beda pendapat. Menghargai perbedaan. Dua sikap yang bagus. Tapi, kalau perbedaan itu dipakai untuk dibentur-benturkan, maka bagi saya tidak perlu lagi ada penghargaan bagi yang melakukannya. Saya oke saja jika ada orang lain yang berbeda dengan saya, kecuali jika perbedaan antara saya dan dia adalah bahwa saya menghargai dan dia membenci perbedaan itu. Memang paradoks.

y-control's picture

I Want My SS Back! (Bagian 2)

Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengahnya. Demikianlah kata pepatah. Bukan rahasia lagi kalau di Komunitas Blogger Kristen, Sabdaspace ini, ada beberapa blogger yang lebih didengarkan daripada yang lainnya. Satu hal yang menurut saya pasti terjadi di komunitas manapun, se-egaliter apapun sifat komunitas tersebut. Sejujurnya, hal ini sempat membuat saya tidak suka.

y-control's picture

I Want My SS Back! (Bagian 1)

 Cacing diinjak aja ngelawan, apalagi manusia. Entah itu 'menginjak' dengan sengaja atau tidak, jangan merasa tidak bersalah kalo ada (bahkan banyak) yang dirugikan akibat ulah Anda berjalan sembarangan. Sebenarnya itu adalah pengetahuan sangat mendasar tentang hidup bermasyarakat. Apapun yang Anda lakukan pasti ada dampaknya bagi yang lain. Ini bukan butterfly effect atau semacamnya.

y-control's picture

On Collecting, Hoarding, and Conserving (2)

Kumpul-mengumpul atau koleksi yang agak pantas disebut koleksi baru kulakukan saat kuliah. Waktu itu, aku mengumpulkan kaset pita. Kaset-kaset itu semuanya masih ada hingga kini. Mengapa kaset? Mengapa bukan CD atau MP3? Karena waktu itu aku belum punya komputer. Namun, meski aku mulai mengumpulkan kaset-kaset, aku sama sekali tidak ingin memiliki sebuah walkman. Sebenarnya, jika walkman, aku masih mampu mengusahakannya. Tapi, walkman saat itu juga sudah mulai ketinggalan zaman. Jadi, aku bertahan mendengarkan kaset itu hanya saat di kos, dengan tape saja. Berburu kaset ini adalah pengalaman mengasyikkan yang kalau saja ada waktu, mungkin masih akan kunikmati hingga kini. Tentu saja, berburu kaset tidak cukup dilakukan dengan membeli di DiscTarra, Aquarius, distro, atau toko kaset. Yang lebih mengasyikkan adalah berburu kaset bekas. 
y-control's picture

On Collecting, Hoarding, and Conserving (1)

Barangkali karena aku adalah anak rumahan. Barangkali karena aku ini anak bungsu sehingga terbiasa tidak perlu memberi lungsuran kepada saudara yang lain. Barangkali karena semua saudaraku adalah perempuan, maka sejak kecil barang-barang dan mainanku memang hanya milikku dan aku terbiasa menyimpannya untuk diriku sendiri. Barangkali karena di pekerjaan pertama, salah satu tugasku adalah mengumpulkan dan mensortir berbagai artikel. Entah apa alasannya, aku hanya ingin bilang bahwa yang namanya mengumpulkan sesuatu adalah salah satu kegiatan yang paling kunikmati. 

y-control's picture

Profesor yang Membakar Buku

Kata Demi Kata Mengantarkan fantasi, Habis Sudah
Bait Demi Bait Pemicu Anestesi, Hangus Sudah
- Efek Rumah Kaca - Jangan Bakar Buku
 
"Where they have burned books,
they will end in burning human beings."
Heinrich Heine
y-control's picture

Last Call Duration: 00:00:01

(Thanks to Melody Club)
 
Jempol menempel di tombol. Semua sudah direncanakan matang, aku yakin aku bisa mengontrol semua kata yang akan kuucapkan. Beberapa topik bahan pembicaraan telah rapi tersusun dalam pikiran, aku yakin kali ini tidak akan jadi konyol. Kalimat-kalimat apik telah kulatih untuk kuucapkan dengan suara dan lafal yang yang jelas dan tepat.

y-control's picture

In Cold Blood

Aku tidak terlalu akrab dengan nama Truman Capote sebelumnya. Dulu, di kampus memang pernah diadakan pementasan teater berjudul Breakfast At Tiffany. Itu terjadi pada saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Di masa itu, yang kutahu adalah teater merupakan salah satu mata kuliah atau kegiatan ekstra para mahasiswa di jurusanku. Tidak terlalu berminat. Aku tidak menonton pementasan tersebut. Jika kemudian aku memilih menonton film tersebut, yang membuatku tertarik adalah review dan penghargaan Oscar yang diterima Phillip Seymour Hoffman. Ya, dalam memilih sebuah film, aku memang kadang terlalu menghamba pada gambar piala atau tulisan-tulisan di depan sampul VCD/DVD seperti itu. Sebuah kebiasaan yang meski bikin aku jijik, tapi sejauh ini jarang membuatku kecewa.
y-control's picture

Keep It Simple

Ada sebuah anekdot. Dahulu, para astronot NASA dikabarkan mengalami kesulitan dalam membuat laporan misi angkasa mereka. Pasalnya, gaya gravitasi nol di angkasa membuat tinta pulpen mereka tidak mau turun sehingga pulpennya macet.

y-control's picture

Akar Pahit

Sebuah pepatah mengatakan, “seberapa lamapun Anda merawat kepahitan, ia tidak akan pernah membaik.” Semakin lama kepahitan dibiarkan, kepahitan justru akan berakar menjadi akar pahit alias dendam.

y-control's picture

Stockholm Syndrome

23 Agustus 1973, bank Kreditbanken di kota Stockholm, Swedia dirampok dan para karyawannya disandera selama 5 hari oleh perampok. Namun, anehnya, saat penyanderaan itu diakhiri dan para perampoknya ditangkap oleh polisi, para sandera justru membela mereka. Rupanya, 5 hari yang mereka alami bersama perampok itu telah menciptakan sebuah hubungan simpati khusus di hati para sandera.

y-control's picture

Dua Legenda

kuburan purwoloyo

disini terbaring
mbok cip
yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya
 
di sini terbaring
pak pin
yang mati terkejut
karena rumahnya digusur
 
di tanah ini terkubur orang-orang yang
sepanjang hidupnya memburuh
terhisap dan menanggung hutang
 
di sini
gali-gali
tukang becak
orang-orang kampung
yang berjasa dalam setiap pemilu
terbaring
dan keadilan masih saja hanya janji
 
di sini kubaca kembali:
sejarah kita belum berubah!
 
Wiji Thukul
Jagalan, Kalangan
Solo, 25 Oktober 1988
y-control's picture

The Prita Story

"During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act", demikian kata George Orwell. Apakah kita sudah berada di negara di mana deceit (kebohongan) sudah menjadi sedemikian universal? Barangkali iya. Adalah Prita Mulyasari, ibu rumah tangga dua anak yang hari ini berbagi berita dengan Manohara dan kapal perang diraja Malaysia, dengan selingan, tentu saja para capres-cawapres. Merasa mendapat pelayanan yang buruk, diagnosa keliru yang mengarah malapraktik dari RS Omni International, Prita menuliskan keluh kesahnya di sebuah milis. Tapi, alih-alih melakukan klarifikasi, pihak rumah sakit memilih menggunakan kekuasaannya yang diuntungkan oleh sebuah UU aneh bernama UU ITE untuk membalas dendam pada si ibu yang juga blogger ini. Prita pun mereka laporkan dan polisi menangkapnya berbekal delik pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman hingga 6 tahun penjara atau denda 1 milyar rupiah. Semua orang sama di mata hukum sehingga tidak ada alasan untuk mempertimbangkan salah satu anaknya yang masih menyusui dan membutuhkan keberadaan sang ibu di sisinya.

y-control's picture

Dalih Pembunuhan Massal

Di hari yang diperingati sebagai hari lahir Pancasila, tidak ada salahnya mengapresiasi sebuah buku tentang kejadian yang oleh pemerintahan Orde Baru dijadikan bahan untuk membangun mitos Kesaktian Pancasila.
 
Gerakan 30 September 1965 adalah sebuah gerakan yang dilakukan anggota TNI berhaluan kiri dan yang pro Sukarno dengan didukung beberapa petinggi PKI (termasuk D.N. Aidit) dan diketuai antara lain oleh Sjam alias Kamaruzaman (ketua Biro Chusus, badan rahasia PKI untuk menyusup di militer) yang berencana menculik para perwira petinggi Angkatan Darat berhaluan kanan yang pro Amerika, menghadapkan mereka pada Sukarno agar presiden memecat mereka. Definisi di atas jelas belum lengkap. Masih cukup banyak hal yang dikemukakan oleh buku ini sehubungan dengan kejadian yang sebenarnya kecil, tapi membawa dampak yang sangat besar bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia ini. Buku yang versi Indonesianya diterbitkan pada 2008 dan dikabarkan sedang diteliti oleh Kejaksaan Agung tentang perlu tidaknya dilarang ini memang hanya satu dari banyak buku lain yang membahas tentang gerakan yang oleh Sukarno disebut sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober), oleh pemerintahan Suharto disebut Gestapu (Gerakan September Tigapuluh, plesetan dari Gestapo yaitu nama pasukan Nazi) dan oleh buku pelajaran disebut G 30 S/PKI. 
 
y-control's picture

Heavier than Heaven

Yah, mungkin penggemar dan pembenci Kurt Cobain, sepanjang yang bisa dilihat di Youtube, forum-forum diskusi, atau berbagai blog di internet adalah sama besarnya. Tapi barangkali agak beda di Indonesia. Aku jarang melihat posting atau komentar berbahasa Indonesia yang menganggap Cobain sebagai sekadar pecandu narkoba yang menciptakan lagu-lagu pop bodoh, bahwa lirik yang ia tulis juga bodoh, atau bahkan belum ketemu tulisan (bukan omongan) yang anti Cobain dan Nirvana karena mereka itu hanya produk ciptaan MTV dan bagian dari scene musik Amerika yang suka berlebihan. Jarang atau mungkin belum pernah juga aku melihat tulisan yang menuduh Courtney Love membunuh Cobain. Aku akan gembira jika itu adalah bukti orang Indonesia lebih dewasa dari pers atau penggemar musik di Amerika yang seolah menganggap kehidupan Cobain itu seperti acara televisi. Tapi, sepertinya tidak juga. Sepertinya hanya karena orang-orang Indonesia yang mengalami zaman Nirvana berjaya hanya merasa sebagai tangan ketiga atau bahkan kelima dari hingar bingar gosip MTV (maklum waktu itu belum ada internet). Walaupun saat ini demam grunge mulai marak, tapi pelakunya aku lihat adalah anak generasi 2000, yang malah adalah tangan ke tujuh atau ke sembilan.

y-control's picture

Cinta Dulu atau Cocok Dulu

Ketika Gandari (versi Mahabharata India) rela menutup matanya dengan kain demi menemani Destarata, suaminya yang buta, mungkin itulah wujud nyata dari istilah cinta itu buta. Tapi, ironisnya, cinta itu buta justru cukup sering berawal dari indera penglihatan.

y-control's picture

Anak Bajang Menggiring Angin

Kisah Ramayana memang sudah sangat dikenal terutama oleh orang Jawa. Sementara aku sendiri hanya tahu beberapa garis besarnya. Bahwa cerita itu tentang Rahwana yang bermuka sepuluh menculik Sinta. Sementara Sinta yang jadi eksil di hutan karena mengikuti Rama yang juga diikuti Lesmana, tertangkap Rahwana karena tidak mau menurut untuk terus berada di dalam lingkaran (cerita yang juga ada di kisah Sun Go Kong). Bahwa dalam usaha merebut Sinta itu, Rama dibantu oleh kera Anoman yang sempat membakar Alengka dengan ekornya. Bahwa setelah Sinta bisa didapatkan kembali, ternyata Rama ragu akan kesucian Sinta sehingga ia menyuruh supaya Sinta membuktikannya dengan masuk ke api, jika terbakar berarti tidak suci, tapi kalau tidak apa-apa berarti suci, masih belum diapa-apakan Rahwana. Tapi membaca buku karya Romo Sindhunata ini, aku baru sadar bahwa ada begitu banyak filosofi tentang cinta dan tentu saja fatalisme (yang di buku-buku karya orang asing disebut adalah ciri/karakter orang Jawa) di kisah itu.

y-control's picture

Epileptik

Aku tahu dia adalah anak penghuni rumah di ujung jalan itu. Sewaktu kecil aku beberapa kali ke sana karena si nyonya rumah adalah teman ibuku. Sudah belasan tahun berlalu, banyak kabar tentang penghuni rumah itu. Kini, satu persatu anak si nyonya, seorang wanita berusia sekitar 60an tahun dengan wajah mongoloid dan kacamata yang dipasang melorot, sudah tidak tinggal di situ. Tuan rumah itu sendiri sudah lama meninggal. Kini, hanya ada si nyonya bersama satu putranya tinggal di situ. Dan satu kali, kulihat ia terbaring di jalan raya. Semula aku mengira dia orang gila. Tapi pakaian yang ia kenakan bersih dan rapi. Tak ada yang tampak kaget atau heran dengan pemandangan itu. Tidak ada juga yang memberi pertolongan. Seorang ibu yang tinggal di depan rumah itu tenang saja. Ia bilang, "biarkan saja, dia memang sudah sering seperti itu."