Dalam sebuah tulisan, judul tentu saja penting. Hanya saja, kadang kurang diperhatikan. Idealnya, judul memang harus bisa memberi tahu apa kira-kira isi dari sebuah tulisan. Tapi, dalam karangan populer (saya rasa kita semua ingin tulisan blog kita dibaca banyak orang alias populer kan?), judul tulisan tentu saja tidak bisa seperti judul skripsi yang kalau dibaca tidak cukup dengan sekali ambil nafas itu. Memberi judul memang gampang-gampang susah. Gampang karena toh itu cuma seperti membuat beberapa kata yang isinya merangkum semua isi tulisan. Tapi, bisa susah kalo kita menyadari bahwa judul harusnya bukan sekadar sebagai penanda, tapi juga memberi informasi dan yang lebih penting lagi, membuat orang tertarik buat membacanya. Bagi beberapa penulis dan editor (fyi: di dunia penerbitan, beberapa judul buku sebenarnya adalah bikinan si editor, bukan si penulis, bahkan buku terjemahan, mis: 24 Wajah Billy yang aslinya berjudul The Minds of Billy Milligan), memberi judul sebuah tulisan (apalagi sebuah buku) bisa jadi seperti memberi nama anak sendiri.
y-control's blog
11 Kejadian di Dunia Musik yang Mungkin Anda Belum Tahu (1)
Rosihan Anwar pernah menulis buku berjudul Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia. Saya sih belum baca. Tapi, saya suka judulnya. Kadang, hal-hal kecil atau yang sering disebut trivia itu lebih menyenangkan daripada membaca hal-hal besar. Beda dengan infotainment yang mengurusi hal-hal kecil, menurut saya trivia lebih menyenangkan karena biasanya mencakup hal besar tapi mungkin tidak dipikirkan orang. Kali ini saya coba bikin trivia dunia musik. Entah yang seperti ini cocok diposting di SS atau tidak, biarin dah buat selingan.
- 3 Komentar
- baca selanjutnya
- 727 kali dibaca
Dengekeun Aing
- 2 Komentar
- baca selanjutnya
- 409 kali dibaca
I Want My SS Back! (Bagian 4 - Tanggapan)
Bayangkan jika semua orang menjadi bisu. Maka, mau tidak mau kita akan berkomunikasi dengan tulisan. Bayangkan jika Anda tiba-tiba harus dikirim untuk tinggal di negara Russia, maka saya yakin setidak-tidaknya dalam beberapa tahun Anda akan lebih mahir berbahasa Russia daripada mahasiswa sastra Russia Unpad misalnya. Menulis memang tergantung niat.
- 5 Komentar
- baca selanjutnya
- 395 kali dibaca
I Want My SS Back! (Bagian 3 - Blak-blakan)
Menghargai beda pendapat. Menghargai perbedaan. Dua sikap yang bagus. Tapi, kalau perbedaan itu dipakai untuk dibentur-benturkan, maka bagi saya tidak perlu lagi ada penghargaan bagi yang melakukannya. Saya oke saja jika ada orang lain yang berbeda dengan saya, kecuali jika perbedaan antara saya dan dia adalah bahwa saya menghargai dan dia membenci perbedaan itu. Memang paradoks.
- 6 Komentar
- baca selanjutnya
- 396 kali dibaca
I Want My SS Back! (Bagian 2)
Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengahnya. Demikianlah kata pepatah. Bukan rahasia lagi kalau di Komunitas Blogger Kristen, Sabdaspace ini, ada beberapa blogger yang lebih didengarkan daripada yang lainnya. Satu hal yang menurut saya pasti terjadi di komunitas manapun, se-egaliter apapun sifat komunitas tersebut. Sejujurnya, hal ini sempat membuat saya tidak suka.
- 3 Komentar
- baca selanjutnya
- 386 kali dibaca
I Want My SS Back! (Bagian 1)
Cacing diinjak aja ngelawan, apalagi manusia. Entah itu 'menginjak' dengan sengaja atau tidak, jangan merasa tidak bersalah kalo ada (bahkan banyak) yang dirugikan akibat ulah Anda berjalan sembarangan. Sebenarnya itu adalah pengetahuan sangat mendasar tentang hidup bermasyarakat. Apapun yang Anda lakukan pasti ada dampaknya bagi yang lain. Ini bukan butterfly effect atau semacamnya.
- 2 Komentar
- baca selanjutnya
- 344 kali dibaca
On Collecting, Hoarding, and Conserving (2)
- 2 Komentar
- baca selanjutnya
- 549 kali dibaca
On Collecting, Hoarding, and Conserving (1)
Barangkali karena aku adalah anak rumahan. Barangkali karena aku ini anak bungsu sehingga terbiasa tidak perlu memberi lungsuran kepada saudara yang lain. Barangkali karena semua saudaraku adalah perempuan, maka sejak kecil barang-barang dan mainanku memang hanya milikku dan aku terbiasa menyimpannya untuk diriku sendiri. Barangkali karena di pekerjaan pertama, salah satu tugasku adalah mengumpulkan dan mensortir berbagai artikel. Entah apa alasannya, aku hanya ingin bilang bahwa yang namanya mengumpulkan sesuatu adalah salah satu kegiatan yang paling kunikmati.
- 1 komentar
- baca selanjutnya
- 351 kali dibaca
Profesor yang Membakar Buku
- baca selanjutnya
- 660 kali dibaca
Last Call Duration: 00:00:01
- 5 Komentar
- baca selanjutnya
- 431 kali dibaca
In Cold Blood
Aku tidak terlalu akrab dengan nama Truman Capote sebelumnya. Dulu, di kampus memang pernah diadakan pementasan teater berjudul Breakfast At Tiffany. Itu terjadi pada saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Di masa itu, yang kutahu adalah teater merupakan salah satu mata kuliah atau kegiatan ekstra para mahasiswa di jurusanku. Tidak terlalu berminat. Aku tidak menonton pementasan tersebut. Jika kemudian aku memilih menonton film tersebut, yang membuatku tertarik adalah review dan penghargaan Oscar yang diterima Phillip Seymour Hoffman. Ya, dalam memilih sebuah film, aku memang kadang terlalu menghamba pada gambar piala atau tulisan-tulisan di depan sampul VCD/DVD seperti itu. Sebuah kebiasaan yang meski bikin aku jijik, tapi sejauh ini jarang membuatku kecewa.- 5 Komentar
- baca selanjutnya
- 648 kali dibaca
Keep It Simple
Ada sebuah anekdot. Dahulu, para astronot NASA dikabarkan mengalami kesulitan dalam membuat laporan misi angkasa mereka. Pasalnya, gaya gravitasi nol di angkasa membuat tinta pulpen mereka tidak mau turun sehingga pulpennya macet.
- 21 Komentar
- baca selanjutnya
- 690 kali dibaca
Akar Pahit
Sebuah pepatah mengatakan, “seberapa lamapun Anda merawat kepahitan, ia tidak akan pernah membaik.” Semakin lama kepahitan dibiarkan, kepahitan justru akan berakar menjadi akar pahit alias dendam.
- 4 Komentar
- baca selanjutnya
- 706 kali dibaca
Stockholm Syndrome
23 Agustus 1973, bank Kreditbanken di kota Stockholm, Swedia dirampok dan para karyawannya disandera selama 5 hari oleh perampok. Namun, anehnya, saat penyanderaan itu diakhiri dan para perampoknya ditangkap oleh polisi, para sandera justru membela mereka. Rupanya, 5 hari yang mereka alami bersama perampok itu telah menciptakan sebuah hubungan simpati khusus di hati para sandera.
- 1 komentar
- baca selanjutnya
- 526 kali dibaca
Dua Legenda
kuburan purwoloyo
- 10 Komentar
- baca selanjutnya
- 658 kali dibaca
The Prita Story
"During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act", demikian kata George Orwell. Apakah kita sudah berada di negara di mana deceit (kebohongan) sudah menjadi sedemikian universal? Barangkali iya. Adalah Prita Mulyasari, ibu rumah tangga dua anak yang hari ini berbagi berita dengan Manohara dan kapal perang diraja Malaysia, dengan selingan, tentu saja para capres-cawapres. Merasa mendapat pelayanan yang buruk, diagnosa keliru yang mengarah malapraktik dari RS Omni International, Prita menuliskan keluh kesahnya di sebuah milis. Tapi, alih-alih melakukan klarifikasi, pihak rumah sakit memilih menggunakan kekuasaannya yang diuntungkan oleh sebuah UU aneh bernama UU ITE untuk membalas dendam pada si ibu yang juga blogger ini. Prita pun mereka laporkan dan polisi menangkapnya berbekal delik pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman hingga 6 tahun penjara atau denda 1 milyar rupiah. Semua orang sama di mata hukum sehingga tidak ada alasan untuk mempertimbangkan salah satu anaknya yang masih menyusui dan membutuhkan keberadaan sang ibu di sisinya.
- 24 Komentar
- baca selanjutnya
- 885 kali dibaca
Dalih Pembunuhan Massal
Di hari yang diperingati sebagai hari lahir Pancasila, tidak ada salahnya mengapresiasi sebuah buku tentang kejadian yang oleh pemerintahan Orde Baru dijadikan bahan untuk membangun mitos Kesaktian Pancasila.- 5 Komentar
- baca selanjutnya
- 2013 kali dibaca
Heavier than Heaven
Yah, mungkin penggemar dan pembenci Kurt Cobain, sepanjang yang bisa dilihat di Youtube, forum-forum diskusi, atau berbagai blog di internet adalah sama besarnya. Tapi barangkali agak beda di Indonesia. Aku jarang melihat posting atau komentar berbahasa Indonesia yang menganggap Cobain sebagai sekadar pecandu narkoba yang menciptakan lagu-lagu pop bodoh, bahwa lirik yang ia tulis juga bodoh, atau bahkan belum ketemu tulisan (bukan omongan) yang anti Cobain dan Nirvana karena mereka itu hanya produk ciptaan MTV dan bagian dari scene musik Amerika yang suka berlebihan. Jarang atau mungkin belum pernah juga aku melihat tulisan yang menuduh Courtney Love membunuh Cobain. Aku akan gembira jika itu adalah bukti orang Indonesia lebih dewasa dari pers atau penggemar musik di Amerika yang seolah menganggap kehidupan Cobain itu seperti acara televisi. Tapi, sepertinya tidak juga. Sepertinya hanya karena orang-orang Indonesia yang mengalami zaman Nirvana berjaya hanya merasa sebagai tangan ketiga atau bahkan kelima dari hingar bingar gosip MTV (maklum waktu itu belum ada internet). Walaupun saat ini demam grunge mulai marak, tapi pelakunya aku lihat adalah anak generasi 2000, yang malah adalah tangan ke tujuh atau ke sembilan.
- 12 Komentar
- baca selanjutnya
- 762 kali dibaca
Cinta Dulu atau Cocok Dulu
Ketika Gandari (versi Mahabharata India) rela menutup matanya dengan kain demi menemani Destarata, suaminya yang buta, mungkin itulah wujud nyata dari istilah cinta itu buta. Tapi, ironisnya, cinta itu buta justru cukup sering berawal dari indera penglihatan.
- 7 Komentar
- baca selanjutnya
- 759 kali dibaca

